Pertahankan Tradisi, Harjad 245 Pemkot Pontianak Gelar Festival Saprahan

| Share on Facebook

festival-saprahan-peringati-harjad-kota-pontianak-ke-245-tahun

 

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pontianak ke 245, Tim Penggerak PKK Kota Pontianak belum lama ini menggelar lomba Saprahan yang diikuti oleh 29 kelompok yang berasal dari kelurahan se Kota Pontianak. Berbagai sajian hidangan makanan khas Kota Pontianak membentang panjang di Gedung Pontianak Convention Centre (PCC). Saprahan dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata saprah yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai dengan bentangan memanjang.

Wali Kota Pontianak, SutarmidjiEh Ketahuan, Tender Proyek di PU Kota Pontianak "Wajib Setor". Lanjut Baca ... » menuturkan, memasuki tahun ketiga digelarnya festival saprahan itu, restoran -restoran bernuansa Melayu sudah ada yang memulai menyajikan hidangan bergaya saprahan.  “Ini bisa jadi sajian khas kuliner untuk Kota Pontianak. Kita akan kembangkan lagi jenis – jenis makanan dan cara penyajiannya khas Melayu Pontianak,” ujar dia.

Tahun depan, lanjut Midji, jumlah peserta Festival Saprahan akan lebih ditingkatkan lagi, dengan cara membuka kesempatan kepada masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi.

Ia menilai, dari sisi makanan yang dihidangkan, berupa lauk-pauknya memang sepintas sama. “Tetapi kalau melihat dari warnanya saja, sudah bisa diketahui bagaimana rasa makanan itu. Semestinya, aspek penilaian tidak hanya dari sisi cara penyajiannya saja, tetapi rasa juga harus menjadi pertimbangan dalam penilaian. Jadi, penilaian tidak hanya lebih memperhatikan estetikanya saja, tetapi juga rasa,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji menerangkan bahwa untuk jumlah peserta, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. “Sebelumnya hanya 18 kelompok, sekarang 29 peserta berasal dari seluruh kelurahan se Kota Pontianak. Saprahan ini bertujuan untuk melestarikan dan mempertahankan adat budaya melayu,” ucapnya.

Dikatakan Lismaryani, tradisi saprahan antara Kota Pontianak dengan daerah lain di Kalbar ada perbedaan. “Kalau di Kota Pontianak makan saprahan dengan sajian hidangan memanjang, di Sambas sajian diletakkan di dalam wadah atau baki dan peserta atau tamu yang menikmati hidangan terdiri dari 4 – 6 orang tiap-tiap hidangan. Kalau kita makan saprahan sekitar 9 hingga 10 orang,” terangnya.

Budaya makan saprahan, kata Lismaryani, tidak hanya di kalangan orang dewasa saja,  tetapi juga sudah mulai merambah ke kalangan generasi muda. “Seperti Festival Saprahan tingkat SMA/SMK sederajat yang telah digelar baru-baru ini. Bahkan, ke depan, Pemerintah Kota Pontianak juga berencana menggelar saprahan tingkat SMP sederajat supaya tradisi makan bersama secara lesehan ini lebih dikenal generasi muda. Insya Allah, tahun depan juga direncanakan digelar di ruang terbuka yakni Taman Alun Kapuas dan kemungkinan masuk dalam Rekor MURI,” harap dia.

Ketua TP PKK Kota Pontianak meminta kepada seluruh TP PKK, baik di kecamatan maupun kelurahan, untuk menjadikan saprahan ini sebagai program kerja PKK. “Budaya ini harus dilestarikan dan dipertahankan supaya tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.

Selanjutnya, dalam Festival yang digelar pihaknya di PCC itu, pemenang pertama dari Kelurahan Benua Melayu Laut, pemenang kedua Kelurahan Tanjung Hulu, pemenang ketiga Kelurahan Dalam Bugis, urutan keempat Kelurahan Batu Layang, kelima Kelurahan Tanjung Hilir dan keenam Kelurahan Banjar Serasan. (Novi)

(dibaca 70 X)