Kibarkan Bendera Raksasa, Cara Ormas Raya Peringati 10 Tahun Perdamaian

| Share on Facebook

kibarkan bendera raksasa

LENSAKAPUAS, ACEH TIMURMTQ ke-32, Aceh Timur Ikut Pawai Ta’ruf dan Mobil Hias. Lanjut Baca ... »  – Organisasi Kemasyarakatan Rakyat Aceh (Ormas Raya) Kabupaten Aceh Timur yang digawanggi para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAMPemerintah Aceh Tepati Janji, Din Minimi Serahkan Diri. Lanjut Baca ... ») punya cara tersendiri dalam memperingati 10 tahun perdamaian Aceh.

Ratusan orang yang merupakan anggota Ormas Raya berkumpul di Lapangan Bola Peureulak Kabupaten Aceh Timur, Sabtu (15/8/2015), mereka berkonvoi dengan ratusan kenderaan roda dua membawa bendera merah putih berukuran raksasa menuju tower pemancar milik PT Telkom di Idi Rayeuk guna mengibarkan sangsaka merah putih di puncak tower tersebut.

Perjalanan menuju dari Peureulak ke Idi Rayeuk memakan waktu sekitar 30 menit berlangsung tertib. Ratusan konvoi kenderaan roda dua itu tampak memasang bendera dan ikat kepala menyerupai bendera merah putih.

Setiba di lokasi yang dituju, tampak Muliadi, Mauliza, Muklissina, Muksalmina dan Taufik Hidayat yang merupakan spesialis pemanjat tebing itu, bergegas mencapai puncak tower setinggi 125 meter.

Dengan semangat dan tekad yang bulat untuk perdamaian Aceh, keempat relawan itu berhasil mengibarkan bendera merah putih berukuran 27 x 14,5 meter tepat berada di puncak tower PT Telkom di Idi Rayeuk sesuai rencana.

Ketua Ormas Raya, Mukti Alfiansyah mengatakan, pihaknya punya cara sendiri dalam memperingati 10 tahun perdamaian Aceh. Dengan mengibarkan bendera merah putih raksasa di puncak tower tersebut.

“Ini cara kami, mungkin berbeda dengan teman-teman di daerah lain. Tapi kami punya pesan dan makna tersendiri melalui cara ini,” sebut Mukti usai pengibaran bendera dimaksud.

Menurutnya, pengibaran bendera merah putih raksasa ini adalah sebuah pesan perdamaian yang ingin disampaikan kepada segenap lapisan masyarakat Aceh. Bahwa perdamaian yang dicapai melalui penandatangan kesepamahan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki Finlandia merupakan akhir dari perjuangan bersenjata GAM.

Karenanya, perdamaian yang dicapai haruslah berintegrasi kembali ke pangkuan pertiwi. Membangun Aceh sesuai semangat perdamaian sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA).

Namun, lanjut dia, selama ini masih saja ada pihak yang melakukan mengatasnamakan perdamaian untuk kepentingan pribadi dan golongan bukan demi kesejahteraan rakyat Aceh secara komprehensif.

Ia meminta agar semua elemen khususnya eks kombatan agar bersatu-padu membangun Aceh yang sejahtera, damai, adil dan makmur sebagaimana amanah MoU dan UUPA.

“Kita imbau semuanya bersatu membangun Aceh, jangan terkotak dan mengedepankan kepentingan pribadinya semata,” ujar Mukti.

Terlebih sambung dia, peringatan perdamaian Aceh yang jatuh pada tanggak 15 Agustus setiap tahunnya juga merupakan bagian integral dari peringatan HUT RI pasa setiap 17 Agustus. Karena itu, alangkah bijak bila semangat perdamaian juga menjadi bagian dari semaraknya proklamasi kemerdekaan Indonesia, tutur Mukti.

Dia juga mengatakan, pada peringatan perdamaian yang dilakukan pihaknya telah mengundang semua pihak mulai organisasi kemahasiswaan, Ormas, OKP, dan seluruh institusi penerintahan.

“Kami mengajak semua pihak memiliki komitmen kebersamaan, bersatu padu merawat perdamaian dan mengisi kemerdekaan Indonesia melalui kerja nyata,” pungkas Mukti Alfiansyah. (Alam)

(dibaca 347 X)