Konsulat Malaysia Terima Jenazah Mr.Law

| Share on Facebook
Ilustrasi (fotoNETT)

Ilustrasi (fotoNETT)

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Imigrasi Malaysia yang diwakili oleh Junaina Ta’at secara resmi menerima jenazah Lau Tung Yong anak Lau Tai Chi atau yang dikenal dengan Mr Law seorang bandar narkobaHoree...e..e...Bride Bebas. Lanjut Baca ... » jaringan internasional dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pontianak, Rabu (12/2). Penyerahan jenazah Lau tung Yong tersebut juga dihadiri oleh pihak keluarga dan Konsulat Malaysia.

Staf Imigrasi Malaysia Junaina Ta’at menyatakan, proses serah terima antara pihak LP Kelas IIA Pontianak dan keluarga sudah selesai, sehingga tinggal proses lainnya. “Kalau tidak ada halangan, Jumat (14/2) jenazah akan dibawa ke Malaysia, melalui jalan darat,” ujarnya.

Saat ini lanjut dia, pihak keluarga masih melengkapi berbagai berkas, untuk membawa jenazah Mr Law untuk dimakamkan di Malaysia. Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak Sunarto, bahwa pihaknya juga secara resmi menyerahkan jenazah Mr Law warga negara Malaysia, ke pihak keluarga yang diterima oleh Konsulat Malaysia. Sunarto menjelaskan, MR Law meninggal, Senin  karena penyakit kanker yang sudah kronis selama mendekam di jerujui besi.

Menurut dia, MR Law sebelumnya masuk Rutan Kelas IIA Pontianak pada September 2010, kemudian karena tertangkap tangan mengedarkan narkoba saat dia dirawat di rumah sakit, akhirnya dipindahkan ke LP Pontianak, Maret 2013. “Selama mendekam di sel LP Pontianak, MR Law sudah ditangani oleh dokter sini, kalau tidak mampu baru dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Malah pihak keluarga pernah mengajukan pengobatan alternatif dan disetujui, tetapi tidak juga sembuh, dan akhirnya meninggal dunia,” kata Sunarto. Kepala LP Kelas IIA Pontianak menambahkan, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Mr Law sempat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar, malah diopname selama satu hari satu malam, namun pihak RS Bhayangkara tidak sanggup menanganinya, sehingga dirujuk RSUD Soedarso Pontianak untuk perawatan lebih lanjut. “Dia dimasukkan ke ICU, namun pihak dokter tak bisa menanganinya, dan akhirnya meninggal dunia,” kata Sunarto. Hingga saat ini, jenazah Mr Law masih disemayamkan di ruang jenazah RSUD Soedarso untuk proses selanjutnya, katanya

Pendamping Hukum Mr Law, Yarsi Sadawa menyayangkan, sikap pihak LP Kelas IIA Pontianak yang terkesan tidak memperlancar kepengurusan perawatan kliennya untuk dirujuk ke rumah sakit. “Alasan pihak LP Pontianak karena keamanan, dan harus dijaga oleh pihak kepolisian ketika mendapat perawatan di rumah sakit,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Pendamping Hukum Mr Law menyayangkan terlalu banyaknya proses yang harus dilalui untuk kalau mau membawa klienya berobat ke luar.

Namun keluhan pihak keluarga Mr law dibantah oleh Kepala LP Kelas IIA Pontianak Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak Sunarto, menurut dia, selama mendekam di sel LP Pontianak, MR Law sudah ditangani oleh dokter sini, kalau tidak mampu baru dirujuk ke rumah sakit terdekat.

“Malah pihak keluarga pernah mengajukan pengobatan alternatif dan disetujui, tetapi tidak juga sembuh, dan akhirnya meninggal dunia,” kata Sunarto. Sunarto juga membantah bahwa pihaknya menghalang-halangi kalau ada napi yang ingin berobat. “Untuk kasus Mr Law memang sudah sakit benaran, karena kankernya sudah menjalar dari kaki hingga ke bagian tubuhnya,” katanya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pontianak, Sunarto menyatakan, semua narapidana penghuni LP itu mendapat perlakukan yang sama, terkait perawatan kesehatan, dengan dirawat oleh dokter LP. “Untuk napi yang sakit kami tidak ada keistimewaan, termasuk kasus kematian Lau Tung Yong anak Lau Tai Chi atau yang dikenal dengan Mr Law seorang bandar narkoba jaringan internasional warga negara Malaysia itu,” kata Sunarto.

ia menjelaskan, pihak LP Kelas II A Pontianak mempunyai dokter sehingga ditangani oleh dokter yang bersangkutan. dijelaskannya lagi, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Mr Law sempat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar, malah diopname selama satu hari satu malam, namun pihak RS Bhayangkara tidak sanggup menanganinya, sehingga dirujuk RSUD Soedarso Pontianak untuk perawatan lebih lanjut. “Dia dimasukkan ke ICU, namun pihak dokter tak bisa menanganinya, dan akhirnya meninggal dunia,” kata Sunarto. (cece/jon)

(dibaca 595 X)