Rumah Warga & Posyandu Siantan, Tak Kebagian Ledeng Program MBR

| Share on Facebook

rumah dan posyandu

Bambang : Padahal Tiap Bulan Butuh Air Bersih Untuk Layanan Posyandu Balita

LENSAKAPUAS, PONTIANAK– Air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang berkaitan erat dengan sektor pelayanan publik dalam upaya pengentasan kemiskinan. Semakin baik kondisi sarana dan prasarana infrastruktur air minum yang tersedia, niscaya penilaian masyarakat atas pelayanan publik baik pula. Demikian juga sebaliknya.

Berkenaan dengan pelayanan air minum masyarakat, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus berupaya melakukan penambahan akses aman air minum hingga akhir tahun 2019, salah saatunya melalui program jaringan perpipaan dengan sasaran target sebanyak 27,6 juta Sambungan Rumah (SR), yang dikenal dengan Program Hibah Air Mimun Perkotaan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Namun, pelaksanaan Program Hibah Air Minum Perkotaan MBR yang dianggarkan dalam APBN 2017 tersebut di Kota Pontianak justeru dipertanyakan. Pasalnya, sejak dicanangkan program tersebut oleh pemerintah pusat, realisasinya terkesan pincang.

Hal tersebut diungkap oleh warga kepada awak media belum lama ini. “Mohon diperhatikan, karena kami masyarakat sangat membutuhkan air bersih,” pinta Misyaini.

Ironisnya, kata dia, program pemasangan ledeng bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang merupakan program pemerintah pusat (APBN) tahun 2017 itu hingga kini tak terpasang. Anehnya lagi, sambung Misyaini, ada 2 Rumah yang telah melengkapi administrasi serta persyaratan yang diminta, dan telah mendapat nomor registrasi atas nama Misyani dan Bambang, namun hingga berakhirnya program pelaksanaan tidak mendapatkan sambungan leding.

Padahal kata Bambang, dirinya sudah memenuhi persyaratan sama dengan warga yang lainnya yang sudah terpasang air bersih.

Untuk mencari solusi atas persoalan itu, menurut Bangbang, dirinya sudah meminta Bagian Pengawasan Program MBR ke kantor Walikota, ia pun diarahkan untuk menelfon Wawan, selanjutnya Wawan mengarahkan Bambang ke PDAM di Jalan 28 Oktober serta menjumpai Pak Januar. “Namun sampai sekarang kami tidakk pernah berjumpa dengan Januari. Sehingga putusan masalah air bersih masih terkatung-katung tanpa ada jaminan dan kejelasannya,” kesal Bambang.

Padahal kata dia, tempatnya itu dijadikan Sekretariat Posyandu yang setiap bulannya melaksanakan kegiatan rutin pelayanan Posyadu Balita. “Bagaimana Balita bisa sehat sejahtera jika air bersih yang dibutuhkan mereka tidak tersedia,” sebut Bambang.

“Sekretariat Posyandu kami sebagai contoh untuk masyarakat menggunakan air bersih, tapi kenapa di Posyandu kami tidak mendapatkan sarana air bersih yang kami perlukan untuk mencuci tangan Balita setiap bulannya. Dan Selama ini Kami selaku kader selalu mengingatkan ke semua warga pentingnya 10 program Keluarga Sejahtera,” tandas Bambang. (Is/Bg)

(dibaca 331 X)