Seteru Dua Warga Mempawah Belum Kelar

| Share on Facebook

kasus perselisihan warga mempawahLENSAKAPUAS, MEMPAWAH – Perselisihan dua warga Mempawah, Suryadi dan Ashin sejak tahun 2013 silam hingga kini belum mencapai titik temu. Karena tidak ada yang mau mengalah, kedua belah pihak itu pun saling lapor satu sama lain ke pihak yang berwajib.

Berikut kronoligis kejadiaanya sebagaimana diungkap Suryadi seorang pengrajin meubeler dan Isterinya Hasti. “Awalnya dulu, saya membeli kayu persegi ukuran 5 x 10 x 220 cm sebanyak 42 batang dari pak H. Abdul Hamid yang rencannya akan dipakai sendiri. Karena belum diketam, pada hari Kamis (7/11/2013) isteri saya meminta kepada pak Haji agar diantarkan  ke gudang pengetaman kayu milik pak Ashin di daerah Semudun,” kata Suryadi memulai. Kayu yang dibawa ke gudang pengetaman milik Ashin itu, kata dia, diterima oleh seorang pekerja yang dipanggil Yas oleh rekannya.

“Haji Hamid dibantu kernet dan saya waktu itu ada memberi upah atas jasa pekerja itu, karena pak Ashin lagi tidak berada ditempat, jadi kayunya tidak lansung dikerjakan. Esok harinya Jum’at (8/11/2013) saya mengecek lagi, apakah sudah dikerjakan atau belum, dan ternyata belum dikerjakan,” timpal Hasti melanjutkan cerita suaminya.

Waktu itu, kata Hasti, dirinya bertanya kepada Yas alasan belum dikerjakan. “Belum ada perintah dari Bos untuk dikerjakan, jadi kami tidak berani kerja tanpa perintah,” ucap Hasti meniru jawaban tukang. Hari berikutnya,  sambung Hasti, Sabtu (9/11/2013), ketika kayu miliknya mau ditarik kembali dan direncana untuk dipindahkan jasa pengetaman lain, ternyata kayu miliknya itu sudah dikerjakan. “Ini yang sangat kami kesalkan. Kenapa waktu akan dikerjakan tidak  menghubungi kami dulu, padahal pak Ashin sudah kenal dan sering mengambil jasa dengan kami,” kesalnya.

Menurut Hasti, kayu yang diketam itu ada ukuranya masing-masing dan hal tersebut belum disampaikan pihaknya. “Kayu yang dikerjakan itu tidak dikoordinasikan dengan kami tentang rincian ukurannya, makanya kami minta pak Asin mengganti dengan kayu lain sesuai ukuran yang diperlukan. Akan tetapi Ashin tidak mau menggati atau menukar kayu miliknya, dengan alasan yang mengetam bukan dirinya, melainkan anak buah yang ia pekerjakan. “Minta ganti saja dengan mereka,” tiru Hasti.

Alhasil, perselisihanpun  tak terhindarkan. Upaya penyelesaian secara kekeluaraan hingga dilakukan mediasi oleh kepala desa setempat pun sia-sia. “Karena tidak ada penyelesaian, kami yang merasa dirugikan berinisiatif melaporkan persoalan tersebut ke Polsek Sungai Kunyit,” kata Hasti.

Setelah menunggu tanpa ada kejelasan,  oleh suaminya Suryadi, dipertanyakanlah perkembangan penanganan perkara oleh Penyidik Polsek Sungai Kunyit dengan menggunakan nama Lembaga Swadaya Masyarakat LP2TRI melalui surat resmi Nomor : 54/SL/LP2TRI/XI/2013, tanggal 13 Nopember 2013, yang intinya mempertanyakan atas laporan Hasty Widiastuti.

“Surat suami saya atas nama lembaga itu mendapat respon dari Polsek, dengan surat jawaban tertulis Nomor : B/249/XI/2013, klasifikasi biasa, perihal undangan koordinasi dan mediasi penyelesaian masalah yang dijadwalkan pada hari Jum’at (22/11/2013) Pukul .09.00 Wib bertempat di ruang Unit Reskrim Polsek Sungai Kunyit.  Undangannya ditandatangani oleh Iptu Joko Sutriyatno, S.H. ,” terangnya.

Mulai saat itu, hubungan yang yang harmonis diantara dua orang warga yang pernah menjalin hubungan bisnis itupun retak hingga saat ini. Hasti terus berharap agar pemilik usaha pengetaman kayu Ashin bertanggung jawab dan mengganti kayu yang telah dikerjakan itu.

Berdasarkan penilaian Hasti,  pihak  Ashin telah melakukan kelalaian dalam memenuhi hak-hak konsumen sebagaimana diatur dalam UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. “Akibat perbuatannya ini, kami tidak bisa mengerjakan order pesanan yang harus segera kami kerjakan,” kesalnya, seraya menunjukan surat polisi  laporannya ke pada wartawan.

Atas laporannya, Penyidik Polsek memanggil pihak Pelapor dan Terlapor untuk dimintai keterangan. Hasil penyelidikan polisi, terhadap laporan Hasti tidak ditemukan unsur-unsur pidana yang bisa menjerat bos soumil (pengetaman kayu) Ashin. Sebab laporan pengrusakan yang dibuat Hasti dinilai kabur. Polisi tidak menemukan  objek laporan yang rusak.

Ketika dikonfirmasi, Kapolsek Sungai Kunyit membenarkan adanya laporan warga tentang adanya dugaan pidana pengrusakan barang (kayu). “Akan tetapi Hasti  tidak mengakui BB yang ada di Polsek, makanya proses hukum tidak kami dilanjutkan,” terang Saiful Bahri, Kapolsek Sei Kunyit didampingi Kanit  Joko kepada wartawan. Namun, kata dia,  pihak kepolisian tidak mengabaikan begitu saja laporan Hesti. Polsek masih berupaya melakukan upaya ‘mediasi’ untuk mencari solusinya. “Dua kali mediasi di Polsek, namun belum ada titik temu,” kata Saiful.  Karena belum kata sepakat diantara kedua warga tersebut, perselisihan  pun belum bisa diredam.

Suatu ketika,  suami Hasti, Suryadi ada melihat kendaraan mobil angkutan material  milik Ashin sedang bongkar muat batako di depan rumahnya. Karena masih tersimpan rasa kesal, Suryadi menghampiri si sopir dan kernetnya untuk mampir sejenak ke rumahnya. Dihadiri oleh ketua RT, Suryadi pun menceritakan persoalannya dengan Ashin yang hingga kini belum tuntas kepada si sopir.

Menurut Suryadi, sopir bersama kernet pun mencoba untuk mengerti, dan memaklumi ketika Suryadi meminta kunci mobil. “Tanpa paksaan, sopir mau menyerahkan kunci,” ucapnya. Ia pun berpesan melalui sopir, supaya  mengajak Ashin datang kerumahnya dengan maksud menyelesaikan masalah sebelumnya secara kekeluargaan.

Karena ditunggu tidak juga datang, Sebagai warga negera yang taat dan patuh terhadap hukum, kata Suryadi, dirinya berinisiatif  untuk menyerahkan mobil pick up tersebut beserta kunci kontak pada pihak Polres Pontianak untuk diamankan. Penyerahan sekitar Pukul 07. 00 Wib pagi berikutnya. Hal tersebut ia lakukan supaya laporannya diproses.  “Saya merasa permasalahan  dengan Asin yang sudah dilaporkan ke Polsek Sungai Kunyit tidak ada tindak lanjutnya, ini dibuktikan dengan surat saya secara kelembagaan LP2TRI No.89/SL/DPW-LP2TRI/XII/2014,” jelas Suryadi.

Merasa tidak terima mobil miliknya ditahan, Ashin pun melaporkan Suryadi ke Polres Mempawah dengan tuduhan melakukan perbuatan melawan hukum tentang pidana pencurian dan pengrusakan. Atas laporan Ashin, pada tanggal 3 Februari 2015, Penyidik Polres membuat surat panggilan polisi kepada Suryadi untuk diperiksa.

Merasa tuduhan pasal yang disangkakan kepadanya tidak memeunhi unsur, Suryadi keberatan. Laporan Ashin dinilai sebagai laporan palsu. “Apa yang dituduhkan tidak beralasan, mobil ditangan saya belum sampai 24 jam, sudah saya serahkan Polres Pontiaanak. Jelas ini pencemaran nama baik,” protes suami Hasti.

Menyikapi persoalan tersebut, Selasa (3/2/2015), Solidaritas Lembaga Independen dan Ormas Kalimantan Barat turut melakukan pemantauan, dengan mengkonfirmasi pihak Polres melalui Aiptu Pranoto, Brigadir Agustinus, Junaidi SH; dan Brigadir Ery Heryanto di ruang Kanit IV Sat Reskrim Polres Pontianak. Hasilnya, akan dilakukan mediasi ulang.

Wakil Ketua Laskar Pemuda Melayu (LPM) Kalbar, Drs. Jaya Supriadi menjelaskan bahwa permasalahan tersebut masih bisa untuk dilakukan mediasi melalui pihak kepolisian. Tujuannya, supaya konflik tidak meluas.  Ia juga menyayangkan panggilan polisi terhadap Suryadi, sebab pasal pencurian dan pengrusakan yang dituduhkan tidak tepat. “Menurut telaahan kami, unsur-unsurnya tidak terpenuhi. Tidak ada bukti dan fakta yang riil, ditemukan unsur – unsur yang memenuhi syarat  untuk memiliki dan menguasai terkait penahanan satu unit mobil NoPol. KB.8888.BC milik Ashin,” telaah Supriadi.

Terhadap persoalan itu, tandas Supriadi, LPM Kalbar berharap pihak kepolisian khususnya Polres Mempawah supaya lebih jeli dan objektif. “Dalam arti kata tidak tebang pilih”. (Tim/Redaksi)

(dibaca 747 X)