Koalisi Mahasiswa Indonesia

| Share on Facebook

Rosadi Jamani S Ag M SiOleh Rosadi Jamani

Perseteruan Koalisi Merah Putih (KMP) dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) belum reda. Bahkan semakin menganga. Tanda-tanda mengalah belum ada. Justru semakin membuat panas Indonesia. Sampai kapan duel seru berhenti dari pandangan kita?

Begitu munculnya istilah DPR Tandingan, saya sering mengamati media massa. Bahkan, media sosial. Rata-rata rakyat menyatakan kekecewaan dengan wakil rakyat di Senayan. Rata-rata mengeluarkan kata-kata kasar (sarkasme). Seperti tidak ada lagi orang baik di Senayan itu. Yang ada hanya orang haus kekuasaan. Semua penghuni di Senayan disamaratakan sebagai politisi yang hanya memikirkan diri sendiri. Sudah sebulan menjadi wakil rakyat, hanya sibuk berantem. Kapan harus memikirkan kepentingan rakyat. Sementara gaji, tunjangan, fasilitas mewah sudah mereka nikmati.

Di balik kekecewaan yang menggumpal itu, elemen mahasiswa merasa gatal. Mulai muncul kekuatan mahasiswa ingin menggelar aksi unjuk rasaGERAM Tuntut Penundaan Pleno dan Usut Money Politik Pilkada KKR. Lanjut Baca ... ». Sasarannya ingin menduduki Gedung Senayan seperti halnya pada tahun 1998. Saya sudah mencium gelagat mahasiswa ingin melakukan demoUnjuk Rasa Solmadapar Buat Kapolda Baru. Lanjut Baca ... » besar-besaran. Hal ini terlihat dari hampir seluruh elemen mahasiswa menyatakan kekecewaan dengan wakil rakyat.

Saya bisa membayangkan, bila seluruh mahasiswa se Indonesia melakukan unjuk rasa besar-besaran secara serempak, itu adalah kekuatan maha dahsyat. Jangankan wakil rakyat di Senayan, presiden sekalipun bisa digulingkan. Sejarah telah mencatat, jatuhnya Soekarno, Soeharto tidak lepas dari andil kekuatan mahasiswa. Era reformasi yang sedang kita rasakan saat ini adalah buah dari kekuatan mahasiswa yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto.

Ketika menyebut mahasiswa jadi teringat masa-masa kuliah itu. Pada tahun 1998, saat itu saya masih kuliah semester satu di STAIN Pontianak (sekarang IAIN). Pada saat demo besar-besaran menurunkan Soeharto, saya juga ikut bersama dengan mahasiswa lainnya. Saat itu, saya dan ratusan mahasiswa STAIN lainnya berjalan kaki dari kampus di Jalan Soeprapto menuju kampus Untan. Kalau disuruh berjalan kaki sekarang, rasanya mikir juga. Lumayan jauh. Namun, ketika itu semangat menggelora, satu suara turunkan Seoharto, jadi tidak ada lelah atau capek.

Pada saat aksi itu, tidak berpikir lagi dengan mata kuliah. Tidak teringat orang tua di kampung. Tidak memikirkan lagi soal nilai A atau B, termasuk IPK. Pokoknya, unjuk rasa. Mahasiswa harus bersatu hanya untuk menumbangkan Orde Baru.

Di kampus ada berbagai elemen mahasiswa. Ada PMII, HMI, GMNI, IMM, termasuk juga BEM dan HMJ bersatu padu demi satu tujuan, “Turunkan Soeharto”. Menariknya lagi, saat demo itu, tidak ada yang ngasih uang, termasuk juga nasi bungkus. Bahkan, air mineral juga tidak ada. Anehnya, semua mahasiswa bergerak dengan di bawah satu komando. Mungkin inilah perjuangan idealism, bukan oportunism atau pragmatism. Dan, di sinilah letak kekuatan utama mahasiswa. Ketika berjuang benar-benar mengandalkan idealism, bukan karena jabatan apalagi uang. Ketika sudah turun, mereka tidak takut ancaman moncong senjata aparat. Mereka tidak takut digebuki polisi. Mereka tidak takut diusir para preman. Ada yang tewas dalam aksi dianggap resiko dari sebuah perjuangan. Bila ada tewas dalam aksi, itu justru semakin menguatkan perjuangan. Seperti martil yang bisa menggerakkan seluruh mahasiswa se-Indonesia.

Akankah nostalgia itu kembali terulang lagi akibat perseteruan KMP vs KIH? Akankah muncul Koalisi Mahasiswa Indonesia (KMI)? Saya yakin, apabila perseteruan para politisi Senayan tidak mereda, justru semakin menguat. Sementara para pemimpin partai politik juga ikut berseteru. Kemudian, kepentingan rakyat justru diabaikan malah dirugikan, bukan tidak mungkin KMI akan terbentuk dan menggelar unjuk rasa besar-besaran. Ketika sudah muncul unjuk rasa besar, bukan tidak mungkin akan lahir reformasi jilid II. Ibaratnya, sekalian saja dibabat semua, lalu diganti dengan rezim yang benar-benar memperhatikan jeritan rakyat.

Akankah ini terjadi? Selama KMP vs KIH masih saja bertengkar, KMI pasti muncul.

*Penulis adalah pengamat politik dan wartawan senior Kalbar.

(dibaca 463 X)

None found.