Pekerja Impor Masuk Kampus IAIN Langsa

| Share on Facebook
Sekjen Kopazka, Hermansyah

Hermansyah, Sekjen Kopazka

LENSAKAPUAS, LANGSA – Perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa menjadi Institute Agama islam Negeri (IAIN) Langsa atau kemudian dengan tanpa merujuk nomenklatur kerap disebut IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar bagi alumninya dan masyarakat Aceh umumnya.

Ihkwal dimaksud menjadi pembahasan hangat baik dalam diskusi mahasiswa, aktivis sampai forum alumni. Sejatinya, persoalan ini sudah menjadi konsumsi publik tentang hilangnya nama Zawiyah Cot Kala dalam alih status kelembagaan perguruan tinggi itu.

Meskipun sesayup terdengar suara dari sang pimpinan kampus akan memperjuangkan pengembalian nama tersebut. Namun hingga saat ini belum ada informasi akurat tentang progres pengembalian nama itu. Demikian dikatakan, Sekretaris Jenderal Korps Alumni Zawiyah Cot Kala (Kopazka), Hermansyah, S.Sos.I melalui rilisnya, Minggu (12/4/2015).

Ironisnya, kata dia, lahirnya IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, secara otomatis terjadi perubahan struktur kelembagaan kampus. Tentunya, membutuhkan banyak pejabat, baik dalam jabatan struktural maupun fungsional. Karenanya membutuhkan sejumlah prosedur dan kebijakan dalam pengangkatan pejabat (tenaga kerja) dalam posisi-posisi tertentu.

Dalam hal penempatan pejabat kampus, lanjut Herman, baik struktural maupun fungsional telah menghadirkan tenaga kerja dari luar (pekerja impor) yang dianggap oleh pimpinan kampus mampu untuk bekerja dalam memangku jabatan diberikan kepadanya.

“Saya menilai bahwa kebijakan pimpinan kampus untuk mendatangkan tenaga kerja dari luar (pekerja Impor) untuk memangku jabatan dikampus IAIN Zawiyah Cot Kala Langsamenunjukkan ketidak mampuan akademisi atau pekerja dari dalam kampus. Dalam kajian ilmu politik, apakah dengan menghadirkan pekerja impor  dari luar sebagai strategi untuk mempertahankan atau memperkuat kekuasaan di kampus agar dapat berkuasa seterusnya,” tanya mahasiswa pasca sarjana IAIN Sumatera Utara itu.

Padahal, tuturnya, akademisi dan pekerja di dalam kampus cukup memadai untuk ditempatkan dalam jabatan dikampus. Akan tetapi, mengapa harus mendatangkan dari luar, ini aneh sekali?. Karena pekerja yang didatangkan dari luar belum pernah mengabdi dikampus ini, dan seolah-olah menikmati hasil kerja keras orang lain. Karena yang bersangkutan datang setelah kampus ini berubah status kelembagaan.

“Mungkinkah kualitas akademisi / pekerja dalam tidak mampu untuk bekerja dan menjalankan tugas yang diberikan. Jika, alasannya tidak cukup pangkat dan gelar akademik tetapi kenapa ada yang diangkat tidak sesuai dengan pangkat dan gelar akademik. Apakah pengangkatan ini menggunakan prosedur atau kebijakan. Kalau kebijakan, tentunya sarat dengan suka dan tidak suka (like and dislike),” ketus dia.

“Kalau prosedur, tentunya berpegang pada aturan. Dia melihat ada dua pola yang diterapkan yakni kebijakan dan prosedur. Sehingga tidak utuh kebijakan dan tidak utuh prosedur. Sehingga membuat keputusan pengangkatan pejabat tersebut tidak profesional dan akuntabel. Kehadiran pekerja impor yang lahir dalam kalangan kolega, biasanya dalam kajian politik disebutperennial power (kekuasaan Abadi),” tegas aktivis itu.

Kemudian, sambung dia, dalam melanggengkan kekuasaan dapat bertahan apabila dilakukan beberapa hal yakni; menghilangkan peraturan-peraturan, membuat kebijakan baru yang menguntungkan penguasa, membuat sistem kepercayaan yang membantu memperkuat penguasa, dan memperkuat nepotisme.

“Ini adalah fenomena manajemen konflik tercipta yang akan melemahkan kinerja civitas akademika dalam menjalankan tugasnya. Meskipun manajemen konflik mampu memberikan dampak positif dalam mempertahan kekuasaan dan kemimpinan,” pungkas Hermansyah. (Alam/Putra Z)

(dibaca 492 X)