Pemilik Home Industri Lidah Buaya Akomodir Tuntutan Warga

| Share on Facebook

DSC_1056LENSAKAPUAS, PONTIANAK –Pertemuan antara perusahaan home industri produk lidah buaya CV. Jeski dengan warga sekitar penghuni Komplek di Kelurahan Siantan Tengah Kec. Pontianak Utara yang difasilitasi Camat Pontianak Utara membuahkan hasil. Sejumlah tuntutan warga setempat dipenuhi pihak pengusaha yang kemudian dituangkan dalam kesepakatan antara kedua belah pihak, Jumat, 15 November 2013.

Keluhan warga  dipicu adanya dugaan limbah perusahaan Home Industri yang meresap ke parit, dimana air parit difungsi airnya banyak pergunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, terkait adanya kebisingan udara (suara mesin) dan pencemaran udara , aroma tak sedap yang dirasakan oleh warga sekitar komplek tersebut.

Sebelumnya, keluhan warga itu sudah disampaikan kepada Lurah, namun belum ada tanggapan hingga akhirnya warga komplek meminta kepada Camat Pontianak Utara untuk mencari solusi bersama.

“Hasil mediasi dengan pihak perusahaan sudah direspon. Ada 12 point keinginan warga masyarakat sudah 10 point yang dipenuhi, sedangkan 2 item  masih dipending, karena bukan kewenangan kita,” ujar Fauzi, SIP, M.Si., Camat Pontianak Utara.

Menurutnya, belum terpenuhi 2 item tersebut karena bukan domain pihaknya. “Masalah kanopi dan berkaitan dengan pengurangan karyawan,” kata dia. “Artinya, kita perlu konsultasi dulu dengan Departemen Tenaga Kerja mengenai home industri, jadi kita tidak berani mengambil keputusan,” imbuhnya.

Secara terpisah, Pegusaha lidah buaya, Beni mengungkapkan usaha pengolahan lidah buaya miliknya sudah berjalan sekitar 2 tahun. Mengenai adanya keluhan dan permintaan masyarakat sekitar, kata dia, tidak dipermasalahkan. “Seperti permintaan perbaikan jembatan, karena selama ini dari awal kita juga yang perbaiki. Dulu jembatannya dari kayu, sekarang sudah  kita semen,” ungkapnya.

Sementara kalau soal kebisingan dan polusi udara (bau tak sedap), menurut Beni tidak seperti yang tudingkan. “Kalau kebisingan (mesin pompa air) cuma ini aja, dan kalau  masalah bau, kita kan mengupasnya di kebun, jadi datang sudah dalam bentuk potongan (lidah buaya). Di sini cuma dicuci pakai air dan tidak pakai bahan kimia. Ada penampungan air limbahnya,” terang Beni seraya mempersilahkan wartawan untuk melihat langsung seluruh aktifitas kegiatan usahanya.

Selain itu, lanjut Beni,  keberadaan usahanya justru membuka peluang kerja bagi masyarakat seperti yang diharapkan pemerintah. “Petani juga kita bina, jadi untuk kemakmuran bersama lah,” harapnya. “Adapun jumlah karyawan di sini 40 orang, di pengupasan 20 orang (petani) dan petani binaan kita ada 37 KK,” terangnya.   (alam/novi)

(dibaca 1730 X)

None found.