PROPER 2013, Perusahaan yang Harus Dinilai Semakin Banyak

| Share on Facebook
Posted on December 11, 2013 by Ratih Rimayanti
proper
Jakarta, Ekuatorial — Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) periode 2012–2013 telah diumumkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya di Jakarta. Tingkat ketaatan periode 2012-2013 secara umum mencapai 65% mengalami sedikit penurunan dibanding tahun kemarin yang mencapai 69%. Hal ini disebabkan adanya penambahan peserta baru sebanyak 38 % dibanding tahun sebelumnya.

Pada periode ini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama institusi lingkungan hidup provinsi di seluruh Indonesia mengawasi kinerja pengelolaan lingkungan 1.812 perusahaan yang meliputi sektor manufaktur, pertambangan, energi dan migas, agroindustri serta sektor kawasan dan jasa. Periode PROPER kali ini juga memperkenalkan Mekanisme Penilaian Mandiri untuk memudahkan penilaian jumlah perusahaan yang meningkat, namun mekanisme diperuntukkan bagi perusahaan yang telah mendapatkan peringkat biru tiga kali berturut-turut atau mendapat peringkat hijau atau emas pada periode sebelumnya. Sebanyak 201 perusahaan diawasi oleh KLH, 1160 perusahaan diawasi oleh Provinsi, dan 451 perusahaan melalui Mekanisme Penilaian Mandiri.

Kriteria Penilaian PROPER tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 06 tahun 2013 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kriteria ketaatan berperingkat: biru, merah dan hitam, sedangkan kriteria penilaian aspek lebih dari yang dipersyaratkan adalah hijau dan emas, yang diperkenalkan pemantauan kinerja berdasarkan Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan. Adapun aspek ketaatan dinilai dari Pelaksanaan dokumen lingkungan (AMDAL/UKL-UPL), upaya pengendalian pencemaran air dan udara, Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dan Penanggulangan kerusakan lingkungan khusus bagi kegiatan pertambangan.

Hasil penilaian PROPER periode ini menunjukkan penyabet peringkat emas berjumlah 12 perusahaan, peringkat hijau berjumlah 113 perusahaan, peringkat biru berjumlah 1039 perusahaan, sedangkan peringkat merah berjumlah 611 perusahaan, dan peringkat hitam berjumlah 17 perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang mendapatkan peringkat emas adalah sebagai berikut:

  1. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.-Pabrik Palimanan, Cirebon, Jawa Barat
  2. Chevron Geothermal Salak, Ltd., Sukabumi, Jawa Barat
  3. PT. Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang, Bandung, Jawa Barat
  4. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Unit Panas Bumi Drajat, Garut, Jawa Barat
  5. PT. Jawa Power, Probolinggo, Jawa Timur
  6. PT. Holcim Indonesia, Tbk – Cilacap Plant, Cilacap, Jawa Tengah
  7. PT. Unilever Indonesia, Tbk – Pabrik Rungkut, Surabaya, Jawa Timur
  8. PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk – Pabrik Tuban, Tuban, Jawa Timur
  9. PT. Pertamina (Persero) S&D Regional II terminal BBM Rewulu, Bantul, Yogyakarta
  10. 10. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit Pertambangan Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan
  11. 11. PT. Badak NGL, Bontang, Kalimantan Timur
  12. 12. PT. Medco E&P Indonesia – Rimau Asset, Musi Banyuasin dan Muara Enim, Sumatera Selatan

Perusahaan-perusahaan yang mendapatkan peringkat hitam adalah sebagai berikut:

  1. CV. Muara Jaya, Lampung Timur
  2. Hotel Grand Mirage, Badung, Bali
  3. Hotel Haritage Toraja, Sulawesi Selatan
  4. PLTU Amurang-Moinit, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara
  5. PLTU NII TANASA, Konawe, Sulawesi Tenggara
  6. PT. Cheil Jedang Superfeed, Serang, Banten
  7. PT. Dynaplast, Tangerang, Banten
  8. PT. Hotel Citra Batam Investama (Swiss-Bel Hotel Harbour Bay), Batam, Riau
  9. PT. PLN (Persero) PLTD Bula, Seram Bagian Timur, Maluku
  10. 10. PT. PLN (Persero) PLTD Langgur, Kota Tual, Maluku
  11. 11. PT. PLN (Persero) Pusat Listrik Sanggeng (PLTD Manokwari), Papua
  12. 12. PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Labuhan Angin, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
  13. 13. PT. Waenibe Wood Industries, Buru, Maluku
  14. 14. RSUD Masohi, Maluku Tengah
  15. 15. RSUD Prof. DR. Aloei Saboe, Gorontalo
  16. 16. Rumah Sakit UMUm Daerah Polewali Mandar, Sulawesi Barat
  17. 17. The Sultan Hotel Jakarta

Perusahaan mendapatkan peringkat hitam umumnya karena tidak memiliki dokumen lingkungan, tidak melakukan kewajiban pemantauan air limbah dan emisi yang dihasilkannya serta pengelolaan limbah B3 yang tidak sesuai dengan peraturan. Perusahaan-perusahaan tersebut akan ditindaklanjuti dengan proses penegakan hukum lingkungan. Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup telah menindaklanjuti 79 perusahaan peringkat hitam tahun 2011–2012.

“Mekanisme dan Kriteria Penilaian PROPER memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi praktek pengelolaan lingkungan terbaik dan menyebarluaskan kepada para pemangku kepentingan, sehingga tercipta perubahan besar dalam perilaku dan meningkatkan taraf pentaatan terhadap peraturan lingkungan hidup,” ujar Balthasar dalam pengumuman hasil peringkat PROPER 2013 pada 10 Desember 2013. (Ratih Rimayanti)

Sumber : www.ekuatorial.com

(dibaca 770 X)