Tambang Masuk, Situs Sejarah Goa Macan Gunung 7 Terancam Punah

| Share on Facebook
selamatkan gunung7

Ket Foto : Aksi Penolakan Warga Teluk Batang KKU atas kehadiran perusahaan tambang di Gunung 7, Goa Macan Terancam Punah

LENSAKAPUAS, KAYONG UTARA – Aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap perjuangan Aliansi Masyarakat Peduli Gunung 7 (AMPG7) dalam mempertahankan kelestarian alam Gunung 7 di Kecamatan Teluk Batang, Kayong Utara, semakin meluas.  Hal tersebut dikatakan oleh ketua AMPG7 Verry Liem kepada LensaKapuas belum lama ini.

Menurut Verry Liem, pihaknya sudah mensurvey langsung ke lapangan dengan melakukan jajak pendapat di 7 desa yang ada di Kecamatan Teluk Batang.  “Semua masyarakat menyatakan tidak setuju akan adanya pertambangan, mengingat manfaatnya yang kecil ketimbang mudhoratnya,” ujar Liem.

Ia pun berterimakasih kepada atas dukungan masyarakat, baik yang ada di Teluk Batang maupun wilayah sekitar dan pihak-pihak yang sudah mendukung  AMPG7.

Verry Liem juga mempertanyakan tentang status hutan kawasan cagar budaya dan situs sejarah yang telah ditetapkan berdasarkan Perda no 15 tahun 2005, saat KKU belum dimekarkan dari kabupaten induk, yakni Kabupaten Ketapang. “Dalam Perda No. 8 yang di keluarkan oleh Pemda KKU, hutan kawasan dan situs sejarah itu menjadi hilang dan tanpa ada kejelasan. Apakah sudah ada pembatalan terhadap Perda no 15 tahun 2015 itu?” tanya Liem.

Ia juga mengaku tergelitik atas kegiatan usaha pertambangan jenis batu granit hingga harus mendatangkan investor luar. “Sangat lucu sekali jika hanya tambang batu granit sampai harus mendatangkan investor luar (asal Korea). Kami mencium adanya suatu yang tidak beres,” curiga Verry.

Jika pemerintah daerah ingin mensejahterakan rakyat, kata dia, kenapa tidak didanai melalui APBD atau masukan BUMD. “Jika orang luar yang menggarap, apalagi ijin eksplorasi tambang galian C  ijin oleh Gubernur, sudah jelas merugikan masyarakat setempat dan KKU pada umumnya, karena pajak daerah masuk ke provinsi. Kami tidak mau alam dan daerah kami dirusak lagi. Cukuplah sudah hutan-hutan kami yang sudah dibabat oleh perusahaan,” kisahnya.

Atas keterlibatan para pihak yang memuluskan rencana masuknya PT. TBMS ke wilayah mereka, Verry Liem mengaku sangat kecewa dan mengutuk pihak-pihak tersebut. “Apalagi anggota dewan, karena mereka adalah wakil kami yang kami anggap telah menghianati kami yang telah memilih mereka.  Karena itu kami akan tetap mempertahankan Gunung 7 dan alam kami meski harus dengan cucuran darah,” tegas Verry Liem.

Didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Verry juga mengingatkan kepada Bupati Kayong Utara dan Gubernur Kalbar, agar tidak mengingkari dan menghiati suara serta aspirasi masyarakat yang telah memilih mereka. “Kami punya Tuhan tempat meminta, jangan sampai kami melakukan hajad masal mendoakan yang buruk terrhadap para pihak yang berlaku Zolim, kami yakin doa adalah kekuatan dan doa orang teraniaya di ijabah,” ucap dia.

Senada, Abdul Karim pun begitu. Tokoh masyarakat‎ Kabupaten Kayong Utara itu juga sangat menyesalkan jika Gunung 7 eksploirasi. “Saya sangat menyesalkan jika terjadi penambangan,  karena Goa Macan situs arkeologi  sejarah di Gunung 7 bakal terancam punah,” tandas Abdul Karim. (joko)

(dibaca 151 X)