Bos Naga Mas Motor Diduga Lecehkan Karyawan, Buat Laporan Polisi Malah Ditolak

| Share on Facebook
IMG-20160802-WA0001

Ist

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Kasus pelecehan ditempat kerja dengan didahului percobaan tindak pidana penganiayaanPolisi Maen Hajar' ARKB Tuntut Tanggungjawab Kapolda. Lanjut Baca ... » yang diduga dilakukan oleh HWN Bos Dealer Honda Naga Mas Motor Honda Pontianak yang teretak di pertigaan Jl. KH Ahmad Dahlan – Teuku Umar terhadap salah satu karyawannya AY, saat dilaporkan ke Polresta PontianakPolresta Pontianak Gelar Perkara 332 Kasus. Lanjut Baca ... », malah ditolak polisi.

Berikut kronologis kejadian yang diungkap korban AY kepada sejumlah wartawan :

“Pada tanggal 29 Juli 2016 lalu bertempat di Dealer Honda Naga Mas Motor, kejadian malam hari sekitar Pk 18.30 Wib,  posisi HWN sedang menjelaskan tentang oli kepada karyawan (mekanik) dan saya berada di lantai 2. Saat itu tiba – tiba Bapak (HWN) memanggil Sales Counter untuk turun, termasuk saya,” ujar AY.

Pada saat itu, lanjut AY, dirinya berdiri di depan HWN. “Pak HWN lalu memanggil saya dan menarik tali ID Card yang tergantung di leher saya untuk berada di samping dia. Setelah itu dia kembali melanjutkan penjelasan tentang oli, tidak lama kemudian, semua karyawan termasuk admin, sales counter, mekanik bengkel, kepala mekanik, kepala marketing, kepala admin dan PIC CRM.”

“Setelah itu, dia melontarkan pertanyaan kepada saya tetapi jawaban saya tidak menjawab pertanyaan dia, dan dia berkomentar, kayak gini saja bisa jadi juara kontes, saya rasa jurinya bodoh dan mungkin jurinya menilai melihat dari bodinya,” kata AY menirukan ucapan HWN seperti dengan nada melecehkan di hadapan seluruh karyawan.

Kemudian HWN melanjutkan, “saya ada membelikan 5 baju batik untuk karyawan saya (admin dan sales counter) saat saya beli baju ini saya bilang sama penjualnya, Mbak tolong carikan satu baju yang ukuran besar, karena satu karyawan saya itu badannya besar, s*s*nya besar,  dan ternyata dengan nada melecehkan sambil tertawa di hadapan seluruh karyawan Naga Mas Motor.”

Bahkan, menurut penuturan AY, sebelumnya tanggal 28 Juli 2016, pada saat itu dirinya sedang presentasi dan membacakan kalimat motivasi ‘Kebencian hanya merugikan diri sendiri, tersenyumlah saat disakiti hati  tanpa benci membentuk jiwa yang tegar dan damai’.

“Mendengar kalimat saya itu dia (HWN) berkomentar dan menyimpulkan sendiri kalimat saya itu dan mengibaratkan ‘apabila seorang menampar pipi kirimu dan berikan pipi kanan mu“, dan dia langsung akan mempraktekkan itu ke wajah saya, tetapi dengan cepat saya menangkis tangannya,” ungkapnya.

Sebelumnya, kata AY, beberapa bulan yang lalu HWN pernah mempraktekan pukulan itu (tamparan) kepada dirinya. “Katanya, anak dia (anak HWN red) pernah menampar dirinya seperti itu. Dengan lancangnya dia meprakatekkan tamparan seperti itu dengan sangat keras (bertenaga) mengenai wajah saya sampai memerah tanpa ada kata maaf dan lebih parah lagi tamparan itu dilakukan di depan semua karyawannya,” kenang AY.

“Lanjut pada tanggal 30 Juli 2016, HWN kembali mengulangi perkataannya kepada saya, bahwa saya kayak gini aja bisa menjadi juara kontes. Saya rasa jurinya bodoh dan mungkin jurinya menilai melihat dari bodinya,” ulas AY mengulangi bahasa yang dikeluarkan HWN terhadap dirinya dengan nada menghina di hadapan seluruh karyawan.

“Atas kejadian tersebut, saya merasa ketakutan, terancam, dilecehkan dan teraniaya, untuk itu saya mohon keadilan yang seadil – adilnya,” harap AY.

Bermaksud untuk mencari keadilan atas kejadian yang menimpa dirinya dengan melaporkan hal tersebut ke aparat penegak hukum, justeru yang terjadi malah sebaliknya. Sebagaimana diungkap keluarga AY yang mendampingi, ketika pihaknya akan melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Pontianak, pihak kepolisian malah menolak laporan dengan alasan yang tidak masuk akal.

Sebab, tanpa menerima laporan terlebih dahulu kemudian melakukan proses penyelidikan terhadap kebenaran laporan dan apakah laporan tersebut masuk kategori tindak pidana atau bukan, penyidik Polresta Pontianak langsung mementahkan laporan korban dan menganjurkan membuat pengaduan saja. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan salah satu aparat Polresta Pontianak yang mendatangi Dealer Honda Naga Mas Motor Pontianak pada Selasa (02/08) sore, ketika pihak keluarga dan sejumlah wartawan mengklarifikasi pihak dealer Honda Naga Mas Motor.

“Laporannya tidak memenuhi unsur pidana, jadi tidak bisa. Jadi kita suruh buat pengaduan saja, kita di kepolisian ada mekanisme dan prosedur sendiri, kita bekerja secara profesional, ” ujar AD anggota Polresta Pontianak menjelaskan di hadapan pihak keluarga korban dan para wartawan.

Namun, pernyataan yang disampaikan oleh anggota Polresta tersebut secara nyata bertentangan dengan mekanisme yang diatur dalam Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) maupun yang secara tegas diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, dan Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Tindak Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Repubik Indonesia, Pasal 8 ayat (1) “Setiap laporan dan/atau pengaduan yang disampaikan oleh seseorang secara lisan atau tertulis, karena hak atau kewajibannya berdasarkan undang-undang, wajib diterima oleh anggota Polri yang bertugas di SPK.”

Berkenaan dengan penolakan laporan tersebut, Kapolresta PontianakPolresta Pontianak Gelar Perkara 332 Kasus. Lanjut Baca ... » Kombes Pol Iwan Imam Susilo ketika dikonfirmasi wartawan melalui Nomor WA nya, memberikan apresiasi dan berjanji akan bekerja secara profesional. “Terimakasih informasinya, saya sudah tekankan ke Kasat ReskrimPolresta Pontianak Gelar Perkara 332 Kasus. Lanjut Baca ... » untuk mengecek kebenarannya dan saya tekankan agar bekerja secara profesional dan transparan. Silahkan melaporkan kembali dan dari pendalaman laporan saya minta untuk digelar,” tegas Kapolresta Kombes Pol Iwan Imam melalui WAnya kepada LensaKapuas.

Berkenaan dengan hal tersebut, selanjutnya pihak korban akan melaporkan ulang dan akan didampingi Tim Advokasi LKKBH Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak. (Novi)

(dibaca 391 X)