Demo Fisip UNTAN Kecam Aksi Brutal Polisi

| Share on Facebook
usut pemukulan demonstran

LENSAKAPUAS FOTO, PONTIANAK – Ratusan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tanjungpura Pontianak, Selasa (30/9) menggelar aksi solidaritas dan dukungan terhadap pengusutan  insiden kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada salah satu rekan se almamater mereka ketika mengikuti unjuk rasa pelantikan 65 anggota DPRD KalbarHari Pertama Kapolda Baru Kalbar Ngantor. Lanjut Baca ... », Senin (29/9) kemarin./FT NOVI

 LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tajungpura Pontianak mengecam keras tindakan brutal yang dilakukan oknum aparat Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat terhadap para mahasiwa yang berunjuk rasa ketika pelantikan Anggota DPRD Kalbar, Senin (29/9) kemarin. “Saya selaku PD III Fisip menghendaki penyelesaian ini secara tuntas.  Bagi aparat yang melakukan tindakan brutal itu, harus dihukum, bila perlu dipecat, karena itu telah merusak institusi lembaga kepolisian,” tegas Drs. Syarif Usmulyadi, Pembatu Dekan III Fisip Untan disela-sela aksi di Bundaran Digulist Untan Pontianak, Selasa, 30 September 2014.

Pentingnya tindakan tegas, kata Usmulyadi, sebagai sebuah pembelajaran bagi yang lainnya agar tidak kembali melakukan perbuatan serupa yang secara nyata telah menciderai demokrasi dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Terhadap upaya pengusutan, Pembantu Dekan III Fisip itu meyakini bahwa aparat kepolisian akan mampu mengungkapnya.  “Saya yakin, karena janji Kapolda jelas. Itu omong kosong kalau tidak dapat ditemukan, foto-fotonya jelas koq. Saya yakin, beliau ini Kapolda yang baik, belum apa-apa dia sudah langsung minta maaf, itu kita apresiasi,” kata Usmulyadi.

Menurut dia, citra Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar sejak di bawah kepemimpinan Brigjen Pol Arief Sulistyanto sudah baik. Untuk itu ia yakin dan percaya bahwa Kapolda akan bertindak secara tegas. “Kasian beliaunya, kalau harus rusak hanya karena  segelintir oknum yang tidak dapat mengendalikan emosinya, yang menganggap menghadapi mahasiswa ini seperti menghadapi preman, pelaku kriminal, dan tidak berperikemanusiaan,” tandas PD III Fisip. (novi)

 

 

(dibaca 693 X)