LensaKapuas.com, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, baru-baru ini menyuarakan urgensi yang mendalam bagi seluruh pemimpin daerah di Indonesia. Ia menekankan bahwa kepekaan dan keterlibatan langsung kepala daerah di tengah masyarakat merupakan fondasi esensial untuk memahami kondisi riil serta dinamika perekonomian lokal. Seruan ini menggarisbawahi pentingnya kehadiran pemimpin di lapangan, bukan hanya mengandalkan laporan administratif.
Keterlibatan aktif para kepala daerah diharapkan mampu menyingkap data dan informasi faktual yang seringkali tidak terlihat dari meja kerja. Pemantauan langsung ke pasar, gudang, hingga sentra produksi menjadi krusial untuk mengidentifikasi potensi masalah sejak dini. Langkah proaktif semacam ini sangat vital dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas pokok bagi masyarakat.
Penekanan ini disampaikan Bima Arya saat menghadiri peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan (GPIP) Wilayah Jawa 2026. Acara strategis tersebut berlangsung di Gudang Perum Bulog, Sidoarjo, Jawa Timur, sebuah lokasi yang simbolis bagi upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Kehadiran Wamendagri di sana menegaskan komitmen pemerintah pusat terhadap sinergi lintas sektor dalam menanggulangi tantangan inflasi.
Menurut Bima, seorang pemimpin daerah harus memiliki insting tajam dalam memonitor setiap mata rantai distribusi. Ini mencakup pengawasan ketat terhadap jalur pengiriman barang, memastikan kelancaran logistik, serta mencegah praktik penimbunan yang dapat memicu kelangkaan. Selain itu, pengawasan terhadap rantai produksi dari hulu ke hilir juga tak kalah penting untuk menjamin pasokan yang berkelanjutan.
Pengecekan harga komoditas secara berkala di tingkat konsumen adalah langkah konkret lainnya yang harus rutin dilakukan. Dengan data harga yang akurat dan terkini, pemerintah daerah dapat segera mengantisipasi fluktuasi yang tidak wajar atau potensi gangguan pasokan yang bisa memicu gejolak inflasi. Kecepatan respons menjadi kunci dalam meredam dampak negatif terhadap daya beli masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, Bima Arya juga mengingatkan bahwa program swasembada pangan nasional tidak boleh dinomorduakan, meskipun kepala daerah dihadapkan pada tuntutan dan janji politik lokal. Komitmen terhadap visi ketahanan pangan jangka panjang harus tetap menjadi prioritas utama. Ini adalah investasi vital demi kemandirian pangan bangsa di masa depan.
Sinkronisasi yang kuat dan solid antara pemerintah pusat dan daerah menjadi prasyarat mutlak dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Krisis pangan, gangguan rantai pasok global, hingga perubahan iklim dapat berdampak langsung pada ketersediaan dan harga pangan di dalam negeri. Oleh karena itu, koordinasi yang efektif adalah benteng pertahanan utama.
Lebih lanjut, Bima menjelaskan bahwa upaya pengawasan dan pengendalian inflasi telah dijalankan secara konsisten melalui serangkaian rapat koordinasi rutin. Forum ini telah digelar secara berkala sejak 24 Oktober 2022, menjadi platform vital bagi pertukaran informasi dan perumusan kebijakan antara pusat dan daerah. Konsistensi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam isu inflasi.
Untuk mendorong partisipasi aktif daerah, pemerintah pusat juga menerapkan mekanisme insentif fiskal yang dikenal sebagai "stick and carrot." Sistem ini didasarkan pada penghargaan bagi daerah yang berhasil menjaga stabilitas harga, sekaligus evaluasi bagi yang kurang optimal. Harapannya, mekanisme ini dapat memotivasi pemerintah daerah untuk lebih giat dalam menjaga stabilitas harga di wilayahnya.
Pemerintah daerah juga diimbau untuk mengoptimalkan pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara maksimal. Secara khusus, alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) diharapkan dapat dimaksimalkan untuk mendukung berbagai langkah intervensi pasar. Penggunaan BTT yang tepat sasaran dapat menjadi alat efektif untuk menstabilkan harga saat terjadi gejolak.
Alokasi dana BTT dapat digunakan untuk operasi pasar, subsidi transportasi, atau pengadaan komoditas strategis guna mengisi kekurangan pasokan. "Kami mendorong agar kepala daerah juga memaksimalkan, memanfaatkan APBD-nya untuk program-program swasembada pangan," tegas Bima, menggarisbawahi pentingnya dukungan finansial lokal untuk inisiatif pangan nasional.
Pada kesempatan yang sama, Bima Arya turut menyampaikan apresiasi mendalam kepada Bank Indonesia (BI). Inisiatif Bank Sentral dalam pengendalian inflasi dinilai berhasil membangun integrasi sistem pangan yang komprehensif, mulai dari sektor hulu pertanian hingga hilir distribusi dan pasar. Kolaborasi antar lembaga menjadi kunci keberhasilan.
Integrasi sistem yang dibangun BI ini memberikan dampak positif dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan. Bima berharap gerakan serupa yang melibatkan berbagai pihak dapat terus diperluas dan diimplementasikan di berbagai wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Semangat kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain.
"Mudah-mudahan kita kawal bersama gerakan ini, mudah-mudahan tetap berlanjut di gerakan-gerakan di daerah lainnya dan Kemendagri siap untuk mengawal bersama-sama," tutup Bima Arya, menegaskan komitmen Kementerian Dalam Negeri untuk terus mendukung dan mengawal setiap upaya daerah dalam menjaga stabilitas pangan dan perekonomian nasional.
Sumber: news.detik.com