Hadapi MEA Dokter Siap Berkompetisi

| Share on Facebook

IMG-20170212-WA0008

LENSAKAPUAS, PONTIANAK –  Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA) perlu mempersiapkan ilmu dan keterampilan termasuk kecerdasan serta professional. “Perlu kita pahami, bahwa saat ini kita sudah masuk era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Ini artinya kita harus siap untuk berkompetisi, baik ditingkat lokal, nasional maupun regional bahkan global. Semangat kompetitif harus tertanam pada semua jajaran tenaga kesehatan, baik yang bekerja di pemerintah, swasta, maupun praktek – prakter mandiri,” ujar Wakil Gubernur Kalbar Drs. Christiandy Sanjaya, SE. MM saat membuka acara Simposium Nasional di Golden Tulip, Minggu (12/02).

Perkembangan ilmu dan teknologi dalam dunia kedokteran, kata dia,  sangatlah pesat dan tentunya hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan khususnya di Kalbar. Oleh sebab itu menurutnya, peningkatan keilmuan bagi para tenaga medis sangatlah pentirng, seperti kegiatan Simnas.

“Anak-anak itu adalah masa depan bangsa kita. Maka dari itu kesehatan mereka dari awal kita tata dengan baik. Itulah harapan nanti bangsa kita yang sehat dan ini semua masuk dalam Nawa Cita untuk pembentukan SDM yang
baik dimulai dari anak-anak yang sehat,”  jelasnya.

Dalam kaitan dengan siklus kehidupan, lanjut Christiandy, perbaikan kualitas manusia seyogyanya dimulai sejak usia dini. Artinya, kata dia, kesehatan ibu hamil dan kesehatan bayi/anak akan berpengaruh terhadap kualitas generasi mendatang. Oleh sebab itu penanganan masalah kesehatan anak menjadi sangat penting untuk kita perhatikan. Dan strategi kunci untuk meningkatkan kesehatan anak adalah pendekatan secara terintegrasi/terpadu dalam tata laksana anak balita sakit dengan fokus pada kesehatan anak usia 0-59 bulan secara menyeluruh.

Christiandy mengharapkan para dokter untuk bekerja lebih professional sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya, selalu meningkatkan kepedulian dan cepat tanggap terhadap isu kesehatan terkini, baik daerah, nasional, regional serta global, seperti vaksin / obat palsu, rabies, penyakit zika dan lainnya.

Dijelaskannya, bahwa Kalbar dengan luas 1,5 kali pulau Jawa dengan penduduk sekitar 5 juta dengan kepadatan 38 jiwa/km2, untuk pelayanan Puskesmas ada 237 di daerah terpencil dan jumlah rumah sakit pemerintah/swasta 44 rumah sakit, tersedia dokter umum 598 orang dan dokter anak sebanyak 30 orang.

Menurut Wakil Gubernur Kalbar Christiandy, di Kalbar terdapat angka kematian bayi mencapai 22,24 per 1,000 kelahiran hidup (Nas : 22,23) data SUPAS 2015, serta angka kematian balita mencapai 26,3 per 1.000 kelahiran hidup (Nas: 25,7) data SUPAS 2015. Dapat disimpulkan bahwa derajat kesehatan bayi dan balita kalbar sejajar dengan angka rata-rata nasional.  (humasprov)

Editor : Novi

(dibaca 101 X)