Menjelajahi Filosofi Bangsa dalam Ekosistem Mini: Perpustakaan MPR RI Gagas Literasi Kreatif Bernuansa Sejarah
Perpustakaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) baru-baru ini menyelenggarakan sebuah kegiatan literasi kreatif yang unik dan mendalam. Berkolaborasi dengan Terramori, acara bertema ‘Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila’ ini berhasil menarik perhatian di Ruang Perpustakaan MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, dengan menggabungkan seni, sejarah, dan nilai-nilai kebangsaan.
Inisiatif inovatif ini dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan semangat literasi dan kreativitas di kalangan pegawai. Lebih jauh, kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur kebangsaan, merangkai benang merah antara masa lalu yang kaya makna dengan semangat berkarya di masa kini. Langkah ini secara konkret mewujudkan fungsi perpustakaan sebagai pusat pengembangan diri dan pemberdayaan masyarakat, selaras dengan amanat Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2023.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Plt Sekjen) MPR RI, Siti Fauziah, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan bahwa literasi kreatif melampaui sekadar aktivitas seni, menjadikannya medium efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter fundamental. Nilai-nilai ini diharapkan dapat terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan tugas pekerjaan.
Siti Fauziah juga mengungkapkan kegembiraannya melihat antusiasme peserta yang beragam, mencakup berbagai kalangan dan generasi. Kehadiran peserta laki-laki dalam jumlah yang signifikan, yang kerap kali didominasi oleh perempuan dalam acara serupa, menjadi penanda keberhasilan kegiatan ini dalam menjangkau spektrum audiens yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa pesan dan aktivitas yang ditawarkan mampu diterima dan relevan bagi semua lapisan.
Terrarium sendiri adalah sebuah seni kuno yang memadukan keindahan alam dalam skala miniatur, menciptakan ekosistem mandiri di dalam wadah kaca transparan. Di dalamnya, tanaman kecil, lumut, serta elemen alami seperti batu dan pasir ditata sedemikian rupa, sering dijuluki sebagai ‘hutan dalam botol’. Lebih dari sekadar hiasan ruangan, terrarium merefleksikan keseimbangan dan ketahanan alam.
Pemilihan tema ‘Pohon Sukun’ dalam kegiatan ini bukanlah tanpa dasar, melainkan sarat akan makna historis dan ideologis yang mendalam. Pohon tersebut merupakan saksi bisu dari periode perenungan krusial yang dialami oleh Bapak Proklamator, Bung Karno, selama masa pengasingan beliau di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di bawah rindangnya pohon sukun itulah, gagasan-gagasan fundamental yang kelak menjadi Pancasila mulai menemukan bentuknya yang kokoh.
Siti Fauziah menggarisbawahi simbolisme kuat pohon sukun, menyebutnya bukan hanya sebagai tanaman pangan, melainkan "jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta." Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa "di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya," mengaitkan secara langsung proses kreatif pembuatan terrarium dengan lahirnya ideologi bangsa. Kisah Ende menjadi pengingat akan pentingnya kontemplasi dan ketahanan dalam membentuk jati diri.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, para peserta tidak hanya diajak untuk menghasilkan sebuah karya seni terrarium yang indah. Mereka juga dibimbing untuk meresapi nilai-nilai esensial yang terkandung dalam setiap tahapannya, seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, hingga kemampuan untuk berimajinasi dan berkreasi. Proses ini menjadi metafora bagi pembentukan karakter yang adaptif dan solutif.
Siti Fauziah menambahkan bahwa filosofi di balik setiap tahapan penyusunan lapisan batu, tanah, hingga penempatan tanaman dalam terrarium, memiliki relevansi kuat dengan dinamika dunia kerja. Setiap langkah, dari fondasi hingga sentuhan akhir, mencerminkan kebutuhan akan perencanaan yang matang dan eksekusi yang cermat. Ini mengajarkan bahwa keberhasilan proyek besar seringkali bergantung pada detail-detail kecil yang dikerjakan dengan penuh dedikasi.
"Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian," jelas Siti, menguraikan parallels dengan lingkungan profesional. "Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari," lanjutnya, menyoroti bagaimana keterampilan yang diasah dalam seni ini dapat secara langsung diaplikasikan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi di tempat kerja.
Sebuah anekdot menarik dibagikan oleh Siti, yang menggambarkan tantangan dalam menyusun batu kerikil pada tahap awal pembuatan terrarium. Ia berupaya membentuk susunan batu menyerupai tangga, namun tidak selalu berjalan sesuai keinginan karena karakteristik alami batuan. "Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan," tuturnya, menyiratkan pentingnya fleksibilitas dan adaptasi.
Ia melanjutkan, "Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik." Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi hambatan dan menemukan solusi kreatif, alih-alih menyerah pada kesulitan. Ini adalah esensi dari pemecahan masalah yang efektif dalam konteks organisasi.
Selain sebagai wadah pengembangan kreativitas dan penanaman nilai, kegiatan literasi kreatif ini juga diakui sebagai sarana efektif untuk "healing" atau pemulihan diri di tengah padatnya rutinitas pekerjaan. Lingkungan kerja yang serba cepat dan tuntutan tinggi seringkali memicu stres, sehingga momen relaksasi menjadi krusial. Kegiatan semacam ini memberikan jeda yang menyegarkan pikiran dan jiwa.
"Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja," kata Siti, menyoroti manfaat psikologisnya. Dengan meluangkan waktu sejenak untuk aktivitas yang berbeda, para pegawai dapat membangun kembali semangat dan energi. Hal ini memungkinkan mereka untuk kembali menjalankan tugas dengan pikiran yang lebih jernih dan motivasi yang diperbarui, meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Salah satu peserta, Vidya Palupi, berbagi antusiasmenya dan pengalamannya yang berkesan. Awalnya, ia mengira proses pembuatan terrarium merupakan hal yang mudah, seringkali terinspirasi oleh hasil-hasil indah yang dilihatnya di media sosial. Namun, ketika praktik langsung, ia menyadari bahwa prosesnya ternyata jauh lebih menantang dan membutuhkan keterampilan khusus.
"Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang aja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya," ujar Vidya, mengakui kompleksitas di baliknya. "Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial," tambahnya, menegaskan bahwa seni ini memerlukan ketekunan dan imajinasi yang tinggi.
Vidya juga menyampaikan harapannya agar kegiatan literasi kreatif semacam ini dapat lebih sering diselenggarakan di masa mendatang. Ia merasa bahwa acara tersebut menawarkan suasana yang berbeda dan menyegarkan di tengah rutinitas pekerjaan yang monoton. Ini menjadi kesempatan berharga untuk keluar dari pola kerja biasa dan menemukan inspirasi baru.
"Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat," ungkap Vidya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sesuai dengan namanya, yaitu "menambah kreativitas kami," menunjukkan dampak positifnya tidak hanya pada aspek relaksasi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas inovatif individu.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh Plt Sekjen MPR RI, tetapi juga oleh sejumlah pejabat penting lainnya. Di antara yang hadir adalah Deputi Bidang Administrasi sekaligus Plt Kepala Biro Humas dan SI MPR RI, Heri Herawan, serta Pustakawan Ahli Madya, Yusniar. Turut hadir pula para pejabat eselon III dan IV, pejabat fungsional, serta berbagai pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI, mencerminkan dukungan institusional yang kuat.
Sebagai fasilitator utama dalam pelatihan kerajinan terrarium, turut dihadirkan Valentino Putra Budiman, yang merupakan Founder Terramori. Keahlian dan bimbingan beliau sangat membantu para peserta dalam menguasai teknik dasar serta filosofi di balik seni menata ekosistem mini ini. Kehadiran beliau memastikan kualitas pembelajaran yang optimal bagi seluruh peserta.
Kegiatan literasi kreatif yang digagas oleh Perpustakaan MPR RI ini menjadi bukti nyata bahwa perpustakaan modern memiliki peran yang jauh melampaui sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah ruang dinamis untuk pengembangan diri, penguatan nilai-nilai kebangsaan, serta sarana untuk menumbuhkan kreativitas dan kesejahteraan di kalangan aparatur negara. Inisiatif ini menandai langkah maju dalam membentuk lingkungan kerja yang holistik dan inspiratif.
Sumber: news.detik.com