Pamabakng Liar Cemari masyarakat Adat Dayak

| Share on Facebook
10710542_1563376563893275_5343372025702876500_n

Martinus Ekok, S.H., M.H., Tokoh Masyarakat Adat Dayak Kalbar

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Pamabakng atau pemasangan tempayan merupakan kebiasaan turun temurun masyarakat adat dayak guna menolak bala agar massa tidak melakukan keributan didalam wilayah sengketa. Pemabakng terdiri dari satu buah tempayatn jampi Manyanyi, batutup pahar, Baalas Bokor, Mangkok sababk, sabilah parang, manok atau jalu sekok dan palantar secukupnya.

Adat Pamabakng hanya berlaku di-internal masyarakat dayak, kecuali terjadi perselisihan dengan suku lain diluar masalah pidana dan perdata. Misalnya terjadi sengketa sesama masyarakat dayak terkait persoalan pidana ataupun perdata, maka solusinya diselesaikan secara musyawarah adat maupun hokum adat. Nah kalau ternyata perselisihan itu muncul dengan suku lain, fungsi pamabakng tadi untuk kepentingan perdamaian.

Sayangnya belakangan ini,nilai-nilai positif dari prosesi adat pamabakng tampaknya mulai dicemari oleh oknum oknum tertentu guna memenuhi kepentingan pribadi semata.Kenyataan itulah yang membuat MartinusEkok, SH, MH, putera dayak yang ber-profesi sebagai advokat, berusaha kerasuntuk meluruskan fungsi dan tujuan adat pamabakng didalam kehidupan masyarakat.

“ Melihat kejanggalan itu, saya langsung mengambil insiatif untuk melakukan pertemuan sekaligus komunikasi dengan Ketua Umum DAD Propinsi Kalbar, CornelisDianggap Fitnah, Gubernur Kalbar Lapor Balik Jinku Ke Polisi. Lanjut Baca ... ». Dan beliau memerintahkan agar segera meluruskan prosesi pemasangan pemabakng yang berkeliaran dimana-mana.Sehingga adat orang dayak tidak disalah gunakan oleh oknum tertentu untuk kepentingan lain, “ tegasnya.

Terkait pemasangan pamabakng dihotel kapuas palace, menurut Martinus, sepanjang itu bukan dilakukan oleh timanggung, tidak pada tempatnya dan tujuannya belum jelas, maka saya anggap keliru. Tidak boleh memasang pemabakng ditempat orang. Dan apakah objek tersebut menjadi sengketa, sementara pemabakng berlaku khusus buat masyaraka tadat dayak.

Kalau berhubungan dengan tanah apalagi pemiliknya bukan orang dayak, kendati kuasanya orang dayak, pemasangan pamabakng tidak di benarkan.“ pamabakng terpasang kokoh dilokasi sengketa tanah tetapi pemiliknya bukan masyarakat dayak,berarti orang tersebut mengatasnamakan masyarakat dayak ketika terjadi sengketa, ini sudah tidak benar, “ terang Martinus.

Ia menilai praktek seperti itu jelas diliuar ketentuan dan tidak dibenarkan oleh adat istiadat maupun hukum adat dayak.  Tindakan demikian menjadi tanggung jawab pribadi bersangkutan. Karna orang yang berhak melakukan pemasangan pamabakng adalah pengurus adat atau timanggong.

Nah agar nilai-nilai tradisi tetap terjaga sekaligus guna mencegah hal-hal yang tidak di-inginkan, MartinusmenghimbaukepadaKetua DAD termasuk pengurus adat dayak yang ada di Kalimantan Barat maupun Kota Pontianak untuk secara selektif menerima pengaduan dari masyarakat serta memilah-milah mana yang dapat diakomodasi. Tidak semua pengaduan wajib direspon apalagi diproses.

Pemasangan pamabakng yang tidak tepat dan benar justru berdampak negatif bagi keseluruhan adat dayak itu sendiri dan pandangan suku bangsa lain. Olehkarnaituiamemintajikamasyarakat melihat pemasangan pamabakng yang mengusik kenyamanan lingkungan masing-masing, segera melaporkannya ke Pengurus dewan adat dayak terdekat.(Nov)

(dibaca 650 X)