Saksi Kasus Besi Eks. PT.KWI Diduga Masuk Angin

| Share on Facebook

saksi. ARMEN, MICHAEL, ALIM, KASIDI alias AHOK (2) (1)

Penyidik Polres pun Dibilang Salah Ketik BAP

LENSAKAPUAS, KETAPANG – Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi kasus besi skrap eks. PT. Kawedar Wood Industry (PT. KWI) di Kabupaten Ketapang, Kalbar, disinyalir sarat rekayasa. Pasalnya, 5 (lima) orang saksi yang dihadirkan, yakni : Armen, Michael alias Tjoa Khi Heng, Alim, Kasidi alias Ahok, dan Beni, ketika memberi keterangan di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ketapang pada tanggal 15 – 16 Dessember 2014 lalu, tidak sejalan dengan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Bahkan, BAP saksi dikatakan salah ketik.

“Itu bukan keterangan saya, itu Polisi yang salah ketik, nanti kita kasi tahu,” kata saksi Alim kepada Majelis Hakim ketika memberikan keterangan di Persidangan. Kelima saksi yang dihadirkan oleh JPU itu, sempat mengundang perhatian para pengunjung di Pengadilan. Selain keterangan yang sampaikan berbeda dengan hasil BAP, beberapa saksi juga terkesan berbelit – belit.  Sehingga, persidangan yang  dipimpin Majelis Hakim Eri Sutanto, SH selaku Hakim Ketua didampingi anggota serta Tony. S, SH selaku Jaksa Penuntut Umum itu pun berlangsung selama 3 hari.

Adapun kronologis kejadian kasusnya, berawal ketika Amin dan Lie Li Phin menjual besi skrap eks. PT. KWI Ketapang senilai Rp13 Miliar secara borongan kepada Lilis Tjahaja, seorang pengusaha pemborong besi skrap, dengan Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) Scrap Mesin eks. PT.KWI Nomor : 007/SPJB/A-LT/VII/2014, pada tanggal 01 Juli 2014.

Selanjutnya, oleh Lilis Tjahaja, besi yang telah ia beli itu kemudian dijual lagi kepada Kasidi alias Ahok dengan hitungan tonase. Setelah besi skrap tersebut dimuat Kasidi, ternyata hitungan Tonasenya tidak sesuai dengan kesepakatan antara keduanya. Merasa klaimnya kepada Lilis tidak direspon, lantas Kasidi pun memilih menempuh jalur hukum, hingga akhirnya menyeret pasangan suami isteri, Amin dan Lie Li Phin, dengan tuduhan melakukan perbuatan melawan hukum dan disangka dengan pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.

Amin Tuntut Keadilan.

Merasa tidak bersalah, Amin dan Isterinya Lie Li Phin mencari bantuan hukum dengan meminta dampingan 2 (dua) Pengacara. “Kami merasa tidak bersalah, kami membeli besi bekas PT. KWI seharga Rp11 miliar, biaya lain-lain termasuk pemotongan besi hampir Rp1 miliar. Sementara, uang yang kami terima baru Rp5,69 miliar, sisa yang belum dibayar sekitar  Rp7,3 miliar. Sekarang saya malah dipenjara, terus siapa yang  akan tanggung kerugian saya?” tanya Lie Li Phin di depan Majelis Hakim.

Terhadap fakta yang ia alami tersebut, Lie Li Phin berharap adanya penegakan hukum yang berkeadilan terhadap dirinya bersama suaminya Amin. Hingga berita ini diturunkan, masih ada beberapa saksi yang akan dihadirkan pada persidangan bulan Januari 2015. (Red/Suhardi).

(dibaca 603 X)