Pengabdian Guru di Daerah 3T

| Share on Facebook

IMG_20151016_153134LENSAKAPUAS, ANAMBAS KEPRI –  Secerca torehan pengapdian Nurul seorang Guru  di sekolah Terdepan, terluar dan tertinggal atau daerah 3T. Daeah  itu  adalah sebutan untuk daerah pengabdian para guru muda SM3T.

Sebuah program dibawah naungan Kemenristek Dikti yang mengirimkan guru-guru siap pakai untuk daerah 3T.

Demikian pesan yang di terima Juangnews.com minggu( 25/10/2015) dari Nurul Fadila lewat e-mail nya.

Dia melanjutkan, Di Pulau Jemaja desa Letung Kabupaten Anambas provisi Kepulauan Riau (Kepri ) merupakan daerah sasaran yang berada sangat jauh dari pekotaan serta dikelilingi oleh laut dan pulau-pulau kecil yang berbatasan dengan Negara tetangga Malaysia,namun kodisi ini tidak menurunkan semangat kami dalam melaksanakan tugas pengabdian khususnya dibidang pendidikan.

Dengan berbekal pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Samudra Langsa, melalui program SM3T LPTK Unsyiah Aceh, saya di berikan amanah untuk melaksanakan pengabdian di MTs Al-Ma’Arif Jemaja sekolah yang tepat berada disudut pesisir pantai pulau Jemaja.

Sempat sebelumnya saya mengabdikan diri di salah satu sekolah satap (Satu Atap) SMPN 2 Satap Sunggak, sekolah yang berada terpisah dari pulau Jemaja dimana medan perjalanan yang harus ditempuh yakni melewati jalan darat dengan menggunakan sepeda motor selama 45 menit kemudian harus menyebrangi laut dengan menggunakan Pompong (kapal boat) selama 15 menit. Sungguh hal ini tidak pernah terbayang di benak saya.

Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena SMPN 2 Satap Sunggak sudah memiliki guru bidang studi Bahasa Inggris sebagai guru tetap, sedangkan di MTs Al-Ma’Arif sekolah Swasta yang masih sangat kekurangan tenaga pendidik jauh lebih membutuhkan saya untuk dapat menjadi guru di Mts. Tak jarang murid-murid MTs ini mengalami kekosongan mata pelajaran karena tidak memiliki guru dibeberapa bidang studi sehingga saya harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran untuk dapat mengisi kekosongan yang ada.

Perjuangan tidak berhenti sampai disitu, bersama kesembilan teman yang berasal dari Univesitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Negeri Jogjakarta, kami disambut hangat oleh pemerintah setempat yang terlihat dari antusiasnya dengan memberikannya fasilitas rumah dinas atau Mess Pemda untuk tempat menginap kami selama berada didaerah 3T.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sesekali kami memanfaatkan waktu luang untuk memancing disudut dermaga pulau Berhala atau di dermaga pelabuhan Pikuk di hari hari sabtu dan minggu. Dan untuk memenuhi kebutuhan sayur-sayuran kami mencoba bercocok tanam di halaman sekolah SMPN 1 Jemaja dimana masih terdapat lahan yang bisa untuk ditanami sayur-sayuran.

Sebagai rasa terimakasih kami kepada warga setempat yang sudah memberikan dukungan dan berbagai fasilitas, kami mengadakan bimbingan belajar secara gratis di Mess Pemda empat hari dalam seminggu pada malam hari. Jumlah anak didik mencapai 70 siswa dalam bimbingan belajar yang kami bina.

Selain kekayaan alam, ada begitu banyak bibit-bibit generasi emas Indonesia di daerah perbatasan yang amat disayangkan jika mereka tidak mendapat haknya secara utuh dalam pendidikan. Bagi anak-anak, guru adalah jembatan menuju kesuksesan dimasa depan. Amat disayangkan jika daerah 3T masih sangat kekurangan tenaga pendidik. Banyak yang tidak ingin mengajar di daerah 3T karena kondisi dan segala keterbatasannya. Terlintas difikiran saat masa pengabdian akan segera berakhir. Apakah masih ada yang mengisi kekosongan guru saat kami kembali ke daerah..?

(dibaca 259 X)