Kehadiran SPBU Tanggok Rusak Tatanan Sosial Warga

| Share on Facebook
Aksi Warga Tolak Pembangunan SPBU di Kompleks Ari Karya Indah VI & Gg. Mawar Pontinak Kota (LensaKapuas)

Aksi Warga Tolak Pembangunan SPBU di Kompleks Ari Karya Indah VI & Gg. Mawar Pontinak Kota (LensaKapuas)

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Penolakan rencana pembangunan SPBU CODO I yang terletak di antara perumahan warga Ari Karya Indah VI dan Gg. Mawar, Kel. Sei Bangkong Pontianak Kota terus berlanjut. Sejumlah warga ring I dan II pada Kamis (15/05) malam di salah satu rumah warga setempat menuturkan bahwa upaya penolakan tersebut sudah dilakukan dengan berbagai cara sejak setahun silam.

“Kami warga di sini, sejak pertama kali sosialisasi akan dibangun SPBU di kompleks, sekitar 90% warga disini secara tegas menolak. Hingga tiga kali rapat RT pun, warga tetap menolak, surat pernyataan penolakan yang ditandatangani warga juga ada, tapi kami heran mereka bisa mendapat ijin dari Pemkot Pontianak dan terus membangun,” ungkap Ny. Suud, salah satu warga Ari Karya Indah VI.

Ia mengungkapkan, penolakan warga dilakukan dengan cara menyurati instansi berwenang, Wali Kota, Pertamina, OmbudsmanOmbudman Dorong Pemkab Sintang Lakukan Mediasi. Lanjut Baca ... », hingga mengadakan aksi demo. “Bahkan, warga pernah memasang spanduk penolakan di lokasi, tapi hanya terpasang 1 hari, keesoknya sudah hilang,” ujar Ny. Suud.

Hal tersebut diamini warga yang berada di ring I, Ny. Sri. Menurutnya, penolakan warga bukan tanpa sebab dan alasan. Warga kuatir akan dampak yang akan timbul dikemudian hari.  “Dapur rumah saya tepat berada sebelah bangunan SPBU yang sedang dikerjakan. Saya kuatir ketika SPBUnya jadi, rentan terjadi kebakaran, ” tukasnya. “Iya sangat dekat dengan dapur, cuma beberapa meter saja,” timpal Rupatullah yang juga mengkuatirkan hal yang sama.

Begitupun halnya Muhammad. Ia mensinyalir adanya rekayasa administrasi dan permainan sejumlah pihak yang berkepentingan sehingga ijin-ijin prinsip bisa keluar. “Buktinya sejak pertama dulu, sejumlah pengurus RT begitu getol menolak rencana pembangunan SPBU itu, sekarang justeru berbalik arah, bahkan secara diam-diam membuat surat pernyataan persetujuan. Ini kan ada apa?” curiga Muhammad. Selain itu, kata dia, ada beberapa kejanggalan menyangkut stempel RT.

Mengenai kelayakan lokasi, Muhammad mempertanyakan, apakah instansi terkait yang mengeluarkan ijin-ijin prinsip ada melakukan survey lapangan atau tidak. “Yang kita ketahui, hanya dari petugas pemadam kebakaran ada survey langsung ke lokasi. Hasilnya, setelah mereka melihat lokasi yang dijadikan areal pembangunan SPBU, mereka pun tidak berani mengeluarkan rekomendasi,” beber Muhammad yang diamini warga lainnya.

Dilain sisi, warga Ari Karya Indah VI ini mengakui, kehadiran pengusaha SPBU di kampungnya menjadi pemicu rusaknya tatanan sosial warga setempat. “Dulu, kami warga di sini harmonis, tapi setelah masuknya SPBU sekarang sudah mulai ada jarak antara beberapa warga yang setuju dan warga yang tetap bertahan menolak. Bahkan tidak bertegur sapa, kita sangat menyayangkan kondisi ini, ” ucapnya.

Sementara, masalah yang akan timbul seperti dicontohkan Muhammad, karena jalannya sempit, maka apabila nantinya terjadi antrian pengisian BBM tentu akan membuat jalanan macet. Korbannya, kata dia, masyarakat pengguna jalan dan warga yang mau masuk serta keluar kompleks perumahan jadi terhambat. “Jalan Kompleks ini buntu. Selain itu, resiko kebakaran juga besar karena jaraknya sangat dekat dengan dapur rumah warga, belum lagi dampak lingkungannya (polusi udara, kebisingan suara, limbah cair, dll),” ujarnya kepada wartawan.

Untuk itu, kata Muhammad, dirinya bersama warga lain yang menolak rencana pembangunan SPBU di kompleks tersebut akan terus berjuang untuk bisa menghentikan pembangunan SPBU itu. “Kami minta dan mau pembangunan SPBU dihentikan,” tegasnya (TIM)

(dibaca 921 X)