Hasil Pansus 7 DPRA : Transmigrasi Award 2014 Perlu Ditinjau Ulang

| Share on Facebook
rusli tjehpost.co
Rusli /Ft. Atjehpost.co

LENSAKAPUAS, KARANG BARU – Rekomendasi DPRA Aceh Pansus 7 terhadap hasil Pansus di lokasi Transmigrasi Lokal (Translok) di Kampung Paya Tampah Alue Punti Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, dinyatakan sebagai proyek gagal dan perlu dilakukan evaluasi ulang atas terpilihnya Aceh sebagai Provinsi Daerah Tujuan Transmigrasi terbaik se-Indonesia, yang meraih juara dan mendapatkan Anugerah Transmigrasi Award 2014 untuk Kategori Makarti Nayotama.

Hal tersebut diungkap Rusli Tambi salah seorang Anggota Pansus Dapil 7 dari Komisi 6 DPRA yang melakukan peninjauan ke lokasi Transmigrasi Lokal di Kampung Paya Tampah Alue Punti pada Senin 18 Mei yang lalu. “Bagaimana bisa mendapat penghargaan itu? Sementara kegiatan yang dilakukan, dari hasil Pansus yang kita laporkan, bahwa tidak sesuai fakta di lapangan dan sangat tidak mendukung penerimaan anugrah Kategori Makarti Nayotama yang diserahkan Plakat dan piagam penghargaan itu oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Gubernur Aceh yang diwakili Sekda Drs Dermawan MM di Jakarta, pada 15 Desember 2014 yang lalu,” kata Rusli Tambi.

Ia menilai, pemberian Anugrah itu terkesan sebagai pesanan untuk sebuah pencitraan dengan tujuan ABS (Asal Bapak Senang). Seakan-akan pemberian penghargaan itu dibeli. Jika kita lihat kondisi di lapangan, sangat tidak sesuai. Inikan pembohongan publik, bahkan Datok Penghulu pernah menyurati secara resmi pada tanggal 26 Maret 2015 kepada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Kadisnakermobduk) Aceh, namun hingga saat ini masalah tersebut tidak ditindak lanjuti,” ungkap Anggota Pansus 7 DPRA.

“Memang penghargaan itu diberikan karena Pemerintah Aceh telah menunjukkan kinerja yang sangat baik dalam mengembangkan potensi sumber daya wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program transmigrasi, tetapi itu hanya pencitraan semata hingga memperoleh nilai tertinggi yakni 90,7 untuk Aceh,” sebut Rusli melalui hanphone selularnya. Saat kami melakukan pansus ke lokasi itu, lanjut dia,  kenyataan di lapangan penilaian terbalik.

Bahkan beberapa warga Translok sempat melontarkan keluhan mereka. “Penyediaan air bersih sama sekali tidak berfungsi, untuk kebutuhan air bersih masyarakat yang menempati rumah Translok itu hanya dari langit menunggu hujan turun, jika hujan tidak turun, terpaksa harus mengambil air dari kaki bukit yang jaraknya hingga 2 KM,” beber Rusli mengulas pernyataan warga yang kecewa.

“Bagaimana kami bersemangat mengerjakan seluruh keharusan kami dalam memberdayakan diri, keluarga, dan lingkungannya, sementara sarana dan prasarana yang ada sama sekali tidak mendukung,”  timpal warga lainnya.  (Alam)

(dibaca 367 X)