Ingin Konfirmasi, Wartawan Nyaris Ditikam Rekan Kontraktor

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Bobi, wartawan Media Megapolitan nyawanya nyaris melayang di tangan seorang yang mengaku sebagai pengawas proyek OPE (Opersional dan Pemeliharaan) Kapuas Kecil 1 dan 2 yang berlokasi di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Mendapat ancaman, Jum’at (19/9) pekan lalu, Bobi bergegas melapor ke aparat kepolisian Polresta Pontianak, dengan bukti laporan No : LP/3017/ IX/2014/KALBAR/ RESTA PTK KOTA tanggal 19 September 2014.

Kepada LensaKapuas, Bobi mengulas kronologis kejadian yang ia alami, atas tindakan ala preman yang dilakukan oleh pengawas konstruksi, Yudi, terhadap dirinya. Berikut penuturannya :

Ketika di lapangan, kisah Robi, ia melihat ada salah satu proyek pemerintah yang janggal, dengan tidak memasang plank proyek atau pagu anggaran dana sebagaimana yang diwajib dalam setiap pelaksanaan proyek pembangunan yang bersumber dari keuagan negara. Untuk mencari tahu ia bertanya kepada masyarakat sekitar. “Saya sempat bertemu dengan ketua RT dan menanyakan perihal kegiatan proyek OPE itu. Namun, ketua RT tidak mengetahuinya sama sekali, siapa kontraktor maupun pekerjanya. Saya tanya, apakah pekerja dari masyarakat setempat, dijawabnya bukan,” terang Bobi.

Kemudian, lanjutnya, setelah menggali informasi lebih dalam perihal proyek tanpa plank itu, lantas ia pun bergegas meninggalkan lokasi. “Setelah mendapatkan informasi tentang kontraktor pelaksananya, saya langsung menghubunginya via telpon genggam dan diterima oleh seseorang yang mengaku bernama Yudi,” kata dia.

“Ketika ditanya apakah dia (Yudi)  kontraktor pelaksana pekerjaan, dijawab bukan saya, saya hanya pengawasnya. Kemudian, Yudi balik bertanya ke saya, ada ape, mengape?” kata Bobi mereview ulang. “Bahkan Yudi juga mengaku dari media, lantas  dia bertanya balik, Dapat no hp saya dari mana? Dengan nada kasar, dia menanyakan keberadaan saya saat itu, Kamu ada dimana? Saya jawab, di Jalan Hijas. Hijasnya dimana? Saya jawab lagi,  Jalan Hijas di depan SS.”

Setelah itu, lanjut Bobi, setelah dirinya mengatakan posisinya ke Yudi, Pria yang mengaku pengawas proyek itu meminta untuk menunggu, “Aku kesana, kau tunggu!” pinta Yudi kepada wartawan Megapolitan.

“Setibanya di Jalan Hijas, Yudi kembali menghubungi dan menanyakan secara jelas dimana posisi saya. Depan SS, samping Warkop Anam, tepatnya Warkop Oxxy,” sebut Bobi.

Tak lama berselang, kata dia, sekitar pukul 15.30 Wib, Yudi masuk ke dalam dan menghampiri dirinya yang sedang duduk menunggu. “Tanpa basa basi, dengan nada kasar  Yudi spontan menghardik, Kau Bobi ke? Setelah dijawab, Ya. Secepat kilat Yudi mengambil senjata tajam (sajam) dari dalam tasnya langsung mencabut pisau dari sarungnya sambil menggerakkan ingin menusukkan pisau tersebut ke saya,” reka Bobi.

Merasa terancam dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ketika dia bertanya untuk memastikan kedua kalinya, dengan spontan saya jawab bukan.  Dengan ala koboi, kata Bobi, pria yang mengaku pengawas proyek itu terus bertanya sambil mengayun-ayunkan pisaunya. “Ku tusuk kau, ku bunuh kau,” ancam Yudi. Beruntung, saat itu orang-orang  yang duduk di depan teras warkop langsung mengamankan dan membawa Yudi keluar,” kisah Bobi.  Lantas, ia pun bergegas mencari perlindungan dan melaporkan pengancaman tersebut ke Polresta Pontianak.

Ketua AWI Kecam Pelaku 

budi awiMendengar kejadian yang menimpa wartawannya yang melaksanakan tugas peliputan di lapangan, Ketua DPC AWI Kota, Budi Gautama yang juga sebagai penanggungjawab Media Megapolitan, meminta kepada pihak yang berwajib untuk segera memproses kasus tersebut.

Perbuatan menghalang-halangi tugas wartawan dalam menjalankan tugasnya, yang dilakukan oleh pengawas proyek itu,  telah melanggar Undang-undang Pers  Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 18 Ayat 1 yang berbunyi, “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakkan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah).”

Budi juga meminta kepada pihak penyidik kepolisian untuk mengenakan pelaku pada undang-undang darurat tentang Sajam pasal (353). “Kejadian itu, sepertinya sudah direncanakan oleh pelaku, kita meminta kepada pihak yang berwajib untuk memproses dan menangkap pelaku secepatnya. Sebab, sangat membahayakan orang banyak,” pinta penanggungjawab media Megapolitan.

Selanjutnya, Ketua AWI Kota itu juga menginginkan, dengan adanya tindakan tegas kepada pelaku, sehinggga dikemudian hari tidak ada lagi kejadian serupa yang menimpa wartawan dan maupun orang lain. (TIM)

(dibaca 791 X)