Kinerja Pemkot Langsa “Seum-Seum Eek Manoek”

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, LANGSA –  Pemuda di Kota Langsa yang akrab disapa Tfa menilai, tidak ada perubahan berarti pada wajah kota Langsa. “Hanya saja secara kasat mata kita bisa melihat adanya penanaman pohon hias di halaman pertokoan dan dimalam hari kita lihat ada lampu led yang menghiasi beberapa pohon di sepenggal Jalan A Yani, sehingga menambah menterengnya Kota Langsa di malam hari,” ungkap Tfa.

Selain itu, kata dia, ada juga pembuatan taman di atas saluran atau parit di seputaran pusat kota Langsa. “Sementara yang nampak lebih mencolok adalah baleho – baleho besar yang kerap memampang wajah  Wali Kota dan Wakil Wali Kota bersama para istri – istri mereka pada setiap momentum penting, misalnya baleho olah raga mahal balap mobil,” sebut  pemuda Langsa.

Warga kota Langsa lainnya YS menilai, sangat ironi melihat masyarakat kota Langsa yang semakin hari semakin terpuruk akibat tidak adanya kegiatan yang bertujuan untuk mensejahtrakan rakyat. “Jangankan di Gampong, di kota pun tidak nampak ada pembangunan, semua penbangunan yang belangsung saat ini seperti bangunan pajak ( Langsa Squer) dan lainya itu merupakan lanjutan karya Bapak Drs Zulkifli Zainun (alm) semasa beliau Wali Kota dulu,” ungkapnya.

Ia pun menyebutkan bahwa terkait saluran, kondisinya masih kumuh. “Seperti saluran tersier di seputaran Pendapa Wali Kota Langsa, hampir semuanya kumuh dan tidak sedap dipandang. Secara kasat mata parit-parit kecil itu ada di depan mata Wali Kota Langsa yang setiap harinya beliau lewati, namun sampai hari ini belum juga ada perbaikan,” ungkap dia. 

Menurut warga tadi, pada masa-masa awal menjabat Wali Kota, yang bersangkutan kerap turun ke lapangan sampai melakukan korek paret. “Namun ternyata kegiatan tersebut hanya sebatas  pencitraan dan hanya panas-panas tahi ayam atau dalam bahasa Aceh dikenal istilah ‘Seum – Seum  Ek Manok,”  sindirnya.

Lebih lanjut YS menuturkan, semenjak Usman Abdullah menjadi Wali Kota Langsa, kota Langsa tidak ada prestasi apapun yang membanggakan. “Baik itu bidang pendidikan, agama, politik, maupun ekonomi, apalagi di bidang kesehatan. Sangat ironi, banyak bayi-bayi lahir meninggal di tempat.”

Ia menandaskan, ‎ kebijakan pelaksanaan pembangunan tidak terintegrasi pada pola regulasi  UU Nomor 25 Thn 2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional, serta PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan Pengendalaian dan  Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, yang terangkum pada e-Musrembang, e-Budgeting dan terakumulasi pada RPJS, RPJM, RPJP, pada setiap Tahun Anggaran.  (Alam)

(dibaca 1295 X)

None found.