Jejak Perjuangan dari ...

Jejak Perjuangan dari Kampung Bubur Tambun: Memelihara Tradisi Sarapan Urban Jakarta

Ukuran Teks:

LensaKapuas.com, – Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, semangkuk bubur hangat telah lama mengukuhkan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual sarapan masyarakat urban. Praktis, terjangkau, dan mengenyangkan, sajian sederhana ini kerap menjadi penolong perut yang berpacu dengan waktu, memastikan energi awal hari terpenuhi sebelum roda aktivitas berputar kencang. Dalam lanskap kuliner sarapan ibu kota, Bubur Tambun menonjol dengan reputasinya yang khas, mudah dikenali, dan tak jarang memicu antusiasme.

Para pedagangnya, yang kerap melaju kencang di jalanan subuh hari dengan gerobak terpasang di motor, telah mendapat julukan akrab "Bubur Racing" dari warga. Fenomena ini bahkan sempat viral di jagat maya, menampilkan konvoi mereka melintasi jalanan lengang, diiringi takarir jenaka yang berbunyi, "Telat dikit, warga Jakarta asam lambung." Ini bukan sekadar lelucon, melainkan cerminan dari komitmen para penjual untuk menjamin pelanggan mereka dapat memulai hari dengan semangkuk bubur panas.

Muamar Rizky (25), atau akrab disapa Amar, adalah salah satu figur di balik fenomena Bubur Tambun ini. Pemuda asal Desa Satriajaya, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi ini, menekankan pentingnya ketepatan waktu. "Paling telat jam 06.00 harus sudah sampai di tempat dagang. Kalau lebih dari jam 06.00, nanti pelanggan-pelanggan yang berangkat kerja, sekolah, atau lain sebagainya nggak jadi beli," ujarnya saat ditemui LensaKapuas.com di depan sebuah minimarket di Jakarta Timur.

Pada Kamis (7/5/2026) itu, Amar terlihat cekatan melayani pembeli yang silih berganti. Penampilannya cukup mencuri perhatian, jauh dari kesan pedagang bubur gerobakan konvensional. Ia menggunakan motor sport merah yang dimodifikasi khusus untuk membawa gerobak buburnya, lengkap dengan spanduk "Bubur Racing" yang terpasang mencolok. Amar, dengan gaya khas Gen Z, tampil modis mengenakan kaus hitam bergaya streetwear, celana jins longgar, dan sepatu kulit chunky.

Dengan sigap, tangan Amar menyiapkan setiap porsi bubur. Ia menuangkan kecap asin, menaburkan suwiran ayam, potongan cakwe renyah, irisan seledri segar, bawang goreng, dan tak lupa, tongcai—sawi putih kering—yang menjadi ciri khas Bubur Tambun dan selalu menjadi incaran para pelanggan. "Tongcai! Itu, sih yang ngebedain dari bubur-bubur ayam kebanyakan," tutur Rindy (27), seorang pelanggan setia, menjelaskan mengapa Bubur Tambun begitu istimewa baginya.

Amar sendiri mengungkapkan bahwa ia baru beberapa minggu terakhir memutuskan untuk mangkal di satu titik, setelah sebelumnya selama lima tahun berkeliling di Komplek Permata Timur, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Dua dandang bubur racikannya selalu ludes terjual setiap hari. Bahkan, pada akhir pekan atau hari libur, penjualan bisa melonjak hingga 100 porsi. "Ketika mangkal, kalau pelanggan mau beli bubur pagi-pagi, ya dia bisa langsung datang. Jadi, waktunya pas dan lebih efisien juga," jelasnya mengenai keuntungan perubahan strategi ini.

LensaKapuas.com berkesempatan mencicipi seporsi Bubur Tambun racikan Amar. Secara visual, bubur ini mengingatkan pada gaya bubur Tionghoa atau Bandung, dengan tekstur yang lebih padat, tanpa kuah kaldu kuning yang biasanya menyertai bubur ayam. Taburan tongcai memberikan sentuhan renyah yang unik. Meskipun kental, resep turun-temurun yang dipegang Amar menghasilkan bubur dengan konsistensi yang pas, tidak terlalu encer maupun pekat. Amar bahkan menjelaskan, "Malah makin lama (dibiarkan) yang penting disiapin dari awal, terus nggak diaduk-aduk (dan tetap) ditaruh di tempat styrofoam atau mangkok itu malah tambah kental."

Menelisik Markas Utama Bubur Tambun

Amar bukanlah satu-satunya pedagang Bubur Tambun yang berjuang menembus pagi buta menuju Jakarta. Di kampung halamannya, Kampung Pulo dan Kampung Buwek, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, puluhan motor serupa tampak melaju hampir serentak setiap dini hari. Kisah Bubur Tambun bermula dari kecerdasan seorang mantan koki yang berhasil memodifikasi resep bubur khas Tionghoa dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Resep ini kemudian diwariskan secara turun-temurun, menjadikan mayoritas penduduk di sana berprofesi sebagai penjual Bubur Tambun, hingga kampung ini dikenal sebagai "Kampung Bubur Tambun."

Di sepanjang jalan kampung, pemandangan sepeda motor dengan gerobak bubur di belakangnya menjadi hal lumrah yang menghiasi pekarangan rumah warga. Menurut Amar, inilah yang membedakan cara berjualan Bubur Tambun dari bubur gerobakan lainnya. Inovasi penggunaan motor memungkinkan para pedagang untuk memperluas jangkauan pembeli hingga tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek, sebuah capaian yang sulit dilakukan dengan gerobak dorong tradisional.

Sebelum era motor, para pedagang Bubur Tambun menempuh perjalanan panjang ke Jakarta menggunakan sepeda. "Bahkan dulu (menggunakan) sepeda lagi tahun 80-an, tuh. Bapak saya almarhum pakai sepeda. Jadi, awalnya dulu itu dari rumah sini, dagangnya ke Jakarta, itu pada nyari tempat sendiri-sendiri, (dan) itu sambil ngontrak," kenang Amar, menyoroti perjuangan generasi sebelumnya.

Julukan "Kampung Bubur Tambun" tidak hanya lahir dari banyaknya warga yang berjualan. Di kawasan ini, tumbuh pula berbagai usaha pendukung yang menopang aktivitas para pedagang. Mulai dari sentra produksi cakwe hingga penyedia bahan baku yang memasok kebutuhan harian para penjual. Mama Arul, salah satu penyedia kebutuhan, telah 15 tahun terakhir melayani para pedagang Bubur Tambun. Ia menyediakan beras, ayam, sayur-mayur, minyak goreng, aneka bumbu dapur, hingga tongcai. Dalam sekali belanja, pedagang bubur bisa merogoh kocek Rp300 ribu hingga Rp900 ribu.

"Mereka rata-rata (berbelanja) setiap hari. Makanya fresh, nggak ada barang-barang yang (didiamkan) beberapa hari," ungkap Mama Arul, menjelaskan komitmen terhadap kualitas. Meskipun harus mengeluarkan modal awal sekitar Rp2 juta untuk tokonya, ia merasa bersyukur dapat turut serta membantu pedagang Bubur Tambun semakin dikenal luas. Mama Arul juga memastikan harga yang ditawarkannya selalu sesuai kondisi pasar, tanpa adanya permainan harga, terutama saat terjadi kenaikan komoditas tertentu. "Standar aja sama kayak warung-warung lain juga. Nggak ada yang dinaikin atau (permainan harga) nggak ada," tegasnya.

Menjaga Warisan Berharga Sang Ayah

Dalam ekosistem Kampung Bubur Tambun yang terus berdenyut, Amar adalah salah satu generasi penerus yang teguh melanjutkan usaha keluarga. Ia mengenang kembali bagaimana ia merintis "warisan" usaha mendiang ayahnya, yang telah berjualan Bubur Tambun sejak tahun 80-an. Setelah dua tahun bekerja kontrak di sebuah perusahaan, Amar tergerak melihat kondisi fisik ayahnya yang kian menurun dan tak memungkinkan untuk berjualan lagi.

"Ya udah, saya bantu-bantu dagang awalnya. Inisiatif bantu dagang, bantu keliling, bantu ngelayanin, dan pada akhirnya bisa sendiri," ucap Amar, mengisahkan awal mula keterlibatannya. Berbekal niat tulus membantu orang tua, Amar lantas ikut berjualan menggunakan dua sepeda motor. Selama sebulan penuh, sang ayah membimbingnya, mengajarkan cara menghadapi pelanggan, menyajikan bubur, hingga secara resmi memperkenalkan Amar sebagai penerus usahanya. Sejak saat itu, tekadnya semakin bulat untuk menjadi pedagang Bubur Tambun, semata-mata demi merawat "warisan" berharga yang kini ia jaga bersama saudara iparnya.

Amar tak hanya melanjutkan, ia juga berinovasi. "Jadi, saya ulik sendiri gimana caranya biar (pelanggan) tambah suka. Ya, harus rajin ngobrol sama pelanggan, (bersikap) ramah, tanya kemauan (atau) kesukaannya gimana. Jadi, (biar) pelanggan (tambah) suka," ungkapnya. Ia juga memanfaatkan teknologi. "Karena dulu pas Bapak (berjualan) nggak pernah pakai handphone, sedangkan saya pakai handphone. Jadi, jangkauannya (kepada pelanggan) lebih luas," tambahnya, merujuk pada kemudahan berkomunikasi dengan pelanggan di era digital.

Namun, perjalanan Amar sebagai pedagang Bubur Tambun tak lepas dari berbagai tantangan. Mulai dari cuaca yang tak menentu, fluktuasi minat masyarakat untuk membeli bubur, hingga musibah tak terduga di jalan. Tak jarang, ia terpaksa pulang ke rumah tanpa membawa pundi-pundi rupiah. "Entah ban bocor, rantai putus, kopling putus, kalau (misalkan) baru berangkat terus bocor atau apa, (jadinya) kan telat (sampai lokasi). Apalagi, sampai jam 07.00 pagi belum juga (tuntas diperbaiki), (otomatis) balik pulang lagi," keluhnya.

Meskipun demikian, Amar tetap bersyukur karena memiliki banyak pelanggan setia, beberapa di antaranya sering memesan Bubur Tambun dalam jumlah besar. "Sampai saat ini, ada salah satu pelanggan pesan terus setiap bulan (sebanyak) 200 (porsi) buat ke kantornya," ucapnya dengan senyum.

Demi Menyajikan Semangkuk Bubur Hangat yang Berkualitas

Di balik setiap mangkuk Bubur Tambun yang disantap warga Jakarta setiap pagi, terdapat rutinitas panjang dan melelahkan yang sudah dimulai sejak dini hari. Selepas berjualan, Amar bersama istri dan ibunya kembali menyiapkan aneka bumbu dan pelengkap (topping) untuk dagangan esok hari. Proses pembuatan bubur sebagai "pemain utama," pemotongan seledri, hingga memasak sambal kacang—ciri khas lain Bubur Tambun—baru dilakukan mulai pukul 03.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. "Lebih awal juga (proses mempersiapkan buburnya). Misalkan ke Tangerang tuh ada teman saya mungkin dia lebih awal (memasaknya dari) jam 02.00 (atau) bahkan jam 01.00 udah mulai masak," kata Amar, menggambarkan dedikasi para pedagang.

Penggunaan dandang tebal berukuran tinggi menjadi salah satu rahasia mengapa Bubur Tambun dapat tetap hangat hingga berjam-jam. Amar menjelaskan, beberapa rekan seperjuangannya bahkan mengandalkan arang sebagai penghangat tambahan, terutama jika harus menempuh perjalanan jauh menuju lokasi berjualan seperti Jakarta Selatan, Depok, hingga Tangerang. "Mungkin kalau yang pakai arang itu (adalah pedagang Bubur Tambun yang berjualan selama) 4-5 jam," tambah Amar, menunjukkan upaya ekstra untuk menjaga kualitas.

Demi mempertahankan kualitas dan kebersihan Bubur Tambun-nya, Amar memastikan seluruh bahan yang telah dimasak habis tanpa sisa, khususnya bubur, sambal kacang, seledri, hingga tongcai. "Pokoknya semua (baik bubur maupun pelengkapnya) harus habis. Kayak tadi, saya (memastikan) sampai semua (benar-benar) bersih," tegasnya.

Meskipun rasa lelah kerap menghantui, semua terbayar lunas ketika dagangannya habis terjual dan membawa penghasilan untuk keluarga. "Ya, kurang lebih Rp300 ribu sampai Rp400 ribu bisa (dibawa pulang saat akhir pekan). Tapi, kalau hari-hari biasa paling besar saya pribadi itu Rp250 ribu sampai Rp300 ribu," ujar Amar, menjelaskan potensi pendapatan harian.

Bagi Amar, menjaga Bubur Tambun bukan sekadar meneruskan usaha keluarga, melainkan juga mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan sang ayah sejak puluhan tahun silam. "Hal-hal yang dijaga dari Bubur Tambun itu (oleh saya pribadi) adalah kualitasnya, ciri khasnya, kebersihannya, dan attitude saat berdagang, serta yang paling utama adalah kejujuran," pungkas Amar, merangkum filosofi di balik setiap mangkuk bubur yang ia sajikan.

Sumber: news.detik.com

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan