Jokowi : Selalu Waspada Kebakaran Hutan !

| Share on Facebook

IMG-20170124-WA0003

Cornelis : Cegah Karhutla Libatbatkan Dunia Usaha dan Masyarakat

LENSAKAPUAS, JAKARTA –  Presiden JokoWidodo mengingatkan  kepada Gubernur dan Bupati/Walikota  se Indonesia untuk selalu wapadai  setiap saat terhadap bencana Kebakaran Hutan dan Lahan, sehingga  banyak merugikan kita semua, Hal tersebut disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian  Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlangsung di Istana Negara, Senin ( 23/1).  Rapat Koordinasi yang dihadiri Gubernur dan Walikota  di Indonesia terutama wilayah yang rawan terjadi  Kebakaran Hutan, tanpa juga Hadir Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kapolri, Pangab TNI sertapara Kapolda.

Pengalaman 2015 pertama dating El Nino lebih panjang, ini menjadi kendala, “kemarin kita sampaikan  dalam forum forum Internasional, pada forum pertemuan tersebut sudah dijelaskan, bahwa yang terbakar bukan hutan, melainkan lahan gambut, yang sekali kalau terbakar dan tidak cepat disiram bisa sampai 4 meter dibawah dan itu sangat sulit sekali diwater bombing, pakai pesawat apapun sudah sangat kesulitan seperti yang terjadi di Kalimantan, di Kalteng, Sumsel di Pulang Pasau dan di Musi Bayuasin.

Jokowi  mengingatkan dari kejadian pada tahun 2015 dan 2016, harus  ditangani bahwa pada tahun ini harus lebih baik pencegahan, jangan biarkan, sekali lagi, jangan sampai api itu membesar, “tegas Jokowi

Sementara itu usai mengikuti Rapat, Gubernur  Drs. Cornelis,MH mengatakan,  untuk mencegah  serta  pengendalian  Kebakabarn Hutan dan Lahan (Karhutla)  khususnya di Kalimantan Barat, Pemerintah telah melakukan berbagai cara serta terobosan yang telah dilakukan Pemerintah, diantaranya, Penggunaan trichoderma, mikroorganisme pembusuk tanaman yang dapat digunakan sekaligus sebagai pupuk, pelatihan Bhabinkamtibmas untuk membuat trichoderma yang akan diturunkan kepada petani – petani di daerah, informasi jejaring menggunakan smartphone, hingga membangun Desa Siaga Api,

Lanjutnya Cornelis,  Pemerintah juga telah membentuk Masyarakat Peduli Api  yang berpotensi terjadi Karhutla  antara lain  Kabupaten Kubu Raya 21 Desa, Melawi 1 Desa,  Sintang 34 Desa, Kayong Utara  7 Desa dan Kabupaten Ketapang terdapat 45 Desa. Selain itu mengoptimalkan peran dunia usaha untuk melakukan pencegahan dan pemadaman  dini diareal konsesi dan sekitarnya. Melakuan upaya pemadaman  secara dini dan  mandiri di kawasan  Hutan dan Lahan yang terbakar. Melakukan simulasi lapangan dalam mobilisasi pengendalian kebakaran Hutan dan Lahan  di Desa Rawan. Optimalisasikan Peran masing – masing Satgas dan Wapena (Wartawan Peduli Bencana). Menyediakan  Sumber Daya Tenaga, Peralatan dan Pendanaan yang memadai untuk Penanganan Karhutla.

Dunia usaha bekerjasama dengan Pemerintah Daerah yaitu PT Agrolestari Mandiri di Kalbar telah berhasil mencegah kebakaran di tahun lalu, dengan membentuk Desa Siaga Api, dan berhasil dalam mencegah kebakaran Hutan, “ini merupakan langkah yang baik dengan melibatkan masyarakat secara aktif, sehingga berhasil menekan bahkan tidak ada terjadi kebakaran hutan dan lahan diwilayah yang telah dibentuk satgasnya, hingga keberhasil itu dengan diberikan insentif dari perusahaan dalam bentuk bantuan infrastruktur sosial. Tiga dari delapan desa itu ditetapkan sebagai program desa percontohan nasional oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sekaligus telah membentuk  Desa  Makmur Siaga Api pada Tahun 2017, “jelas Cornelis.

Lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Barat  pada tahun 2015 sekitar 74.858 Ha tahun 2016 mencapai  1.841,85 Ha dan hingga Januari 2017 112.  Jumlah Desa yang berpotensi terbakar pada lahan gambut sekitar 656,102 Ha yang tersebut di 14 Kabupaten/Kota.

Ditegaskan Cornelis, peladang tradisional tidak dapat membakar lahan hingga berhektar – hektar. “Mereka itu berladang di gunung. Bukan di lahan gambut. Jadi api tidak mudah menyebar. “Tidak menyebabkan kabutasap,” ujarnya.

Penyebab kebakaran lahan, kata dia, adalah pembukaan lahan pertanian baru di kawasan gambut. “Sekarang ini, lahan gambut yang banyak terbakar di wilayah Kabupaten Mempawah, Kubu Raya, dan Ketapang.”

Cornelis menyatakan, hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat menggantikan metoda tebang-bakar bagi peladang tradisional. Menggunakan mekanisasi mesin, biayanya tidak terjangkau peladang tradisional. “Melalui program Kementerian Pertanian RI, peladang tradisonal diharapkan beralih ke lahan sawah. Hal tersebut dengan  dicanangkan cetak sawah seluas 18.500 hektaredi wilayah Kalbar,”paparnya  (Nasir Humas/Red)

(dibaca 207 X)