Tahun 2018, Sekolah Antikorupsi ICW Cetak 100 Kader Untuk Lawan Regenerasi Koruptor

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, JAKARTA – Bulan Mei 2018 ini adalah tepat 20 tahun lahirnya reformasi. Salah satu amanat reformasi yang harus terus dilaksanakan adalah pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme. Selama kurun waktu 20 tahun terakhir ini sejumlah upaya pemberantasan korupsi mulai dijalankan seperti pembuatan regulasi atau kebijakan anti korupsi, pembentukan badan atau lembaga anti korupsi dan pencegahan praktik korupsi dan penegakan hukum untuk menindak koruptor.

Meski demikian upaya memberantas korupsi di Indonesia juga mengalami pasang surut dan bahkan memunculkan perlawanan balik dari para koruptor. Dalam beberapa tahun terakhir posisi Indonesia masih tergolong dalam kategori negara terkorup berdasarkan survey Transparency International. Jumlah koruptor dan nilai kerugian negara yang timbul juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Fenomena korupsi yang semakin mewabah kemudian melahirkan regenerasi koruptor di Indonesia. Terjadi kecenderungan bahwa pelaku korupsi tidak saja dilakukan oleh orang tua namun merambah kepada orang muda.

Berkembangbiaknya koruptor atau regenerasi koruptor tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk melawannya tentu saja dengan langkah sebaliknya yaitu mengembangbiakkan kader anti korupsi atau menyiapkan regenerasi anti korupsi. “Kalau koruptor bisa memuncukkan koruptor-koruptor baru, kita harus bisa memunculkan generasi baru antikorupsi”

Untuk mencegah wabah korupsi dan koruptor berkembang pesat di Indonesia dan sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat melawan korupsi, ICW kemudian berinisiatif mencetak kader-kader anti korupsi melalui Sekolah Anti Korupsi (SAKTI). Sekolah pencetak kader anti korupsi ini telah berjalan pada tahun 2013,  2015 dan 2017 serta direncanakan akan dilaksanakan kembali pada tahun 2018.

SAKTI 2018 secara umum bertujuan untuk mendorong lahirnya kader-kader atau agen-agen anti korupsi dan memperluas kampanye dan gerakan anti korupsi di daerah maupun lingkungan kerja mereka.  

SAKTI 2108 akan dilaksanakan sebanyak 4 kali yang terbagi menjadi SAKTI untuk Pemuda, SAKTI untuk Aparatur Sipil Negara, SAKTI untuk Guru, dan SAKTI untuk Organisasi Massa Keagamaan. Kegiatan SAKTI 2018 akan direncanakan dilaksanakan pada bulan Agustus – November 2018. Dari kegiatan tersebut ditargetkan akan diikuti oleh sedikitnya 100 orang pemuda-pemudi (dibawah 25 tahun) dari seluruh daerah di Indonesia. Proses pendaftaran SAKTI 2018 akan dibuka 9 Mei 2018 hingga 9 Juni 2018.

Pengelempokkan SAKTI 2018 dalam empat unsur yaitu Pemuda, Aparatur Sipil Negara, Guru dan Ormas Keagamaan bukan tanpa alasan. Unsur pemuda diharapkan dapat jadi penerus perlawanan terhadap korupsi. Unsur Guru diharapkan dapat menyebarkan semangat atau virus anti korupsi kepada murid-murid maupun dilingkungan sekolah. Unsur Aparatur Sipil Negara diharapkan dapat mendorong pencegahan korupsi dilingkungan birokrasi atau pemerintahan. Berdasarkan tren korupsi dan tren vonis korupsi tahun 2017 yang dihimpun ICW, menyebutkan aparatur sipil Negara merupakan actor terbanyak yang menjadi pelaku korupsi. Sedangkan unsur ormas keagamaan diharapkan dapat melahirkan tokoh-tokoh muda ormas keagamaan yang terus mengkampanyekan gerakan pemberantasan korupsi melalui khotbah atau ceramah agamanya masing-masing.

Kegiatan SAKTI 2018 dilaksanakan dengan 2 bentuk. Pertama, model sekolah dengan kelas tatap muka (offline). Peserta akan dikarantina selama 5 (lima) hari dan wajib mengikuti pemberian materi kelas yang disampaikan oleh narasumber. Metode yang digunakan adalah partisipatoris, yaitu metode belajar, dengan cara mengajak peserta untuk terlibat secara aktif pada setiap aktivitasnya. Selain kegiatan dalam kelas juga akan dilakukan kunjungan ke lembaga, komunitas/organisasi yang memiliki keterkaitan dengan pemberantasan korupsi.

Kedua, model kelas jarak jauh (online) dengan instrument e-learning Akademi Antikorupsi yang ICW miliki peserta diminta untuk belajar secara mandiri. Dengan Akademi Antikorupsi, peserta akan mempelajari mengenai konsep dasar antikorupsi dan instrumen antikorupsi, mekanisme monitoring dan pelaporan antikorupsi, kerja-kerja advokasi litigasi dan non litigasi dan kampanye serta penggalangan dan publik.

Pasca mengikuti kegiatan tatap muka di kelas dan kelas jarak jauh, masing-masing peserta SAKTI diwajibkan untuk membuat kegiatan rencana tindak lanjut. Kegiatan rencana tindak lanjut yang bisa dilakukan oleh peserta antara lain kegiatan sosialisasi atau kampanye antikorupsi, mengawal kinerja pemerintah, investigasi dan palaporan kasus korupsiLaki Kalbar Desak Kejati Usut Kasus Perumahan Khusus Rakyat. Lanjut Baca ... ».

SAKTI 2018 nantinya akan mengundang pemateri yang kredibel dibidangnya masing-masing. Tokoh-tokoh yang pernah menjadi pemateri kegiatan SAKTI 2013, 2015 dan 2017 antara lain Rhenald Kasali (Guru Besar Universitas Indonesia), Teten Masduki (Kepala Staf Kantor Presiden), Bambang Widjojanto (Mantan Wakil Ketua KPK), Budiman Sujatmiko (Anggota DPR), Busyro Muqoddas (Mantan Wakil Ketua KPK), Budi Setyarso (Koran Tempo), Romo Frans Magnis Suseno (Rohaniawan), Febri Diansyah (Juru Bicara KPK), Ani Soetjipto (Akademisi), Philips J. Vermonte (Pengamat Politik), Agus Santoso (Mantan Wakil Ketua PPATK), Haris Azhar (Mantan Koordinator KontaS).

Pada akhirnya ICW dan kita semua tidak ingin koruptor terus beregenerasi, sehingga SAKTI 2018 diharapkan dapat menjadi penerus amanat Reformasi – mencetak 100 kader baru anti korupsi untuk memerangi korupsi di Indonesia. Untuk pelaksanaan SAKTI 2018, ICW juga membuka donasi dari publik dan korporasi yang nantinya digunakan untuk kegiatan sosialiasi, seleksi, pelaksanaan SAKTI dan kegiatan tindak lanjut pasca SAKTI dilaksanakan. 

Jakarta, 9 Mei 2018

Indonesia Corruption Watch

(dibaca 0 X)