Ini Komentar Pihak Berwenang Soal Ponton Tabrak Jembatan Kapuas I

| Share on Facebook
Wagub Kalbar Beserta Tim Teknis PU Tinjau Jembatan Tol

Wagub Kalbar Beserta Tim Teknis PU Tinjau Jembatan Tol

LENSAKAPUAS, PONTIANAK  – Warga Kota Pontianak heboh. Ponton muatan bauksit tabrak Jembatan Tol I Kapuas. Sutarmidji, Paryadi, I Putu Srinata, Christiandy, Jakius Sinyor dan Suhardi angkat bicara. Ganti rugi  jadi harapan mereka, kelalaian nahkoda jadi urusan Mahkamah Pelayaran.

Sutarmidji, SH, M.Hum (Walikota Pontianak)

“Untuk yang menabrak Jembatan itu, die harus ganti rugi, die harus memperbaiki sampai layak, berapa pun biaya nya harus ganti. Jangan dibiarkan, dan Gubernur juga sudah meminta supaya diganti, harus diperikse, enak-enak jak” ujar Sutarmidji, beberapa hari lalu dengan logat khasnya sedikit geram.

Ia pun mengungkapkan, sebenarnya selama ini sudah banyak yang menabrak vender Jembatan Kapuas tersebut, hanya saja tidak pernah diproses. Seharusnya, kata dia, diproses dan disidangkan. “Vendernya banyak rusak, berkali kali diganti, itu juga baru dibetulkan, tapi ditabrak lagi, patah lagi,”bebernya.

Lantas ia berharap dan menegaskan kembali, terhadap perusahaan yang menabrak harus diproses oleh Syahbandar dan aparat Kepolisian. “Enam bulan yang lalu, ini juga ditabrak, yang nabrak perusahaan itu juga. PT nya kurang tau saya, pokoknya warna orange, kapalnya  juga orange semua, sesuai dengan warna bauksit,” kelakar Midji.

Paryadi, S.Hut, MM (Wakil Walikota Pontianak)

Senada, Wakil Walikota Pontianak, Paryadi, pun begitu. Ia merasa prihatin atas insiden tersebut. “Kita prihatin, ini cukup besar efeknya, karena menggangu masyarakat luas dan arus lalu lintas. Kemudian, ia mengharapkan kepada para pengguna angkutan transportasi air untuk memperhatikan dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan insiden serupa.   “Untuk yang menabrak, nanti dari aparat berwenang untuk menindaklanjuti.”

Ir. Putu Srinata (Kabid Bina Marga Prov Kalbar)

Bicara soal teknis, Kabid Bina Marga Provinsi Kalbar, Ir. Putu Srinata, menjelaskan, vender yang ditabrak jumat kemarin, sedang dalam proses perbaikan. Ia menduga, ada kemungkinan nahkoda kapal yang menarik ponton panik. Yang menyebabkan ponton yang ditarik tidak terkendali dan terbentur ke pilar Jembatan. “Tidak langsung menabrak pilar, sebenarnya, secara struktur tidak terlalu masalah kerusakannya. Kalau menurut saya pribadi, kendaraan roda 4  yang kecil tidak ada masalah lewat,” kata dia saat malam kejadian.

Beda halnya, ketika dilakukan peninjauan langsung yang dipimpin Wakil Gubernur Kalbar, Drs. Christiandy Sanjaya didampingi Kadis PU Provinsi, Jakius Sinyor, Kasatpol PP, Weibiseno yang melibatkan tim teknis dari Pusat penelitian jalan dan jembatan Jakarta, dengan mendatangkan Krisna Panji beserta rekannya. Selasa(02/9).

Drs. Christiandy Sanjaya,SE, MM (Wakil Gubernur Kalbar)

Orang nomor dua di Jajaran Pemerintah Provinsi Kalbar, menjelaskan untuk sementara waktu jalan masih ditutup untuk kendaraan roda empat. Sedangkan yang diperbolehkan melintasi jembatan tol Kapuas I hanya kendaraan roda dua. Terhadap perusahaan yang menabrak, menurut Christiandy, telah bersedia untuk bertanggung jawab dan membiayai perbaikan kerusakan jembatan. “Perbaikan masih menunggu hasil kajian, persiapan anggaran, peralatan dan lainya,” ujar dia.

Christiandy juga mengunkapkan atas peristiwa yang terjadi, tentu menjadi kajian penting pihak Pemprov Kalbar, guna mengambil langkah selanjutnya dalam upaya percepatan rencana pembangunan Jembatan Kapuas III.

Jakius Sinyor (Kadis PU Kalbar)

Kepala Dinas yang punya peran penting dalam hal teknis dan non teknis di PU KalbarHoree...e..e...Bride Bebas. Lanjut Baca ... » ini sedikit mengulas balik riwayat Jembatan Tol Kapus I. Dalam ulasannya, ia  menuturkan, Jembatan Kapuas I dibangun pada tahun 1980, dengan panjang  420 meter dan lebar 6 meter. Sedangkan operasinya, tahun 1982. Kata dia, Jembatan tersebut merupakan penghubung utama Pontianak Tenggara dan Pontianak Timur. Secara hitungan teknis,  umur Jembatan ia perkirakan mampu bertahan hingga 50 tahun.

Dilanjutkannya, Jembatan mempunyai 8 pilar utama. Setiap pilar terdiri dari 2 tiang utama dan pada bagian bawah ditopang oleh 15 tiang yang menancap ke dasar sungai. Diantara 2 tiang utama dan 15 tiang penopang, terdapat bagian yang disemen (landasar pilar) fungsinya sebagai penahan bagian bawah 2 tiang utama, dan juga sebagai ujung atas dari 15 tiang penopang. Tiang penopang, kata dia, menancap hingga kedalaman 40-60 meter dari permukaan dasar sungai, sementara ketinggian dari dasar sungai ke semen pengikat, berkisar 18 meter. Setiap pilar, terutama yang ada dibagian sungai dilindungi oleh pelindung yang terbuat dari tiang dan plat besi berukuran tebal. “Pada saat kejadian, satu dari 15 tiang penopang (fender) di pilar empat terkena hantaman hingga terlepas dari semen pengikat,” ungkap Jakius.

Ia pun menilai, untuk kondisi jembatan saat ini setelah dilakukan pemeriksaan, terdapat kerusakan pada fender sebanyak 3 buah, yaitu : 1 buah fender tidak terlihat dan 2 buah fender kondisi miring. Selain itu, telah terjadi keretakan pada bagian landasan pilar dibeberapa tempat yang lebarnya mencapai 2 mm. Keretakan yang semula hanya 2 mm, kata Jakius, sekarang sudah bertambah menjadi 5 mm, penyebabnya karena dilewati kendaraan beroda empat. Jadi, karena alasan itulah untuk saat ini masih belum diperbolehkan kendaraan berat maupun roda empat melintas. “Ini kebijakan Gubernur Kalbar, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya.

Suhardi (Kasi Keselamatan, Penjagaan dan Patroli Administrator Pelabuhan, ADPEL  Pontianak)

Secara terpisah, ketika dimintai tanggapan atas insiden tertabraknya Jembatan Tol Kapuas, Suhardi menjelaskan, pihaknya (ADPEL) hanya khusus menangani soal perijinan dan kelengkapan dokumen kapal. “Kalau tidak lengkap, mana kita kasih ijin gerak,” ucapnya. Insiden, menurut dia akibat ketidak hati-hatinya nahkoda. Seharusnya, kata Suhardi, nahkoda bisa mengukur arus dan kecepatan kapal. Cuma, saat kejadian disitu juga sedang ada pengerjaan jembatan, tapi yang jelas kecakapan dari seorang nahkoda ini bagaimana?” sindirnya.

Ia pun menerangkan, terhadap nahkoda kapal prosesnya tetap ke Mahkamah Pelayaran. “Kalau memang kesalahan ada pada nahkoda,  biasanya sertifikat pelautnya dicabut, diskorsing beberapa bulan tidak boleh diatas kapal,” ujar  Suhardi. “Kemarin posisi nahkoda di Kodam, saat ini di Airud, mungkin nantinya di Angkatan Laut, namun akhirnya nanti akan ke kita juga, kita udah ngalah aja, nanti Mahkamah Pelayaran yang menentukan nahkoda bersalah atau tidak,” imbuhnya.  “Tapi menurut saya tetap bersalah. Sedangkan kalau ada yang meninggal atau lain sebagainya nya itu Kepolisian yang menangani. Kalau kita menangani profesinya, Pelaut,” jelas Suhardi.

 (novi/alam)

(dibaca 1204 X)