Tak Terima Pemberitaan, Bupati KKR Ancam Jurnalis

| Share on Facebook

LENSAKAPUAS, PONTIANAK –Seorang pemimpin yang menjiwai makna kepemimpinan tentu akan bersikap arif dan bijaksana  dalam menghadapi segala sesuatu, tak terkecuali dalam merespon segala isu, saran, pendapat, maupun kritikan pedas sekalipun. Sebab, pemimpin yang baik akan menjadi contoh dan panutan bagi setiap orang. Sekecil apapun tindakan pemimpin tetap menjadi sorotan publik.

Tindakan kontras yang  ditunjukan oleh salah satu pejabat penting  negara di Kabupaten Kubu Raya kepada salah satu awak media yang sedang menjalankan tugas pelibutan, justru mencoreng citranya sebagai seorang pemimpin.

Sebagaimana yang diungkapkan Helmi Umar, SH, Wartawan Koran Mingguan Media Daerah, saat akan melakukan tugas peliputan pada hari kamis, 01 agustus 2013 sekitar pk. 13.30 di parkiran Kantor DPRD KKRRusman Ali : Nomor 5 Angka Keberuntungan. Lanjut Baca ... », ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan yang disertai  pengancaman dan pelecehan profesi yang dilakukan oleh Bupati Kubu RayaRusman Ali : Nomor 5 Angka Keberuntungan. Lanjut Baca ... », Muda Mahendrawan, SH.

Kronologisnya, Kata Helmi, ketika berada di teras parkiran, secara tiba-tiba, Bupati KKRMenyongsong Perubahan Birokrasi Pemerintahan di KKR. Lanjut Baca ... », Muda Mahendra langsung menghampiri dan mengikuti dirinya dari arah belakang. Selanjutnya, kata dia, tanpa ada basa basi, Muda Mahendra mengeluarkan kata-kata kasar  bernada penghinaan dan  pelecehan profesi wartawan . “ Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, ia bahkan mengeluarkan ancaman terhadap keselamatan saya,” kata Helmi.  Penyebabnya, sambung Helmi,  menyangkut pemberitaan yang pernah dimuat di Koran  Media Daerah.

Seharusnya,  kata Helmi melanjutkan, sebagai Pejabat Pemerintah, Muda Mahendra semestinya memahami dan mengerti akan  Undang-Undang Pers. Dijelaskan dalam UU itu, kalau ada pihak yang keberatan atas sebuah pemberitaan, bisa menggunakan ‘Hak Jawab’, bukannya malah main ancam.

Muda Mahendra, kata Helmi, mengatakan bahwa saya telah memfitnah dirinya, merusak citranya sebagai seorang pemimpin. “ Bahkan dia telah menuduh saya membagi-bagikan selebaran dan membuka kasus-kasus yang terjadi di pemerintahannya,” imbuh Helmi.

Dilain sisi, Helmi menjelaskan, mencari, mengolah, menulis dan menyebarkan  berita berdasarkan fakta, hasil wawancara dengan narasumber yang berkompeten, dan hasil investigasi adalah tugas seorang wartawan yang di atur dan lindungi oleh Undang-Undang.

Terkait selebaran,  Helmi menegaskan, bahwa  dirinya tidak pernah  membagikan selebaran apapun, seperti yang dituduhkan Muda Mahendra kepada dirinya. ”Saya tidak pernah membagikan selebaran dalam bentuk apapun,” tandasnya.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, baik kepada dirinya secara pribadi maupun  terhadap keluarganya, Helmi akan meminta perlindungan hukum ke Polda Kalbar, lantas ia pun mendatangi Mapolda Kalbar didampingi sejumlah  rekan seprofesinya, senin (05/08/2013)  untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan, intimidasi dan pengancaman, pelecehan profesi dan sikap arogansi  yang dilakukan oleh Bupati KKR, Muda Mahendra terhadap dirinya. Arahan dari Wadireskrim Polda Kalbar, supaya membuat laporan ke Polresta Pontianak.

(novi)

(dibaca 690 X)