Assegaf Mensinyalir Ada Penyokong Dibalik Sikap Warga

| Share on Facebook
Syarif Mahmud Abdurahman Assegaf Didampingi Kuasa Hukumnya saat menggelar konpres di Kartika Hotel Pontianak (foto:novi)

Syarif Mahmud Abdurahman Assegaf Didampingi Kuasa Hukumnya saat menggelar konpres di Kartika Hotel Pontianak (foto:novi)

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Tim Kuasa hukum Syarif Mahmud Abdurahman Assegaf, Rudi Priyanto, S.H. dan Christof H Purba menepis pemberitaan sejumlah media masa yang mepublikasi tanah milik kliennya yang terletak di Jalan Tanjungpura, Gang Taha II Pontianak ada sengketa. “Faktanya, sengketa itu sudah selesai tahun 2005 silam. Jadi, ini yang memberi harapan kepada mereka untuk tetap bertahan dan  kalau dibiarkan bahaya. Kami keberatan dengan kata-kata ada sengketa’. Kami tegaskan,  yang ada itu sekarang ada warga secara liar mendiami tanah itu tanpa ijin. Itu masalahnya,” tukas Rudi Priyanto saat menggelar konferensi pers di Kartika Hotel, Rabu, 06 November 2013.

Menurut Rudi, pihaknya sudah memberikan waktu kepada warga penghuni untuk berkoordinasi namun tidak ada yang datang. “Kita sudah memberikan waktu 1 bulan lebih, tidak ada satupun yang datang, tetapi dengan sembunyi-sembunyi mereka meninggalkan lokasi itu, sekitar 20 an orang lah, jadi sudah banyak yang kosong. Katanya mereka mengungsi, tapi faktanya mereka pakai mobil terus pesta bakar ikan di sana. Itu ngungsi yang sangat mewah sekali,” bebernya.

Mengenai Plank pintu, jelas Rudi, apabila warga yang sudah pergi mengosongkan rumah, maka pintunya akan di plank. “Orangnya sudah kosong, kita plank. Kalau tidak diplank mereka masukan orang lain lagi,” kata dia. “Untuk data pastinya ada di Ketua RT.  Sempai sekarang tidak bisa ditemui,  Pak RT tidak mau memberi datanya, tapi sekarang yang kosong sudah 21, jadi tinggal 28 yang amasih ada penghuninya,” imbuhnya.

Pemilik tanah, Syarif Mahmud Assegaf juga membenarkan warga yang mengungsi hanya pagi hingga siang hari saja. “Bile sore atau malam balek. Kita lihat dalam gambar dan ada juga orang kita yang ngecek ke sana,” ungkap Assegaf.

Ia pun mengindikasi ada pihak sponsor yang berada dibalik sikap warga yang enggan meninggalkan tanah miliknya itu. “Masa’ pengungsi bakar-bakar ikan, mewah lagi 25 kilo, luar biasa. Itu pengungsi intelektual, jadi kita curiga ada yang menyokong, ada yang memprovokasi, ada penggeraknya,” curiga Assegaf.

Untuk itu, ia pun meminta aparat kepolisian untuk segera mengambil tindakan tegas guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Kita sudah mengirimkan surat ke Kapolda dan Kapolres. Kami khawatir terjadinya gesekan, karena Kalbar ini rawan benturan. Inilah yang kita minta kepada Aparat,” tandasnya. (novi)

(dibaca 853 X)