UAN 2014 Beda Dengan 2015

| Share on Facebook
Akim terima penghargaan dari CornelisLENSAKAPUAS, PONTIANAK – Kini, lulus atau tidak lulus, bukan lagi ditentukan oleh hasil ujian nasional. Tunggu dulu, kendati demikian, nilai UN tetap ikut me nentukan dalam meraih peringkat siswa dikelas, sekolah, se-Kota, Kabupaten, Provinsi bahkan Indonesia lho……

Kemarin,  nilai rata-rata unas harus4,0, tidak boleh kurang dari 5,5. Kini beda, ketentuan terhadap nilai sudah  dihilangkan. Kelulusan murid tergantung  nilai raport, pendidikan hati dan rasa termasuk karakter anak serta hasil rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepsek.  aspek kopnetip, afektif, psikomotorik murid  dibahas dalam forum itu guna memutuskanmereka bisa tamat atau tidak.

Kepala Dinas PendidikanDiknas Kota Tertutup, Ortu Bertanya. Lanjut Baca ... » Kalimantan Barat, Alexius Akim, mengatakan ada 3 perberbedan Antara pelaksanaan UAN tahun 2014 dengan2015. Pertama, ujian nasional tidak dijadikan  prasyarat kelulusan bagi siswa. Jadi sekolahmasing-masing yang menetukan itu semua.

Kedua, Sekolah Menengah Theologia Kristen, dulu Kementerian agama, sekarang masuk di Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan .

Ketiga, pencetak-an UAN diserahkan ke  Provinsi. Kemudian menyangkut masalah keamanan pendistribusian naskah ujian  menjadi tanggung jawab kepolisian. Sedangkan pengawasan sampai ke  tingkat satuandilakukan oleh sekolah maupun guru.

Sebetulnya, jelas Kadis, poin ketiga tidak  beda dengan tahun lalu. Secara administrasi  sih memang benar, tetapi ada aturan yang  mengikat. Untuk bisa mencetak naskah unas di tingkat provinsi  kita wajib memiliki mesin cetak ukuran kertas plano. Sementara jenis  yang gituan hanya ada dipulau jawa dan sumatera, kalimantan kosong.

“ Memang keinginan dan harapan pemerintah  konteknya seperti itu. Kita juga lebih menuntut,  terutama sisi apegsinya atau nilai-nilai kejujuran  yang akan terbentuk, sehingga anak-anak tidak  merasa di tekan, khawatir, bisa enjoy dan senang.  Masalah lulus atau tidak lulus urusan sekolah. Itu yang menjadi arah tujuan kita, “ ungkap Akim.

Selain tadi, tambah Kadis, ada satu sisi  positif perbedaan UAN yang mungkin perlu juga menjadi perhatian. Misalnya,  nilai atau standar kelulusan boleh diperbaiki setiap saat. Contoh, ujian nasional matematika nilainya 3, namun tetap lulus berkat hasil rapat sekolah, tahun depan  boleh ikut lagi ujian nasional khusus untuk mata pelajaran itu. Kalau ternyata dapat  5 berarti yang di pakai 5 pada ijazah kemaren.

Disini siswa diberi kesempatan untuk memperbaiki standar kelulusan, boleh berkali-kali tidak masalah. Toh nanti nilai tertingginya dipakai yang dikuasai pada saat itu. “ Ini perubahan yang luar. Kita patut bikin apresiasi kepada pemerintah yang membuat kebijakan tersebut. Disini kondisi anak pada saat itu, tidak dimatikan, mereka boleh berinovasi, agar tidak stagnan terhadap nilai  pertama bahkan boleh di perbaiki berkali-kali, “ akunya santai.

Menurutnya anak didik tidak langsung tertidur  pada kemampuan awal tetapi justru berupaya  keras untuk lebih meningkatkannya lagi. Ini  yang di sebut dengan belajar tiada henti tanpa stop. Posisi siswa dikelas, diantara lainnya, bisa dilihat. Begitu juga siswa yang ada di kabupaten  bahkan indonesia  akan tampak urutan keberapa,  termasuk peringkat sekolah maupun perorangan. Selama ini kan belum ada baru tahun 2015 bakal kelihatan.

“ Jadi mereka bisa melihat keberadaannya di sekolah,  Kabupaten, Provinsi maupun secara Nasional berada  diperingkat keberapa. Begitu juga dengan peringkat  sekolah akan kelihatan. Itulah yang membedakan  dengan pelaksanaan-pelaksanaan sebelumnya. Sebuah terobosan dalam rangka meletakan pemetaan, “ ujar Kepala Dinas Pendidikan Kalbar

Kembali ia mencontohkan, dikabupaten A, misalnya,  ada seseorang  siswa SMA mendapat nilai tetinggi atau sebaliknya terendah pada salah satu mata pelajaran, karna sudah bisa dilihat, otomatis  kedepannya pemerintah bisa secepat mungkin  meletakan kebijakan bagaimana meningkatkan  mutu pendidikan secara khusus terhadap mata pelajaran tersebut, dikabupaten tertentu.

Akim mengatakan ujian nasional juga di jadikan  bahan pertimbangan untuk jenjang pendidikan berikutnya, dari SD untuk ke SMP terus SMA dan perguruan tinggi, hanya itu saja tujuannya, bukan  penentu kelulusan sesorang siswa. Namun Kadis meminta agar siswa tidak berpikir ujian nasional sepele, mengingat kelulusan di tentukan oleh sekolah. Apapun-pun bentuknya, nilai unas tetap menjadi acuan, terutama soal peringkat.

“  Jadi siswa harus sunguh-sungguh mengikuti UN,  belajar dengan baik, bukan cerita lulus tidak  lulus,  tetapi pencapaian peringkat sebagai pembanding dengan siswa lain yang ada indonesia, “ harapnya.

Ujian nasional,tambahnya, memunculkan sebuah nilai-nilai kejujuran. “ Buat apa dapat nilai tinggi  kalau diperoleh dengan tidak jujur, justru apa  adanya lebih  terhormat. Makanya sekali lagi saya sangat berharap seluruh siswa bisa mengikuti ujian nasional dengan baik dan jujur, “ pinta Kadis.

Beliau mengingatkan, persiapan ekternal lingkungan maupun internal pribadi sangat dibutuhkan. Kalau UN dianggap sebelah mata, kata saya yakin siswa tersebut  tidak memiliki pendirian. Nah kaitan dengan persiapantadi, sambungnya, narkobaHoree...e..e...Bride Bebas. Lanjut Baca ... » musuh utama kita yang dapatmerusak seluruh sendi kehidupan manusia, makanya  harus di hindari, termasuk pergaulan bebas. “ terjerumus  berarti membunuh diri sendiri secara pelan-pelan, “ .

Di internal Diknas sendiri, Kadis sedang berkoordinasi  dengan Sekda bahkan BNN, terkait pemeriksaan mendadakterhadap para stafnya tanpa pakai acara pengumuman. “pemeriksaan tiba-tiba itu tujuannya ingin melihat apakahdisini betul-betul bebas dari narkoba atau malah sebaliknya. Jadi kita bukan hanya mendengar omongan orang lantaspercaya begitu saja namun perlu sesuatu untuk mengukurtuduhan tersebut, “ terang Akim. (Nov)

 

(dibaca 508 X)