Rencana Aksi Program Redd+ Perlu Sinergitas

| Share on Facebook

pohonLENSAKAPUAS, PONTIANAK – Program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) plus merupakan upaya mengurangi emisi dari gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan, yang mencakup konservasi, manajemen hutan, dan peningkatan stok hutan karbon. “Program ini merupakan kerjasama Pemerintah RI dengan Jepang,” ujar Gun Gun Hidayat, Ph.D., National Coordinator IJ-Redd+ Project di Pontianak, Selasa, 29 Oktober 2013.

Jadi, kata dia, koordinasi dengan stakeholders yang ada sangat diperlukan. “Kami akan membantu pemerintah daerah, bappeda, dinas kehutanan untuk bisa mengefektifkan RAD GRK dan Strap REDD+,” ucapnya.

DR.Ir. Gusti Hardiasnyah, M.Sc. QAM., Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura PONTIANAK menyabut baik program tersebut. Ia pun lantas mengingatkan kembali mengenai target yang diungkapkan oleh Presiden SBY bahwa tahun 2020 Indonesia harus bisa mengurangi emisi dengan kemampuan sendiri 26%, dengan dibantu negara Jepang, maka bisa mencapai 40%. Begitupun halnya, kata dia, target Gubernur Kalbar. “Ada tertulis  dalam document Strategis Rencana Aksi Provinsi Redd+, termasuk rencana aksi daerah menurunkan gas emisi rumah kaca,” ungkap Gusti.

Kongkretnya, kata dia, dengan tetap menjaga kelestarian hutan. “Kita ajarkan bagaimana cara mengelola hutan dengan baik, termasuk hutan adat, hutan desa,  dan hutan rakyat. Nah, dengan adanya bantuan Pemerintah Jepang, kita bia sinergikan database, satelit, termasuk penguatan pemerintah kabupaten,” tukasnya. (novi)

(dibaca 699 X)

None found.