Presiden MADN : Suku Dayak Adalah Miniatur Kebhinekaan

| Share on Facebook
gub (1)

Caption FOTO: GUbernur Kalimantan Barat Cornelis yang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) membuka Pekan Gawai Dayak ke-32 di Rumah Radakng Pontianak, Sabtu (20/5). Ft. ist

LENSAKAPUAS, PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menegaskan bahwa Suku Dayak merupakan suatu contoh keberagaman yang menyatu dan merekat erat dengan NKRI. Hal ini disampaikannya saat membuka Kegiatan Pekan Gawai Dayak ke-XXXII tahun 2017 di Rumah Radakng Pontianak, Sabtu, (18/5).

“Masyarakat Dayak Kalimantan Barat adalah etnik asli terdiri dari lebih dari 405 sub suku, dan tersebar diseluruh pulau Kalimantan, sebagai etnik terbesar suku dayak yang telah lama hidup secara harmonis berdampingan dengan suku-suku
lainnya di daerah ini. Masyarakat Dayak memiliki keragaman dan keunikan budaya dan kepercayaan yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, melalui budaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan, serta dengan Tuhan sebagai pemelihara alam semesta,” ujarnya.

Presiden MADN ini juga menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat Dayak selalu diwujudkan melalui sikap dan perilaku yang dilandasi nilai-nilai spiritual-religius, berpegang teguh pada adat tradisional, jujur, dan selalu memelihara lingkungan serta memiliki kearifan dan kebijaksanaan. “Nilai-nilai luhur yang ada didalam kehidupan masyarakat Dayak secara universal menjadi tuntutan masyarakat untuk mengantisipasi pengaruh globalisasi dunia, yang terus berkembang dengan cepatnya, sehingga jika kita tidak waspada maka kita secara lambat atau cepat menjadi kehilangan identitas sebagai suatu etnik atau pun sebagai suatu bangsa,”ujar Cornelis.

Cornelis mengajak seluruh masyarakat yang hadir agar menjaga ketertiban dan keamanan di wilayahnya masing-masing, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar dan tidak jelas sumbernya. selain itu juga ia mengucapkan terima kasih kepada tamu asing yang bersedia hadir diantaranya Duta Besar Polandia, Duta Perwakilan Negara Malaysia, New Zealand, dan USA.

Ketua Panitia PGD ke-32, Kartius mengatakan, Event Tahunan ini mengambil tema ‘Dengan Semangat Pekan Gawai Dayak, Kita Tingkatkan Toleransi Dalam Keberagaman’ dan sub tema ‘Melalui Seni dan Budaya Dayak Dapat Menjadi Perekat Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Khususnya di Kalimantan dan di Kalbar. Juga menyelenggarakan berbagai perlombaan di antaranya lomba permainan rakyat yang terdiri lomba menyumpit, pangkak gasing, menangkap babi, egrang, lomba seni rupa, melukis perisai, melukis kanvas, memahat/mematung, tato dan mengayam manik. Selain itu ada juga seni pertunjukan yang terdiri dari tari Dayak kreasi, lomba lagu Dayak, sastra lisan, musik Sape’, genggong, lomba peragaan busana, lomba busana anak kreasi, lomba menumbuk dan menampi padi, lomba kuliner khas Dayak dan tak ketinggalan pemilihan Bujang Dara Gawai. Kartius menambahkan, berbagai atraksi dan perlombaan yang akan memeriahkan PGD ke-32 ini terbuka untuk umum, kecuali pemilihan Bujang dan dara Gawai. “Semua lomba ini terbuka untuk umum, siapa pun dari suku apa pun boleh mendaftar dan ikut serta. Hanya saja untuk pemilihan Bujang dan Dara Gawai ada pengecualian dan sedikit eksklusif dikhususkan bagi peserta yang masih ada keturunan Dayak saja,” kata Kartius.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalbar itu berharap PGD berjalan aman dan lancar. “Kami berharap penyelenggaraan PGD tahun ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan seni, budaya dan pariwisata di Kalbar. Hal yang terpenting, ini merupakan acara milik seluruh rakyat Kalbar sehingga harus didukung keberadaan dan eksistensinya,” pungkas Kartius.

(dibaca 139 X)