Polisi Maen Hajar’ ARKB Tuntut Tanggungjawab Kapolda

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Koalisi Mahasiswa dari sejumlah elemen OKP, diantaranya: GMNI, PMKRI, SolmadaparUnjuk Rasa Solmadapar Buat Kapolda Baru. Lanjut Baca ... », dan Gemakum Untan yang kemudian menyatu dalam wadah Aliasi Rakyat Kalimantan Barat (ARKB) mengecam tindakan Represif yang dilakukan Aparat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat. Untuk itu, mereka meminta Pimpinan Tertinggi di Institusi Penegak Hukum tersebut menindak tegas bawahannya yang terbukti melakukan tindakan diluar koridor hukum. “Kami minta Kapolda untuk menindak tegas oknum aparat yang melakukan tindakan pemukulanIni Alasan Akbar CS "Blanat" Sariansyah. Lanjut Baca ... » dan pelecehan kepada Mahasiswa yang mengadakan aksi penolakan kenaikan harga BBM, Pk.21.00 – 23.30 wib tadi malam,” kata Sumadi, Koordinator ARKB dalam jumpa pers di Kantor Lembaga Pers Mahasiswa Untan Jl. Daya Nasional, sabtu (22/06/2013).

Sumadi menilai, tindakan represif tersebut telah menodai nilai-nilai demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia. “Tujuan kami aksi, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah menaikan harga BBM, dan ini negara demokrasi, rakyat berhak untuk menyuarakan hak-haknya. Sebetulnya, dalam aksi kami tidak pernah menginginkan terjadi “chaos” (ricuh red), tapi aparat yang memancing duluan dengan menendang kayu bekas yang dibakar kearah kawan-kawan. Bukan hanya berhenti sampai disitu saja, kayu yang masih ada kobaran api itu diambil petugas untuk memukul mahasiswa, bahkan rekan kami yang perempuan juga di dorong dan ditendang petugas” ungkap Sumadi.

Terhadap tindakan tersebut, ia berjanji akan melaporkan ke Gubernur, Komnas Ham Kalbar dan Propam Polda Kalbar. “Kalau tidak ditindak lanjuti juga, kami akan laporkan Kapolri minta supaya Kapolda Kalbar dan Kapolresta Pontianak dicopot dari jabatannya,” ujar Sumadi.

Ia pun mempertanyakan Prosedur Pengamanan yang dijalankan Kepolisian. Menurutnya, mengacu Protap, seharusnya apabila ada peserta aksi dari kaum perempuan, maka ditempatkan petugas pengamanan dari Polwan. “Selama lima hari berturut-turut kami aksi, tidak ada barikade Polwan,” pungkasnya, seraya menyebut satu persatu rekannya yang jadi korban.

“ Korbannya Novi Safitri, Kasanova, Wahyu, Ryan, Erik. Namun hamper 80 % peserta aksi mengalami kekerasan. Kami sudah pegang bukti foto dan rekaman” timpal Yunus. Casanova, korban pemukulan yang hadir dalam konferensi pers mengakui, dirinya saat kejadian mengingat jelas oknum pelaku petugas yang memulai memprovokasi keadaan. “ Saya ingat betul wajahnya, karena posisi kami berhadap-hadapan, hanya saya tidak tau namanya. Membakar potongan kayu bekas, sebagai symbol penolakan kenaikan harga BBM,” katanya. Pengakuan Casanova diamini korban lainnya Novi Safitri.

Gerry, yang juga Ketua PMKRI Pontianak membenarkan apa yang diungkapkan rekan-rekannya. Ia juga meminta tindakan sewenang-wenang aparat Kepolisian di usut tuntas. “Fungsi aparat kepolisian adalah sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, bukan justeru bertindak semena-mena kepada rakyat, untuk itu kami minta diusut tuntas” ujar Gerry.
(novi)

(dibaca 850 X)

None found.