Upaya Menghilangkan Sejarah ”Zawiyah Cot Kala”

| Share on Facebook
306797_2134553998047_3046278_n
Fitriani 

Fitriani : Tidak Mampu Jaga Sejarah, Rektor Mundur !

LENSAKAPUAS, LANGSA – Hilangnya  nama “Zawiyah Cot Kala” dalam alih status IAIN Langsa, disayangkan oleh banyak kalangan. Salah satu alumnus, Fitriani Harun, S.Pd.I, yang pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa mengaku kecewa atas peralihan yang menghilangkan identitas dan sejarah pendirian perguruan tinggi Islam tesebut. Identitas yang sudah dikenal dan menjadi bagian dari sejarah bangsa, kata dia, kini harus hilang begitu saja tanpa ada upaya pengembalian jati diri oleh pihak yang berkompeten.

Ia mengungkapkan bahwa sudah banyak kritikan, masukan hingga permintaan untuk pengembalian nama Zawiyah Cot Kala, tetapi seakan diabaikan oleh pimpinan kampus yang berkuasa saat ini. Fitriani menilai, Rektor tidak peduli dengan persoalan sejarah. Ironis, kata dia, sebuah perguruan tinggi Islam yang seharusnya bisa menjaga dan merawat peradaban,  justeru tidak mampu menjaga sejarah sebagai jadi diri  daerah dan bangsa.

Dipenghujung tahun 2014 yang lalu, ulas Ketua LINA Aceh Timur itu menjelaskan, pimpinan kampus pernah membuat acara launching IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Menurutnya, launching IAIN Langsa menjadi IAIN Zawiyah Cot Kala itu lebih kepada tindakan menyesatkan sejarah dan membingungkan alumni maupun masyarakat. “Tindakan pimpinan kampus IAIN Langsa itu sepertinya  sengaja untuk membuat persoalan ini semakin tidak jelas dan inkonsistensi. Ini adalah bentuk kegamangan pimpinan kampus, mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan membentuk opini baru,” kata Fitri. Apa yang dilakukan pimpinan kampus IAIN ketika itu, sambungnya, hanya untuk membentuk pola pikir masyarakat biar seolah-olah nama Zawiyah Cot Kala telah dikembalikan, padahal nama tersebut belum tercantum di belakang IAIN Langsa.

Sebagai seorang pimpinan perguruan tinggi Islam, pinta Fitri, harus arif dan penuh kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah. Dan bukan menciptakan masalah baru yang berujung pada ketidakpastian dan menyesatkan. “Jika seperti ini keputusan seorang pimpinan, maka akan banyak persoalan yang bisa terjadi dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan dimasa depan. Perlu diingat, bahwa perguruan tinggi itu lembaga pembentukan karakter generasi bangsa dan bukan lembaga politik layaknya partai politik,” tegas Alumnus STAIN Zawiyah Cot Kala.

Merunut sejarah, kenang mantan Ketua Presma STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa,  para pendahulu atau para pendiri  selalu menjaga dan mempertahankan agar nama Zawiyah Cot Kala itu tetap ada. Bahkan ketika perubahan status dari swasta menjadi perguruan tinggi negeri, nama itu juga tetap tercantum. “Tapi mengapa ketika lembaga ini dialihkan statusnya menjadi IAIN, jadi hilang dan tidak dicantumkan lagi. Apakah ini suatu upaya mengkerdilkan usaha para pendahulu? Atau pimpinan kampus ingin membuat sejarah baru yang menjadikan dirinya sebagai tokoh pembaharu?”  sindir Fitriani.

Untuk itu, ketua LINA Aceh Timur ini pun meminta, agar Rektor memperjelas nama Zawiyah Cot Kala. Dengan hilangnya nama tersebut, tegas Fitri, sama halnya menghilangkan sejarah Aceh dan sejarah peradaban bangsa Indonesia. Bahkan membuat 6.000 alumni kehilangan almamaternya. “Hargailah sejarah dan hargailah almamater orang lain,” pintanya. Kemudian, kepada masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, Fitri meminta agar bisa mengawasi dan mempertanyakan secara terus menerus tentang hilangnya nama Zawiyah Cot Kala di belakang IAIN Langsa kepada pihak yang berkompeten, dalam hal ini pimpinan IAIN Zawiyah Cot Langsa saat ini.

Ia pun mengancam Rektor untuk mundur dari jabatannya apabila tidak mampu mengembalikan identitas dan jati diri perguruan tinggi Islam yang ada di Langsa Aceh itu. “Jika tidak mempu mempertahankan sejarah, maka mundur saja dari jabatan Rektor. Karena jabatan itu amanah dan punya tanggung jawab. Bukan hanya  sekedar menjabat tetapi harus memikirkan  bagaimana sejarah lembaga dapat dipertahankan. Ini justeru sejarah hilang ditangan kepemimpinannya. Sungguh sebuah perilaku tidak terpuji dan menyesatkan. Laksana pepatah orang tua “Lagea Bue Droep Daruet” sibuk mengejar yang baru tapi yang di genggaman dilepaskan,” tandasnya. (Alam/PZ)

(dibaca 564 X)