Mengetahui pemicu kejang yang harus dihindari penderita epilepsi merupakan bagian penting dari perawatan sehari-hari. Selain menggunakan obat sesuai resep, mengenali situasi yang meningkatkan kemungkinan kejang dapat membantu penyandang epilepsi menjalani aktivitas dengan lebih aman dan nyaman.
Namun, pemicu setiap orang tidak selalu sama. Ada yang lebih rentan mengalami kejang setelah kurang tidur, sementara orang lain tidak menemukan pola tertentu. Kejang juga dapat muncul tanpa pemicu yang jelas. Karena itu, upaya pencegahan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi, bukan berdasarkan daftar larangan yang berlaku untuk semua orang.
Apa Perbedaan Pemicu Kejang dan Penyebab Epilepsi?
Epilepsi merupakan kondisi otak dengan kecenderungan mengalami kejang berulang. Penyebabnya beragam, termasuk faktor genetik, kelainan struktur otak, atau cedera otak; pada sebagian orang, penyebabnya tidak diketahui. Sementara itu, pemicu kejang adalah keadaan yang meningkatkan kemungkinan munculnya kejang pada orang yang rentan.
Menghindari pemicu dapat membantu pengendalian kejang, tetapi tidak menggantikan pengobatan. Munculnya kejang juga bukan berarti seseorang pasti lalai menjaga kesehatan.
Pemicu Kejang yang Perlu Diwaspadai
1. Melewatkan Obat Antikejang
Tidak minum obat sesuai jadwal dapat membuat kadar obat dalam tubuh turun dan meningkatkan risiko kejang. Menghentikan obat secara mendadak juga berbahaya, meskipun sudah lama tidak mengalami kejang.
Gunakan pengingat di ponsel atau kotak obat agar jadwal lebih teratur. Jika lupa satu dosis, ikuti petunjuk khusus obat tersebut atau tanyakan kepada dokter maupun apoteker. Jangan menggandakan dosis atau mengubah pengobatan sendiri. Pastikan persediaan obat mencukupi, terutama sebelum bepergian.
2. Kurang Tidur dan Jadwal Tidur Tidak Teratur
Kurang tidur merupakan pemicu yang cukup sering dilaporkan. Begadang, perubahan jam kerja, perjalanan jauh, atau gangguan tidur dapat membuat pengendalian kejang lebih sulit pada sebagian orang.
Usahakan tidur dan bangun pada jam yang konsisten. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur, sedangkan anak dan remaja umumnya memerlukan lebih banyak. Jika sulit tidur berlangsung lama atau ada dengkuran keras disertai henti napas, konsultasikan untuk mencari penyebabnya.
3. Stres yang Tidak Terkelola
Pada sebagian penyandang epilepsi, stres berkaitan dengan peningkatan kejang. Stres juga dapat mengganggu tidur, pola makan, dan kepatuhan minum obat sehingga pengaruhnya tidak selalu berdiri sendiri.
Cobalah aktivitas yang membantu menenangkan diri, seperti latihan pernapasan, berjalan santai, atau berbicara dengan orang tepercaya. Olahraga sesuai kondisi umumnya bermanfaat. Jika kecemasan atau tekanan emosional mengganggu keseharian, bantuan psikolog atau tenaga kesehatan dapat menjadi bagian dari perawatan.
4. Alkohol Berlebihan dan Zat Terlarang
Konsumsi alkohol berlebihan, terutama dalam jumlah banyak sekaligus, dapat meningkatkan risiko kejang. Alkohol juga bisa mengganggu tidur, membuat seseorang lupa minum obat, serta memperberat efek samping obat tertentu.
Pada orang yang mengalami ketergantungan alkohol, penghentian mendadak dapat menyebabkan kejang sehingga perlu pendampingan medis. Zat terlarang, khususnya stimulan, juga berbahaya. Diskusikan konsumsi alkohol secara terbuka dengan dokter karena tingkat risiko berbeda pada setiap orang.
5. Cahaya Berkedip pada Epilepsi Fotosensitif
Cahaya berkedip atau pola visual tertentu dapat memicu kejang pada sebagian kecil penyandang epilepsi yang mengalami fotosensitivitas. Contohnya adalah lampu strobo atau adegan tertentu dalam permainan video. Tidak semua orang dengan epilepsi sensitif terhadap cahaya, sehingga penggunaan layar tidak otomatis harus dilarang.
Jika memiliki fotosensitivitas, hindari efek visual yang diketahui memicu kejang, gunakan layar di ruangan cukup terang, dan jaga jarak yang nyaman. Saat mendadak terpapar cahaya berkedip, tutup satu mata dengan telapak tangan dan berpaling menjauhi sumber cahaya.
6. Sakit, Demam, dan Gangguan Kondisi Tubuh
Infeksi atau demam dapat meningkatkan kemungkinan kejang pada sebagian orang. Muntah dan diare juga bisa mengganggu penyerapan obat, menyebabkan dehidrasi, atau menimbulkan gangguan elektrolit yang berat.
Saat sakit, tetap perhatikan jadwal obat dan kecukupan cairan. Jika muntah setelah minum obat, jangan langsung mengulang dosis tanpa petunjuk. Hubungi tenaga kesehatan bila obat sulit dipertahankan karena muntah, asupan cairan tidak mencukupi, atau kejang menjadi lebih sering.
7. Obat Lain, Suplemen, dan Stimulan Tertentu
Beberapa obat dapat menurunkan ambang kejang atau berinteraksi dengan obat antikejang. Karena itu, konsultasikan sebelum memulai obat bebas, obat resep baru, jamu, atau suplemen. Jangan menghentikan obat yang sudah diresepkan tanpa arahan.
Kafein dalam jumlah besar, termasuk dari minuman energi, juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu tidur. Tidak semua penyandang epilepsi harus menghindari kopi sepenuhnya; kebutuhan pembatasannya bergantung pada jumlah konsumsi, respons pribadi, dan saran dokter.
8. Perubahan Hormon dan Pola Makan Tertentu
Sebagian perempuan mengalami peningkatan kejang pada fase tertentu dalam siklus menstruasi. Perubahan hormon ini tidak selalu dapat dihindari, tetapi polanya bisa dicatat untuk membantu dokter menyesuaikan penanganan.
Tidak ada makanan tertentu yang wajib dilarang bagi semua penyandang epilepsi. Hindari pembatasan makan berlebihan tanpa alasan medis. Pada orang dengan diabetes, gula darah yang sangat rendah dapat menyebabkan kejang. Diet ketogenik untuk epilepsi hanya boleh dilakukan dengan pengawasan tim medis.
Cara Mengenali Pemicu Pribadi
Buat catatan kejang berisi tanggal, durasi, gambaran kejadian, waktu minum obat, pola tidur, kondisi sakit, menstruasi, serta aktivitas sebelumnya. Bila aman, keterangan saksi atau rekaman kejadian dapat membantu evaluasi dokter.
Jangan menyimpulkan suatu hal sebagai pemicu hanya karena terjadi sekali sebelum kejang. Cari pola bersama dokter dan hindari larangan yang tidak diperlukan.
Jika Kejang Terjadi, Utamakan Keselamatan
Jauhkan benda berbahaya, beri alas lembut di bawah kepala, dan catat durasi kejang. Jangan menahan gerakan atau memasukkan apa pun ke mulut. Miringkan tubuh dengan aman ketika memungkinkan, terutama setelah gerakan kejang berhenti. Jangan berikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut sebelum sadar penuh.
Segera hubungi layanan darurat jika kejang berlangsung 5 menit atau lebih, berulang tanpa pulih sadar, disertai kesulitan bernapas, terjadi di air, menyebabkan cedera serius, atau merupakan kejang pertama. Ikuti rencana penanganan dan penggunaan obat penyelamat bila sudah diresepkan dokter.