Replik Jawaban Pemohon Tersangka Pemakan Bangkai Orang Utan

| Share on Facebook
orang utan

(Nett)

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Sidang dengan agenda pembacaan replik  jawaban atas persepsi Pemohon, kasus 2 warga yang memakan bangkai orang utan digelar di Pengadilan Negeri Pontianak, Selasa 26 November 2013.

Dalam jawaban replik Pemohon, Andel, S.H. M.H., mengatakan bahwa atas penangkapan dan penahan kliennya yang memakan bangkai daging orang utan,  menurut termohon (BKSDA) bukan dilakukan pihaknya, melainkan oleh Polda Kalbar. “BKSDA hanya ingin cuci tangan saja, padahal kewenangan kepolisian hanya administrasi, seharusnya KSDA yang menyidik,” kata Andel.

Seharusnya, kata dia, BKSDA melakukan penyidikan pegawai sipil, dan harus berkoordinasi dengan pihak Polda dalam penangkapan dan penahanan, bukan hanya cuci tangan, dan dilimpahkan kepada Polda. ”Dalam penggeledahan, yang mengeluarkan surat adalah KSDA, lalu kenapa harus Polda  yang dipersalahkan oleh BKSDA,” tanya Andel.  Menurutnya,  BKSDA minim melakukan sosialisasi dan telah melakukan pembiaran. “Sebenarnya bukan kesalahan masyarakat,” tegasnya.

Diungkapkan Andel,  setelah kejadian itu, ada warga setempat yang sedang bekerja di kebun sawitPeluang Pengadilan Jalanan Terbuka Lebar. Lanjut Baca ... » dikejar-kejar oleh orang utan, sehingga yang bersangkutan tidak berani untuk kembali ke kebun lagi untuk mengambil alat semprotan rumput.

Ketua adat Bukit Rel Jalan Panca Bhakti, Petrus juga mengungkapkan hal senada. Ia mengisahkan, Istri  Junaidi yang sedang merumput di kebun sawit milik Martius Celeng tiba-tiba di serang orangutan, karena ketakutan alat semprot miliknya sampai ketinggalan di kebun. Namun, 2 hari kemudian ia bersama suaminya mengambil alat semprot yang tertinggal.

Petrus juga tidak mengetahui siapa yang akan dipersalahkan dengan kejadian itu. “Apakah pemerintah ataukah masyarakat yang menyebabkan orang hutan tidak memiliki tempat tinggalnya karena hutan yang ada sudah habis dibakar,” tanyanya (cece)

(dibaca 712 X)