Kaki Tangan AK Aniaya Sariansyah

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Laporan Polisi oleh Asmadi terhadap developer perumahan SariansyahIni Alasan Akbar CS "Blanat" Sariansyah. Lanjut Baca ... » dengan tuduhan  telah  melakukan  tindak pidana penipuan, berbuntut penganiayaanPolisi Maen Hajar' ARKB Tuntut Tanggungjawab Kapolda. Lanjut Baca ... ». Hal tersebut diungkap oleh Abdurahman selaku saksi yang mengetahui, melihat dan turut mengalami langsung aksi pemukulanIni Alasan Akbar CS "Blanat" Sariansyah. Lanjut Baca ... » dan pengaiayaan yang diduga kuat dilakukan oleh ML, YT, dan By Alias A selaku kaki tangan AK.

Apapun alasannya, perbuatan main hakim sendiri yang dilakukan dalam negara hukum tidak dapat dibenarkan, hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 351 – 358 KUHP dan ancamannya pun bisa sampai 12 tahun penjara. “Intinya masalah utang piutang antara AK dan Sariansyah, tapi itu urusan mereka lah. Yang jelas, yang saya tidak terima rumah saya digeledah dan saya juga sempat diterajang salah satu dari mereka, untung jak sempat ngelak,” kata Abdurahman mengawali kisahnya kepada sejumlah wartawan di salah satu pojok warkop di Kubu Raya, Jumat, 01 Mei 2015.

Menurut kronologis yang ia ungkap kepada wartawan, bahwa pada malam Selasa (28/4), bermula saat dirinya dimintai tolong oleh Sariyansah sekitar jam 11.oo wib, untuk menemui Amin alias Kevin yang katanya sedang mengalami kecelakaan lalu lintas. “Pergilah saye ke RS Sudarso. Sampai di situ saye bell, katanya dia udah di rumah, kemudian minta ketemu di dekat sekolah Gembala Baik. Setelah 10 menit sampai, Kevin pun datang. Eh berselang 5 menit kemudian, datang lagi orang-orang yang tidak aku kenal. Ada YT dan By alias A, selanjutnya ML,” kisah Durahman mengingat-ingat apa yang ia alami.  “Owh, inikan namanya Abdurahman, yang mau bawa berkasnya?” tiru dia ketika disergah salah satu dari ketiga orang yang menemuinya di dekat sekolahan Gembala Baik itu. Karena bingung tentang berkas apa yang dimaksud mereka.

Mulai mengerti dengan kehadiran ketiga orang yang asing baginya itu dan demi keselamatan orang yang mereka cari, kata Durahman, ia pun mencoba menutup informasi soal keberadaan Sariansyah. Sebab, kata dia, dirinya mengetahui kalau Sariansyah sedang dicari oleh preman. “Saye disuruh datang ketemu Kevin katanya kecelakaan, saye tak kenal Sariansyah. Tetapi ketiga orang itu tetap ngotot supaya bisa mempertemukan Sariyansyah. Karena tidak mau memberitahu,  saya pun diintimidasi. HP saya pun dicek mereka,” cerita Durahman dengan logat khasnya.

Diduga Ada Oknum Polisi Terlibat

Dikatakannya, bahwa salah satu dari mereka, yakni  ML ia kenal. Oknum polisi yang bertugas di Polda Kalbar. “Die yang mengintrogasi dan mengotak atik HP saye. Jadi, ketemulah rekam jejak komunikasi dengan Sariansyah. Karena terus didesak, saye pun ngakulah. Kemudian rumah saye digeledah, tetapi rupanya Sariansyah udah dilarikan kawan-kawan ke KD Kamar 220. Kawan-kawan yang bedua itu pun diintimidasi juga oleh mereka, akhirnya sekitar Pukul 03.00 Wib dinihari ditunjukan lah keberadaan Sariansyah, sehingga insiden pemukulan dan penganiayaan oleh mereka itu tidak bisa dihindarkan lagi,”  ulas Durahman.

Ternyata ketiganya belum puas sampai disitu, Sariansyah pun dibawa ke Sungai Raya Dalam, bahkan dalam perjalanan juga terus dianiaya. ”Waktu datang, saya lihat sudah berdarah darah. Di Serdam juga diperlakukan sama secara brutal oleh ML, YT, dan By alias A, dan baru sekitar jam lima subuh dibawa ke Polsek Sungai Raya oleh supirnya AK menggunakan sepeda motor. Sesampai di Polsek, kami langsung diperiksa, bahkan Sarianyah ditelanjangkan. Termasuk kami bertiga, saya, Suparman dan Sariansyah  disuruh berjongkok, lalu difoto oleh AK dan juga seseorang yang mengaku mantan pengacara Sariansyah. Ngakunya Advokat, tetapi dilacak di internet  tidak ada, namanya Ansary Dimyati dari Yayasan SH II. Dia meminta ganti kerugian ke Sariansyah sebesar Rp165 juta. Karena dibawah tekanan, dijanjikan bulan Mei akan dibayarkan,” beber Rahman.

Mau Buat Laporan Polisi Dipimpong 4 Kali

Esoknya, lanjut Rahman, kasus pemukulan dan penganiayaan  yang dilakukan ML, YT, dan By alias A yang notabene saudara kandung AK itu dilaporkan oleh pihak keluarga Sariansyah. “Dua hari buat laporan barulah diterima. Polsek Sungai Raya lemparkan ke Polsek Pontianak Selatan, Polsek Selatan lemparkan lagi ke Sungai Raya, lalu lemparkan lagi ke Polresta, setelah 4 kali bolak balik barulah akhirnya diterima Polsek Sungai Raya tadi malam,” kesal dia.

Polsek  Baru Terima Laporan Penggelapan Sertifikat

Dikonfirmasi perihal korban penganiayaan yang malah ditahan polisi, Kapolsek Sungai Raya Kompol Sugiyono, S.H., M.H. berujar bahwa penahanan Sariansyah atas dasar tindak lanjut pengaduan yang masuk. “Ada pengaduan itu ditindaklanjuti, karena alat buktinya cukup sehingga kita lakukan proses penyidikan,” ujar Kapolsek. Sedangkan mengenai tindak pidana  penganiayaan yang dilakukan By alias A CS itu, kata dia, karena Tempat Kejadian Perkara (TKP)nya di wilayah hukum yang berbeda, yakni pertama di kamar 220 Hotel Kapuas Dharma berada di wilayah hukum Polsek Pontianak Selatan dan kedua, di Sungai Raya Dalam yang merupakan wilayah hukum Polsek Sungai Raya, maka setelah ada laporan selanjutnya akan dilimpahkan ke Polresta Pontianak.

“Keterangan Sariyansyah,  ketika mereka mau melapor itukan hak dia, silahkan tidak ada masalah. Cuma nanti, saya akan kirim ke Sat Serse Polresta Pontianak, karena TKP nya 2, tetapi yang jelas saya yang nangani dia itu (Sariasyah)  kasus penggelapan sertifikat. Untuk penganiayaan itu kalau sudah ada laporan, coba cek Kanit Reskrim dulu,” pinta Kapolsek diujung sambungan haphone selulernya.

Dikonfirmasi di ruangan kerjanya, Kanit Reskrim Polsek Sungai Raya IPTU Manurung menjelaskan bahwa penangkapan terhadap Sariansyah bukan oleh aparat kepolisian. Ia diserahkan oleh korbannya tanggal 28 april. “Dia menginap di Kapuas Dharma, kemudian didatangi 2 orang, kemudian dipukul tanpa perlawanan.  Kemudian dibawa ke Sungai Raya Dalam ditunjukan ke korban-korban lain, kemudian dipukul. korbannya yang membawa dia,” kata Manurung, seraya menyebut kalau laporan polisi Sariansyah masuk pada sore harinya (29/4/ 2015).

Perwakilan AK Beri Klarifikasi

Ketika ingin dikonfirmasi secara terpisah, nama AK yang kerap disebut-sebut, ogah memberi penjelasan. Ia cuma  mengutus orang dekatnya untuk memberikan klarifikasi terkait peristiwa berdarah tersebut. “Pak AK lagi sibuk, jadi belum sempat menemui kawan-kawan. Jadi, kami yang mewakili,” ujar Mul bersama dua rekannya kepada wartawan di salah satu pojok warkop di Pontianak. Sabtu (2/5).

Menurut penuturan perwakilan AK, bila kasus penganiayaan itu dilanjutkan, justeru berbahaya bagi Abdurahman. Sebab, kata dia, bisa dijerat dengan pasal penyertaan (Pasal 55 KUHP, Red). “Makanya saya jelaskan, saya juga mau menyelamatkan kawan kita di sini. Kalau saya tidak selamatkan, dia sudah ikutkan dengan tindak pidana penyertaan. Kalau saya biarkan ini berlarut-larut, Abdurahman ikut masuk, karena ikut serta, dia menyembunyikan 4 hari si Sariansyah,” ancamnya.

Terkait penangkapan, kata dia, karena tertangkap tangan tidak perlu (SP GAS, SP KAP) “Polisi manapun tidak punya surat tugaspun tidak punya masalah, karena tertangkap tangan, seperti pencuri misalnya langsung diseret, supaya proses tidak terhambat karena sudah dilapor, secara hukum begitu. Diakan sudah terlapor.  Karena ketangkap tangan jadi digiring lansung, bukan polisi yang nangkap,” jelas Mul lagi

“Kemarinkan saya koordinasi dengan wakasat, makanya saya mau temu Abdurahman, saya telpon-telpon Hpnya tidak aktif, saya mau temu dia, supaya kelar masalah ini, jangan sampai terjerumus masalah ini, membecking orang yang tidak benar.  Terus terang saya penengah dalam hal ini, profesi saya sudah lama dalam hal ini, tetapi tidak pernah tampil di lapangan.  tetapi orang-orang saya masih di lapangan,” tandasnya tanpa menyebut entah profesi yang ia maksud.

Kemudian, dia bersama rekannya itu meminta wartawan untuk meminta menulis berita secara seimbang (balance).  “AK tidak terlibat, dia hanya menyaksikan saja,” tandasnya. (Tim)

(dibaca 776 X)