Pembalakan Hutan Aceh Timur Kian Marak

| Share on Facebook

Ketua LSM KANA : Kayu Illegal Lolos, Ada Oknum Petugas Yang Becking

LENSAKAPUAS, ACEH TIMUR – Kondisi hutan di pedalaman Kabupaten Aceh Timur yang mulai kritis ssewaktu waktu berpotensi menimbulkan bencana alam yang siap menerjang  kawasan Aceh Timur.  Ketua LSM KANA Aceh Timur Mujakir mengungkapkan bahwa keberadaan hutan sangat penting bagi keseimbangan ekosistem lingkungan di dunia, yakni sebagai paru-paru dunia, mengendalikan bencana alam, rumah bagi flora fauna, dan masih banyak lagi fungsi hutan tersebut. Namun ia sangat menyayangkan praktik pengrusakan terhadap sumber daya ekosistem hutan terus saja terjadi. “Tidak bisa dipungkiri, kerusakan hutan terus saja berlansung dan terjadi setiap hari,” ujar Mujakir di Aceh Timur, Minggu 14 Juni 2015.

Menurut dia, penyebab utama kerusakan hutan yang terjadi di Aceh Timur itu karena maraknya praktik penebangan hutan secara liar atau yang biasa disebut illegal logging. “Umumnya kejadian seperti ini kerap terjadi di pedalaman Kabupaten Aceh Timur yang dilatarbelakangi oleh permasalahan ekonomi, kata Mujakir.

Terhadap persoalan itu, Ketua LSM KANA ini meminta kepada pemerintah setempat untuk bisa memberikan solusi dalam permasalahan ini guna merespons keresahan masyarakat Kota Langsa dan Aceh Timur atas aktifitas penebangan kayu secara liar tersebut. Gundulnya hutan, kata dia,  dikuatirkan dapat menimbulkan bencana yang besar, sebab hutan termasuk hulunya sungai Langsa juga menjadi sasaran para penebang liar. “Kian hari kian marak, terlihat  pengangkutan kayu bila menjelang malam hari,” ungkapnya.

Masih kata Mukajir,  semua kayu gelondongan yang keluar melalui Kecamatan Birem Bayeun diduga tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah. “Truk-truk pengangkut tersebut selalu melintas melalui jalur jalan Desa Alur Nyamuk, Paya Tampah, dan jalan Birem Keude. Hampir setiap malam petugas KPH, petugas Polhut, berada di simpang tiga jalan Desa Alur nyamuk kec, Birem Bayeun dan Pos Polhut sendiri berada di Birem Kede yang juga merupakan jalan lintasan truk pengangkut kayu balok yang diduga tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah,” beber dia.

Mujakir mensinyalir, lolosnya aktifitas pengangkutan kayu tersebut karena adanya keterlibatan petugas yang membeckingi.   “Koordinasi yang baik antara pelaku dengan yang beking, baik KPH atau Polhut yang berada di Pos Kede Birem. Tidak perduli kayu apapun jenisnya, baik kayu jenis meranti  atau jenis kayu putih, dan semua yang tanpa dokumen pun bisa lolos,” sebut Ketua LSM KANA.

Realitas tersebut terjadi, menurut Muzakir,  karena lemahnya penegakan supremasi hukum di Kabupaten Aceh Timur, sehingga menyebabkan praktik perambahan hutan secara illegal kian marak. “Tidak ada pemberian effeck jera bagi pelaku, Ini juga merupakan pekerjaan rumah bagi pihak terkait untuk menjalankan hukum yang baik dan lebih tegas,” tukasnya.

Ia menilai, faktor utama penyebab kerusakan hutan yang terjadi selama ini akibat mentalitas sebagian orang yang menganggap dirinya paling berhak untuk mengelola hutan. Selain itu, diduga kuat adanya bekingan dari oknum petugas yang berwenang. Dugaan tersebut, sebut Mujakir, mengemuka karena diperkuat dengan banyaknya oknum yang tidak amanah dalam menjalankan tugas serta menyalahgunakan kewenangan maupun jabatanya yang dimiliki, sehingga membuatn para pelaku perusak hutan merasa leluasa beraktifitas di Kabupaten Aceh Timur.

Selanjutnya Mujakir mengingatkan, karena dampak kerusakan hutan sangat merugikan bagi kehidupan manusia, maka ia mengajak seluruh stakeholder maupun komponen masyarakat yang ada harus bisa menjaga dan melindungi hutan dari keruskan. “Semakin lama hutan semakin gundul dan ini tentunya merugikan kita semua. Hutan yang gundul bisa menjadi penyebab terjadinya banjir pada musim penghujan maupun kekeringan dimusim kemarau,” kata Mujakir Selain itu, sambungnya, akibat aktifitas illegal tersebut, yakni hilangnya potensi keuntungan negara dari pendapatan hasil hutan.

“Matinya berbagai jenis flora dan fauna yang habitatnya di hutan menjadi sebab terjadinya fenomena perubahan iklim dan pemanasan global, sehinnga menimbulkan kerusakan ekosistem yang ada didarat maupun di laut. Secara tidak langsung hal ini menjadi sebab musabab kemiskinan,“ tandas Muzakir,mengahiri pembicaraannya pada awak media. (Alam)

(dibaca 535 X)