TNI Tidak Mengenal Kata Damai Bagi Prajurit Arogan

| Share on Facebook

arogan, tak ada damai

LENSAKAPUAS, KUBU RAYA – Kepala Staf Kodam XII/Tanjungpura Brigjen TNIKasdam Lepas Yonif 132/Bima Sakti. Lanjut Baca ... » Aris Martono Haryadi, membacakan amanat Panglima TNITNI Perpanjang MoU dengan PT. Pertamina. Lanjut Baca ... » Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, pada upacara 17-an yang dilaksanakan 18 Januari 2016 di Lapangan Kodam XII/Tpr, JL. Alianyang No. 1 Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Mengawali amanatnya Panglima TNI beri apresiasi terhadap pengabdian TNI terkait dengan tugas penegakkan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah serta misi kemanusiaan dapat dilaksanakan dengan prestasi membanggakan. Sehingga tidak mengherankan bila kinerja TNI sepanjang tahun 2015 mendapat penilaian publik dan menempatkan institusi TNI sebagai sebuah “lembaga paling dipercaya”, dalam amanatnya.

Selain itu, Panglima TNI bangga kepada prajurit yang bertugas di wilayah pedalaman, perbatasan dan pulau terluar dengan keterbatasan yang dimiliki tidak menyurutkan semangat, motivasi dan dedikasi terhadap tugas pengabdiannya.

Terkait dengan hal tersebut, Panglima TNI menekankan kepada seluruh prajurit TNI untuk benar-benar ditahun baru harus dapat menumbuhsuburkan sikap kepedulian dan semangat pengabdian TNI terhadap rakyat. Sehingga kedekatan dan kebersamaan TNI dengan Rakyat terus terjalin dan abadi.

Lanjutnya Panglima TNI mengingatkan, dihadapkan pada perkembangan globalisasi dengan kemajuan tehnologi, informasi dan komunikasi kita menghadapi suatu realitas berupa fenomena adanya revolusi budaya yang tidak mengenal batas ruang dan waktu begitu deras masuk dan mengikis secara perlahan budaya bangsa Indonesia yaitu budaya ketimuran yang penuh kearifan dan keluhuran, mempengaruhi aspek etika, moralitas, budaya, agama dan semua sendi kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali juga telah mempengaruhi pola sikap dan tindakan kehidupan parjurit menjadi rentan.

Menyikapi fenomena dan dampak negatif tersebut, perisai dan benteng tangguhnya adalah disiplin yang mencerminkan etika dan moral keprajuritan yang berpegang teguh kepada sapta marga, sumpah prajurit dan 8 wajib TNI.

TNI tidak mengenal kata damai bagi prajurit arogan, komandan satuan tidak akan pernah melindungi prajurit yang melanggar aturan dan hukum, karena prinsipnya prajurit TNI yang melanggar tidak akan menemukan ruang di hati dan simpati rakyat dan menjadi penghalang terwujudnya kebersamaan TNI-RAKYAT. Ini sangat bertentangan tema HUT Ke 70 TNI yaitu “Bersama Rakyat, TNI Kuat, Hebat dan Profesional, siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian.” tegas Panglima TNI.

Tambahnya Panglima TNI ditahun 2016 yang menitikberatkan perhatian pembangunan dan pengembangan TNI di wilayah perbatasan dan pulau terluar meliputi interoperability gelar satuan antar angkatan, pemenuhan alutsista, penambahan personel, pembangunan pangkalan dan perumahan, pemenuhan alat transportasi dan komunikasi serta pemenuhan kesejahteraan moril berupa pelayanan kesehatan dan pemberian tunjangan kemahalan. Kebijakan itu kita tempuh dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas postur dan sistem pertahanan di wilayah tersebut sejalan dan selaras dengan program pemerintah yaitu membangun dari pinggiran dan mensukseskan program tol laut dan poros maritim dunia. (Red)

RIlis : Pendam XII/Tpr

(dibaca 317 X)

None found.