Developer CV. Sokybaza Terindikasi Tipu Konsumen

| Share on Facebook

Konsumen  lapor Polisi

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Tanda jadi atau Booking Fee merupakan istilah yang tidak asing dalam jual beli rumah atau ruko. Berdasarkan kebiasaan tersebut, jual beli pada umumnya apabila terjadi pembatalan pembelian secara sepihak oleh konsumen, maka selalu akan terjadi pemotongan, bahkan  tanda jadi atau Boking Fee tersebut dianggap hangus.

Namun, tentunya hal tersebut akan sangat merugikan pihak konsumen apabila Booking Fee atau tanda jadi justeru mendapat potongan ataupun hangus bukan karena atas kehendaknya secara sepihak, melainkan akibat kesalahan dari pihak pengembang perumahan itu sendiri yang tidak mampu menepati janji dan tidak bisa melaksanakan kewajibannya (membangun rumah) dalam pemenuhan hak konsumen dengan berbagai dalih dan alasan.  Bahkan, hal ini kerap menjadi modus terselubung   “developerKaki Tangan AK Aniaya Sariansyah. Lanjut Baca ... » nakal”  untuk melakukan aksi penipuan,  sebagaimana yang dialami oleh salah satu konsumen, Edi Hartono, atas pembelian unit rumah Type 40 di perumahan Permata Indah Residence (PAR) yang berlokasi di Jalan Parit Demang  Kelurahan Parit Tokaya Kecamatan Pontianak Selatan.

Berikut kronologis diungkap oleh Edi Hartono :

“Pada tanggal 23 Juni 2013 silam, saya pergi ke kantor Sokybaza, Developer/General Contractor yang belamat di Jalan Pahlawan atau di Gedung ATS  lantai III dan berjumpa dengan saudara Hanafi yang sudah berada di dalam ruangan beserta staff pemasaran. Langsung Hanafi menyodorkan brosur perumahan yang dibangunnya, yaitu perumahan Permata Indah Residence Blok G 32 yang berlokasi di Parit Demang Kelurahan Parit Tokaya Kecamatan Pontianak Selatan. Atas penjelasan saudara Hanafi, saya pun tertarik untuk membeli rumah tersebut, saat itu juga saya membayar uang panjar tanda jadi sebesar Rp1 juta sesuai dengan permintaan, yang diterima langsung oleh Hanafi, yang alamat tempat tinggalnya di Jalan Husein Hamzah Komp. Griya Jawi Permai Blok A3 Kelurahan Pal V Pontianak Barat. Pada saat saya membayar uang tersebut, saya dijanjikan oleh saudara Hanafi type rumah 40 dengan harga Rp115 juta.

Kemudian, pada taggal 27 Juni 2013, atas permintaan Hanafi, saya diminta untuk menambah uang panjar sebesar Rp14 juta yang langsung juga diterima oleh Hanafi. Pada saat saya membayar uang panjar itu, saudara Hanafi menjanjikan kepada saya rumah akan selesai dibangun bulan Oktober 2013 dan paling lambat bulan Desember 2013, tapi sampai sekarang tidak bangun,” tutur Edi Hartono kepada LensaKapuas.

Menurut dia,  sudah berulang kali dirinya menemui Hanafi untuk menanyakan tentang rumah yang telah ia  panjar tersebut. “Selalu tidak ada kepastian, bahkan sampai saat ini rumah yang dijanjikan tersebut tidak pernah dibangun,” ujar Edi.

Selanjutnya, kata Edi, dirinya bersama beberapa konsumen lain yang mengalami perbuatan  serupa, merasa tertipu oleh Hanafi, tidak menyangka kalau pengembang perumahan yang sudah berpindah kantor ke Jalan Sepakat I A Yani itu akan mengingkari janji untuk segera membangun rumah yang sudah dipanjar pembayarannya. “Setelah dicari tahu, informasinya, katanya tanahnya masih bermasalah, jadi belum bisa bangun rumah.  Tertipu kita, kita pikir tidak ada masalah dengan tanahnya,”  ungkap Edi.

“Karena tahu tanahnya bermasalah, saya pun bermaksud menarik kembali uang panjar yang sudah dibayar dulu. Kita kaget juga, ketika mau tarik kembali uang kita, mereka bilang bisa ditarik tapi dipotong 20% dan tempo waktunya 120 hari,”  kata Edi.

Padahal, kata dia, dirinya tidak pernah melakukan pembatalan secara sepihak. “Kita sebagai konsumen maunya rumah segera dibangun, tetapi sudah setahun koq tidak dibangun-bangun juga, wajar donk kita ambil lagi uang kita, apalagi tahu tanahnya bermasalah. Itukan bukan kesalahan dari kita, tapi kesalahan mereka,”  kesal Edi.

Atas perbuatan developer PT. Sokybaza, lanjut Edi, dirinya merasa sangat dirugikan dan merasa ditipu. “Bahkan, sampai sekarang pun uang saya sebesar Rp15 juta belum juga dikembalikan,” tukasnya.

Untuk segera mendapat kepastian dan penyelesaian atas perssoalan yang ia hadapi, dengan mendapat dampingan dari pengacara, Edi Hartono melaporkan secara resmi perbuatan pengembang perumahan, Hanafi ke aparat kepolisian Polda Kalbar. “Tanggal 8 Agustus, sudah kita laporkan. Belum lama ini ada 2 anggota dari Polresta Pontianak datang ke rumah, katanya laporan dilimpahkan ke Polresta, tapi sampai sekarang saya belum dipanggil ataupun diberitahu mengenai perkembangannya,” tandas Edi.

Hal yang sama juga dialami konsumen lainnya, Sunarso. Ia pun mengalami kerugian sebesar Rp15juta, sebab belum dikembalikan Hanafi. “Banyak yang terkena, tapi beberapa konsumen lain mungkin berpikir dari pada duit hilang, jadi terima saja potongan 20%,” ujar Sunarso kesal. (TIM)

(dibaca 1723 X)

None found.