Dalam sebuah diskusi panel yang dinamis dan penuh gagasan, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom menggelar RedTalks 2026 dengan tema "Nasionalisme Tanpa Batas Generasi." Acara yang bertempat di Malang Creative Center ini menjadi forum strategis untuk mengulas peran partai politik dalam menjaring aspirasi, khususnya dari kalangan muda, serta relevansi ideologi di tengah perubahan zaman. Para pakar dan politisi muda hadir untuk menanggapi tantangan kritis tentang arah kepartaian ke depan.
Suko Widodo, seorang pakar komunikasi dari Universitas Airlangga (Unair), tampil sebagai pembicara utama, melontarkan serangkaian pertanyaan menohok kepada kader PDI Perjuangan. Ia menekankan urgensi partai untuk senantiasa memelihara jalur komunikasi langsung dan otentik dengan masyarakat, termasuk membuka ruang partisipasi yang substansial bagi generasi muda. Pandangannya menyoroti potensi kesenjangan antara pertemuan fisik dan komunikasi yang bermakna.
Suko mengenang era 1999, ketika posko-posko PDI Perjuangan di Jalan Pandegiling Surabaya menjadi simpul vital tempat rakyat dan partai bersua, menjalin perjumpaan yang intim. "Hari ini, banyak orang saling berbincang, tapi tidak berkomunikasi. Hari ini, banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa," ujarnya, menggarisbawahi paradoks interaksi di era modern. Ia juga mengamati pergeseran citra PDI Perjuangan yang dulunya dikenal sebagai representasi "wong cilik" (rakyat kecil), kini tampak "gede-gede" (besar-besar), mengisyaratkan potensi jarak dengan akar massa.
Pernyataan Suko ini memicu refleksi mendalam tentang identitas partai. Menurutnya, seruan PDI Perjuangan untuk kembali kepada marhaenisme bisa menjadi "entry point" krusial. Ini adalah momentum bagi partai untuk "kembali ke jalan yang benar," mengacu pada nilai-nilai dasar perjuangan yang memihak pada rakyat kecil dan tertindas, sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.
Ia mengungkapkan apresiasinya terhadap langkah PDI Perjuangan Jawa Timur yang mulai melibatkan tokoh-tokoh muda seperti Qintharra dalam menjawab berbagai kegelisahan dan aspirasi kaum milenial. Namun, Suko juga memberikan peringatan keras, menggunakan analogi "mens sana in corpore sano" (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) secara metaforis. Ia menyiratkan bahwa PDI Perjuangan mungkin sedang menghadapi disonansi antara generasi, di mana "yang tua ke sana, yang muda ke sono," menunjukkan adanya potensi fragmentasi atau kurangnya sinergi antargenerasi dalam partai.
Menanggapi tantangan tersebut, Qintharra Ulya Yassifa, Wakil Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital PDI Perjuangan Jawa Timur, langsung berdiri memberikan penjelasan. Dengan lugas, Qintharra memaparkan komitmen DPD PDI Perjuangan Jawa Timur dalam memberikan ruang yang sangat luas bagi keterlibatan anak muda dalam setiap lini kepartaian. Ia memahami skeptisisme yang kerap menyelimuti benak mahasiswa dan generasi muda terhadap partai politik tradisional.
"Mungkin anak muda berpikir masuk ke partai ada senioritas? Apakah gagasan kita itu akan benar-benar didengar? Kemudian apakah kita juga akan dilibatkan?" Qintharra merangkum pertanyaan-pertanyaan krusial yang sering muncul. Ia kemudian membuktikan sebaliknya, dengan menunjuk dirinya sendiri sebagai contoh nyata seorang anak muda yang telah dipercayakan menduduki struktur penting di tingkat provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa partai tidak hanya beretorika, tetapi benar-benar memberikan kesempatan.
Qintharra menegaskan bahwa di PDI Perjuangan, konsep "the ladder of participation," di mana masyarakat muda hanya dijadikan "token" atau "kosmetik" belaka, tidak berlaku. Sebaliknya, anak muda benar-benar dilibatkan secara aktif. Partisipasi mereka terintegrasi mulai dari struktur di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke tingkat ranting atau basis, memastikan representasi yang merata dan bermakna.
Ia melanjutkan bahwa generasi muda di PDI Perjuangan tidak hanya menjadi pajangan. Mereka secara konsisten diikutsertakan dalam berbagai kegiatan partai, bahkan diberikan kesempatan untuk menyumbangkan ide dan masukan yang berharga dalam perumusan kebijakan pemerintah. RedTalks ini sendiri, menurut Qintharra, merupakan inisiatif konkret PDI Perjuangan Jawa Timur yang didesain khusus untuk mendengar kritik dan saran dari anak muda secara langsung, demi membangun relevansi yang kuat dengan mereka.
"Jadi kalau kita mengulik lagi ke undang-undang partai politik di Pasal 11 UU Partai Politik di mana partai politik itu harus mencakup pendidikan politik, penyerapan aspirasi, dan rekrutmen politik semua sudah kita lakukan di PDI Perjuangan Jawa Timur," jelasnya, menyoroti kepatuhan partai terhadap amanat undang-undang. Ini menunjukkan bahwa upaya pelibatan pemuda bukan sekadar inisiatif internal, melainkan juga bagian dari kewajiban konstitusional partai.
Diskusi semakin memanas ketika pengamat politik terkemuka, Rocky Gerung, bangkit dari tempat duduknya untuk menanggapi dialog antara Suko dan Qintharra. Rocky memberikan pujian atas kejujuran dan pengalaman pribadi Qintharra dalam menerangkan keterlibatan pemuda. Ia membuat perbandingan tajam antara "Qintharra dan tentara," di mana "kalau tentara hadir tanpa kentara, kalau Qintharra dia hadir untuk menerangkan." Ini menggarisbawahi pentingnya kehadiran yang transparan dan dapat menjelaskan diri.
Rocky Gerung kemudian meluaskan pandangannya tentang sinisme dalam politik. Ia membedakan antara sinisme yang produktif, yang lahir dari argumen kuat, dengan sinisme kosong yang hanya bersumber dari rasa iri atau jengkel. "Anda bisa sinis pada partai dan anda harus sinis pada politisi," katanya, "Tetapi sinisme yang sekadar dihasilkan karena rasa iri, rasa jengkel, itu artinya anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen." Ini adalah seruan untuk kritik yang konstruktif dan berbasis rasionalitas.
Ia kemudian menantang PDI Perjuangan dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental: "Sekuat apa sih energi nasionalisme untuk menghalangi oligarki? Sekuat apa tanduk marhaen itu mampu untuk menjaga kedaulatan sebagai simbol dari Pancasila?" Rocky menekankan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan membutuhkan logika dan dasar pemikiran yang kuat di baliknya. Ini adalah esensi dari perdebatan ideologis yang sehat.
Rocky juga menggunakan metafora kuat tentang simbol banteng PDI Perjuangan. "Bahwa anda memiliki simbol banteng, bukan kerbau ya. Kalau banteng, dia bisa menyundul, kalau kerbau kepalanya bisa diinjak-injak apalagi di Lampung," ujarnya, memberikan peringatan sekaligus dorongan. Banteng melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melawan, sementara kerbau melambangkan kepasifan yang rentan diinjak-injak, sebuah refleksi tentang bagaimana partai harus memposisikan diri dalam kancah politik.
Ia percaya bahwa ada "energi" yang terpendam, menunggu untuk "popping up," dan energi ini harus disalurkan melalui gagasan-gagasan intelektual dan akademis. Di tengah dunia yang ia gambarkan "tanpa arah," di mana "semua orang marah ke segala arah," Rocky menekankan pentingnya memiliki argumen untuk mengarahkan kemarahan tersebut. "Kalau anda ingin marah dengan arah, anda butuh argumen. Supaya arahnya bisa dihasilkan dengan kepastian dan keyakinan, maka arah itu harus ideologis," tegasnya.
Sebagai penutup, Rocky Gerung menyampaikan pesan penting kepada anak-anak muda, termasuk kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur. Ia mengajak mereka untuk tidak ragu "bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis," karena hanya dengan cara itulah bangsa ini dapat "dihasilkan kembali." Ia mengingatkan untuk "mengunjungi ulang" atau "revisiting" perdebatan ideologi dan konsep di masa muda Bung Karno, yang berpikir sambil membaca buku, bahkan sambil pacaran. "Silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir," pungkasnya, memberikan nasihat yang relevan dan menggugah bagi generasi penerus bangsa.
Diskusi di RedTalks 2026 ini berhasil menyajikan perdebatan yang kaya, menyoroti tantangan komunikasi partai dengan rakyat, pentingnya ideologi marhaenisme, serta peran vital anak muda dalam mengawal arah politik bangsa. Pesan-pesan yang disampaikan menggarisbawahi bahwa di era modern ini, keterlibatan aktif, argumentasi yang kuat, dan komitmen ideologis adalah kunci bagi partai politik untuk tetap relevan dan berkontribusi secara signifikan.
Sumber: news.detik.com